Ketidaksempurnaan



Setiap makhluk di Bumi ini memiliki ketidaksempurnaanya. Terlebih kami manusia. Bak tokoh wayang dalam Kitab Mahabharata maupun Ramayana. Setiap watak & sifat dewa sekali pun tidak ada yang sempurna. Lalu apakah esensi dari ketidaksempurnaan ini ? Ataukah dia hanya mengendap begitu saja dan meninggalkan keburukan di jiwa dan raga? Mengapa menerima ketidaksempurnaan dalam diri penting bagi kamu yang membaca?
Saya mencoba merefleksikannya dengan diri sendiri lewat beberapa babak.



BABAK I


Saya lahir dan dibesarkan di kota Surabaya, kota pahlawan yang terkenal dengan watak nya yang sangat keras. Sebelum saya sadar bahwa salah satu rasa Nasionalisme itu terletak pada bahasa, Bahasa Indonesia dengan dialeg khas Surabaya adalah bahasa ibu pada waktu kecil. Imbasnya, hingga sekarang saya kesusahan menggunakan Bahasa Krama Inggil bahkan Krama Alus. Kemampuan Bahasa Jawa yang kurang mumpuni tidak diimbangi dengan apapun yang menunjang untuk mengenal kesenian & kebudayaan tanah kelahiran. Hingga saya tumbuh menjadi anak lain pada umumnya walaupun semenjak kecil yang saya tahu adalah saya suka menggambar. Anehnya,  Tidak dari keluarga ayah maupun ibu rasa suka menggambar itu datang. Mungkin memang dari Kuasa Yang Menciptakan Hidup. Menggambar apapun yang saya rasakan, yang saya dengar, lihat dan sentuh. Pada saat itu saya masih belum paham betapa besar dan kaya kesenian & kebudayaan di tanah kelahiran. Ingatan masa kecil yang terekam jelas pun tidak banyak datang dari sana. Datang dari bagaimana keindahan gerak tari remo di perpisahan kakak kelas di Sekolah Dasar, lagu-lagu 90an yang di putar dari tape tante, kenyamanan disetiap guru kesenian mengajar kelas, warna crayon yang mencuci mata setelah pelajaran matematika, kebebasan diatas kertas buku gambar A4, acara tv di hari sabtu - minggu pagi, kerennya kostum di film-film horror yang dibintangi almarhum suzzana dan memori lainnya.




BABAK II


Ada kalanya pernah kecewa dengan warna kulit yang saya miliki. Karena selalu dibanding-bandingkan dengan saudara kandung, hingga beberapa saudara mencoba menawarkan pemutih  kulit. Sangat sering saya meluruskan rambut dengan obat-obat kimia di bantu ibu. Bahkan memangkas pendek rambut jika sudah panjang karena tidak suka melihat gelombang rambut yang ikal. Benar-benar tidak saya nikmati pemberian ini. Kurangnya informasi membuat saya tidak bisa menerima diri.  Menjadi kurang percaya diri dengan penampilan dan berakhir nestapa pada celaan. Terkadang saya terlalu peduli dengan celaan-celaan itu, padahal mereka tidak pernah peduli dengan saya. Sepanjang duduk di bangku sekolah tidak pernah bosan saya menerimanya, dengan kuping dan mata tertutup pun kadang saya masih bisa merasakannya.  Sasarannya beragam, mulai dari kawat gigi yang saya pakai hingga aksen bicara yang halus tidak seperti anak laki-laki jawa timur pada umumnya. Karena banyak yang mengira logat saya berasal dari jawa tengah dan sekitarnya. Tetap saya menganggap perbedaan itu sebagai tekanan bahwasannya andai saya sama seperti mereka pasti hidup saya jauh lebih ringan



BABAK III
Adalah keindahan


Hari ini saya memberikan cerita yang mungkin tidak pernah keluar dari mulut saya. Cerita masa lalu yang penuh dengan segala ketidaksempurnaan, penolakan atas jati diri sendiri, rasa benci dan dendam terhadap orang yang pernah sengaja dan tidak sengaja menyakiti perasaan. Ketika saya sadar bahwa ada ratusan manusia tergeletak kelaparan di pinggiran jalan negara Sudan Selatan, kaum muslim minoritas yang terampas hak asasi manusianya di beberapa negara Asia Tenggara, anak-anak yang tinggal di negara berkonflik yang tak berkesudahan, ketidakadilan di penjuru Negeri, penindasan dan ancaman bagi mereka yang lemah. Sungguh tidak seberapa dengan apa yang sudah menempa selama ini. Berkaca pada rentetan masalah yg pernah saya alami, mewakili lubuk hati yang paling dalam saya memaafkan mereka semua. Tidak akan saya biarkan bubuk dendam ini menjadi hal negatif di dalam tubuh, karena dengan begitu saya lebih mudah untuk mencapai tahap dimana dapat berdamai dengan diri sendiri. Penerimaan atas siapa diri saya tidak datang datang dengan begitu saja. Lewat seni saya menenggelamkan segala ketidaksempurnaan itu. Seni yang saya tahu hanyalah sebuah sub ilmu dalam mata pelajaran mendadak mengalir dalam nadi dan ternyata jiwa ini tidak bisa jauh jauh darinya. Terlambat saya sadar bahwa segala yang saya konsumsi, saya lihat, dengar dan rasakan berpusat pada satu. Satu tujuan hidup yang saya cari selama ini. Segala penafsiran tentang seni, kebebasan dan keindahannya selalu memberikan saya energi postif ditengah lingkaran negatif. Seperti bercermin di pagi hari lantas penerimaan itu tumbuh perlahan. Saya orang Jawa, yang sedang belajar menjadi Jawa. Jawa yang jauh dari kesempurnaan. Jauh dari kebangsawanan tata bahasa, jauh dari darah ningrat, jauh dari filosofis dan rumitnya adat istiadat. Saya akan tetap menjadi Jawa karena memang begini adanya. Lagian kenapa kita sibuk ingin menjadi orang lain?  seperti yang pernah saya utarakan di halaman perkenalan awal bahwa saya yakin hanya ada satu kita, diantara berjuta bahkan bermilyar orang lain diluar sana.



BABAK IV


Pada akhirnya, segala bentuk ketidaksempurnaan diri itu tetap ada. Sejatinya kita tidak bisa lolos darinya. Kenapa harus selalu memilih untuk menjadi negatif jika ada yang positif. Terimalah mereka layaknya tuan rumah yang sedang menerima tamu. Meleburlah dengan mereka. Pun mereka akan larut jauh di dasar palung. Terkunci di ruang hampa bersama dua ekor naga Antaboga yang mencengkram Serat Wedhatama.






Salam damai

Comments