Jelajah Sejarah Surabaya

Terhitung kurang lebih 22 tahun sudah saya besar dan tinggal di Surabaya (sebelum akhirnya saya pindah ke Jakarta). Namun baru kali ini menelusuri rekam jejak sejarah kota tempat dimana hari pahlawan ditetapkan. Penjelajahan saya lakukan dengan research kecil tentang lokasi, akses dan cerita sejarah kurang lebih beberapa minggu sebelumnya. Sengaja saya list beberapa lokasi kemudian dipilah dan dipilih yang menurut saya paling ikonik dari segi arsitektur maupun menarik dan unik untuk diceritakan lalu disimpan tulisannya dalam sosial media.

Selain dari pada itu tepat akhir bulan Mei kemarin di tahun 2019 ini Surabaya genap berusia 726 tahun. Tulisan ini saya dedikasikan teruntuk kota tercinta yang sudah banyak memberikan macam-macam bumbunya hingga saya memutuskan beranjak ke kota lain di pulau Jawa ini. 

Itenerary dibuat urut sesuai denah lokasi yang saya bagi menjadi 3 hari penuh, sebagai berikut :

Hari pertama. (Sabtu, 8 juni 2019)
1. Hotel majapahit
2. Jalan Tunjungan

Hari kedua. (Rabu, 12 juni 2019)
1. House of Sampoerna
2. Penjara Kalisosok
3. De Javasche Bank
4. Jembatan Merah & sekitarnya
5. Jalan Panggung
6. Masjid Ampel

Hari ketiga, (Sabtu, 15 juni 2019)
1. Museum Dr. Soetomo
2. Monumen Tugu Pahlawan
3. Kadipaten Surabaya
4. Museum HOS Cokroaminoto
5. Museum Surabaya
6. Museum W.R. Soepratman

Awalnya Hotel Majapahit dan Jl. Tunjungan berada di salah satu daftar itinerary yang sebelumnya hanya 2 hari. Berhubung memutuskan menginap 3 hari dua malam di Hotel, jadi 2 destinasi tersebut diletakkan di daftar pertama. Yang mau melancong ke Surabaya sesuai itinerary yang saya buat juga monggo.....

Sengaja saya selipkan beberapa cerita sejarah, fakta yang saya temukan di lapangan dan buah pemikiran beserta kritik dari beberapa tempat yang saya kunjungi dapat ditemukan di "OPINI SAYA" untuk membuka ruang berpikir dan berdiskusi.

Yang bilang Surabaya panas mana suaranya???? 
Saya sih juga bilang Surabaya panas, munafik kalo bilang Surabaya bersalju. kalo panas ya bawalah alat untuk melindungi diri dari panas gak usah dijabarkan ya kan udah pada pinter asek.

Yang bilang macet ada juga kan??? 
Ya namanya juga kota ke dua terbesar di Indonesia setelah Jakarta. 

Aman gak sih, banyak jambret gak sih?? 
Dimanapun di belahan bumi ini, jika jambreters dikasih kesempatan ya pasti mereka akan beraksi tinggal tunggu waktu, solusinya kesempatan jangan dilelang ke mereka dong kalo begitu. 

Jadi, sekarang Surabaya itu gimana? 
Monggo singgah ke Surabaya yoook. Dicicipi kulinernya, dicoba sendiri panasnya dan suasana kotanya.
Mari kita mulai cerita perjalanan di Surabaya
yuk monggo....


 Hotel Majapahit

Sabtu, 8 juni 2019    
14.00 Hari Sabtu tanggal 8 Juni adalah hari pertama menginap di Hotel bersejarah ini. Sudah tidak diragukan lagi bahwa bangunan ikonik ini meyimpan banyak sekali rekam jejak sejarah kolonialisme pada masa itu. Menurut tulisan yang terpajang di hotel dan sumber dari situsbudaya.id menjelaskan bahwa peletakan batu pertama bangunan ini pada tahun 1910 tepatnya tanggal 1 juni oleh Eugene Lucas Sarkies. Seorang anak pebisnis asal iran, Lucas Martin Sarkies. Oranje adalah nama pertama hotel pada saat diresmikan yang terinspirasi dari nama seorang pangeran Belanda yaitu Willem Van Oranje (1533 - 1584). 

Menurut sumber dari Tribunjatim.com menyatakan bahwa ada pergantian nama hotel sebanyak 7 kali, yaitu :

1. Oranje nama pada awal berdirinya hotel

2. Pada tahun 1942, hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Yamato karena diambil alih oleh Jepang. Bangunan ini pun menjadi markas besar Jepang yang ada di Jawa Timur.

3. Pada tahun 1945 setelah perang dunia ke-2, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka. Hal ini karena adanya peristiwa bersejarah di sana yaitu perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo menjadi bendera merah putih.

4. Setahun setelah berganti nama menjadi Hotel Merdeka, Sarkies bersaudara mengelola hotel tersebut dan di tahun 1946 namanya diganti menjadi Hotel L.M.S. Nama tersebut merupakan singkatan dari Lucas Martin Sarkies, pendiri Hotel Oranje.

5. Tahun 1969, Mantrust Holdings Co menjadi pemilik baru dari hotel yang diberi nama Majapahit tersebut.

6. Tahun 1996, hotel ini diluncurkan kembali di bawah bendera Mandarin dan namanya diganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit.

7. Selang 10 tahun berlalu, CCM Group, perusahaan korporasi terkemuka di Indonesia mengambil alih Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Mereka juga mengembalikan namanya menjadi Hotel Majapahit hingga seperti sekarang yang kita kenal. 

Dari sekian panjangnya perjalanan berganti nama, pada tahun 1945 adalah yang membuat hotel ini berbeda dengan hotel lainnya. Sesuai dengan nama hotel ada salah satu kamar di hotel yang sekarang dinamakan kamar Merdeka dengan nomor 33 karena mempunyai cerita tersendiri. Menurut sumber yang ditulis oleh Rahmat Hadi (www.kompasiana.com) menyebutkan bahwa kamar hotel itu pernah dijadikan pusat komando tentara Belanda dan dilengkapi pintu darurat menuju ke perkampungan. Di kamar yang sama, tokoh arek Suroboyo, Roeslan Abdul Gani meminta penjelasan mengapa  bendera Belanda berkibar di hotel tersebut. Puncaknya, aksi heroik perobekan bendera Belanda terjadi. Roeslan Abdul Gani yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri dan Duta Besar untuk PBB adalah saksi hidup peristiwa bersejarah tersebut. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno per tanggal 1 September 1945 mengeluarkan maklumat bahwa bendera merah putih adalah bendera resmi negeri tercinta ini dan harus dikibarkan di seluruh wilayah kesatuan Republik Indonesia. Namun di tanggal 19 September 1945 tepatnya jam 9 malam, sekelompok tentara sekutu di bawah pimpinan  W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda berwarna merah putih biru di tiang tertinggi Hotel Yamato, tepatnya di sisi sebelah utara. Keesokan harinya ribuan Rakyat Surabaya yang mengetahui hal itu beramai-ramai memadati Jalan Tunjungan dan berkumpul di depan hotel. Residen Kota Surabaya bernama Sudirman masuk ke dalam hotel setelah menembus barikade massa dikawal oleh Sidik dan Hariyono. Tujuannya tak lain adalah untuk meminta Ploegman menurunkan bendera merah putih biru dari puncak hotel. Permintaan itu ditolak Ploegman yang malah mengeluarkan pistol bermaksud mengancam dan menunjukkan kekuasaannya. Suasana perundingan berlangsung alot dan memanas karena Ploegman tetap bersikukuh untuk tidak menurunkan bendera Belanda. Sidik yang saat itu ikut berunding lalu terlibat perkelahian lalu mencekik Ploegman hingga tewas. Sidik sendiri tewas akibat berondongan peluru dari senjata tentara Belanda yang mendengar letusan pistol Ploegman dari luar ruang pertemuan. Sudirman dan Hariyono berlari keluar hotel bergabung bersama ribuan rakyat Surabaya yang sudah mengepung Hotel Yamato. Rakyat Surabaya yang mengetahui bahwa permintaan mereka ditolak malah semakin terbakar jiwa patriotismenya. Semangat pantang menyerah yang menjadi senjata andalan Arek Suroboyo kembali bergelora. Hariyono yang tadinya ikut perundingan kembali ke dalam hotel ditemani Kusno Wibowo, Mereka berdua menyusuri lorong-lorong yang ada di dalam hotel dan naik ke lantai 2.  Mereka lalu memanjat tangga menuju ke tiang dimana bendera Belanda berkibar. Dengan semangat dan jiwa patriotisme, mereka menurunkan bendera merah putih biru kemudian merobek warna birunya lalu kembali menaikkan bendera merah putih yang kembali berkibar dengan gagahnya. Teriakan “Merdeka” pun menggema di langit Kota Surabaya demi mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme warga Kota Surabaya yang dengan penuh semangat membalas teriakan “merdeka!”. 

 Beberapa Fakta yang saya temukan :
1. Ada peletakan tegel terbalik di salah satu sudut di area cafetaria depan Balai Adika. Sengaja dibiarkan untuk mempertahankan keaslian bangunan. Sepertinya pemasangan tegel tergesa-gesa dan tidak di lakukan final check. Justru disinilah keunikannya.



2. Beberapa kursi di area cafetaria adalah asli!. Masih terukir jelas lambang huruf H dan O yang di satukan yang berarti kepanjangan dari Hotel Oranje pada bagian sandaran kursi.



4. Foto asli penampakan area cafetaria dulu dan perbandingannya dengan sekarang.

Dulu ( foto koleksi Hotel )

Sekarang

5. Foto bangunan asli bagian depan Hotel dan perbandingannya dengan sekarang.

Dulu, sebelum penambahan bangunan di lobby depan .

Sekarang, dengan penambahan bangunan di lobby depan dan samping kanan dan kiri.


6. Kamar merdeka yang bersejarah itu, saking bersejarahnya saya lupa untuk foto dan ini adalah hasil jepretan si adik yang entah apa esensinya cuman foto pintu hahahaha.



7. Depan pintu masuk presidential suit yang pernah di diinapi oleh Charli chaplin



8. Ada 4 restaurant yang berbeda di dalam Hotel Majapahit. Ada Indigo (Western), Sarkies (Asian), The Maj(Pub) dan satu Restaurant berbeda yang biasa dipakai untuk breakfast.

9. Jika ada rumor yang beredar diluar bahwa Hotel itu berhantu, silahkan di coba sendiri :)

Kumpulan foto jelajah hotel :

Bang Jo setelah semalaman begadang nonton bola

Presidential Suit



Bangunan asli balai Adika yang sudah di renovasi dengan tambahan selasar di bagian depan



area yang legendaris itu

Meneer Ardyan sedang inspeksi kebersihan taman




Meneer kelelahan, sedang menunggu es kelapa muda







Meneer dipanggil mevrouw disuruh beli buah di warung sebelah

Suasana di dalam Balai Adika, tempat berdansa Meneer & Mevrouw kala itu





Anak anak gang sebelah lagi main bareng

Millennials bagian 1

Millennials bagian 2



Dalam pose "dimanakah tukang kebunku ?"


Lucas Martin Sarkies dan istri

Sarkies bersaudara

Suasana di Restaurant Sarkies

Dari balkon sarkies



family dinner



Sebuah lukisan di lobby 







Malam itu sempat jalan kaki sampai ke Grahadi 







Sungguh bangunan itu adalah saksi bagaimana panjangnya perjalanan mencari keadilan, kebebasan dan pengorbanan sebagai wujud menjunjung tinggi rasa cinta tanah air tidak kurang tidak lebih. Saya sampai heran rasa cinta yang begitu tulus luar biasa hingga bertumpah darah. Bagaimana bentuknya perasaaan itu? Tidak terbayangkan. Semangat apa yang merasuki jiwa arek-arek surabaya kala itu?. Apakah negara memberikan mereka jaminan? Apakah mereka dibayar untuk merobek bendera kala itu? Tidak. Malam ini lorong-lorong hotel yang klasik dengan gaya desain art deco yang sangat historikal mengajak saya memasuki kelamnya peristiwa itu. Saya melarutkan diri disana dan perasaan ini makin campur aduk. Doaku untuk Cak Roeslan & Arek-arek Suroboyo yang bertumpah darah memperjuangkan hak kita sebagai Bangsa Indonesia seutuhnya, semoga dilapangkan kuburnya dan menerima balasan yang terbaik dari yang Menciptakan Hidup. Amin.


 Jalan Tunjungan

Minggu, 9 juni 2019
12.00 "Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan...." sekitar jam 12 malam saya kaget dan ngakak cuy di pinggiran trotoar sambil rekam si tante yang minta direkam mau nyebrang. Itu lagu kencang pol setelah kita menekan tombol lampu merah untuk pejalan kaki. Kita gak nyangka akan ada lagu itu. Kemarin paginya padahal juga ke jalan tunjungan tapi saya main nyebrang aja gak pakai tekan tombol soalnya jalanan sepi. Jl Tunjungan ini tepat disekitar hotel, biasanya kalau weekend dibuat event Car Free Day. Tapi sayangnya berhubung masih dalam suasana lebaran jadi pagi itu tidak ada Car Free Day. Tak kenal  waktu dari pagi-siang-sore-malam ada saja orang mulai dari berbagai komunitas maupun perorangan dari berbagai umur tidak tinggal diam di pinggir trotoar selalu mengambil gambar. Trotoar yang luas untuk pejalan kaki, lampu jalan di kanan dan kiri ditemani bangunan bangunan lawas yang sengaja dibiarkan membuat saya pangling dengan kota sendiri. Bu Risma ( Walikota Surabaya ) kayaknya jangan jauh jauh sama Surabaya ya Bu, hasilnya nyata pol!

Kumpulan foto jelajah Jalan Tunjungan :

memasuki sebuah gang di Jalan Tunjungan



















Senin, 10 juni 2019
10.00 Kita sarapan bubur ayam di Jl. Genteng dilanjut beli oleh-oleh di sekitar sana karena memang pusatnya cuy. Pilihan berhenti di toko oleh-oleh Bogajaya.





House of Sampoerna

Rabu, 12 Juni 2019
11.45 Saya ditemani adik memulai rute Jelajah Surabaya yang saya buat sebelumnya. Terik matahari 32 derajat celcius tidak mempan untuk menyuruh kita hanya berdiam di rumah. Kalo di bilang bonek ya enggak juga karena sudah ada persiapan di hari-hari sebelumnya, sempat ganti hari bahkan karena bentrok dengan jadwalnya si adik. Jadi dulu sewaktu SMA pernah ke HOS tapi tidak sampai masuk ke museum utama karena belum 17 tahun. Nah sekarang saatnya membalas apa yang harus dibalaskan hahahaaa. 

"Sejarah industri rokok Sampoerna tak bisa lepas dari sosok Liem Seeng Tee (1893-1956), pendiri industri rokok Sampoerna. Ia adalah seorang imigran dari sebuah keluarga miskin di provinsi Fujian-Cina. Pada 1898 tidak lama setelah ibunya meninggal, Liem Seeng Tee bersama ayah dan seorang kakak perempuannya datang ke Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sesampai di Indonesia, karena keadaannya yang miskin, Liem harus berpisah dengan saudara perempuannya karena diadopsi oleh sebuah keluarga di Singapura. Tidak berapa lama, ayahnya pun kemudian meninggal. Hal ini membuat Liem Seeng Tee pada usia 5 tahun harus hidup mandiri di negeri yang masih asing baginya.Pada perjalanan hidupnya, Liem diangkat sebagai anak oleh sebuah keluarga di Bojonegoro, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Dalam kehidupan dengan keluarga barunya itu, pada usia 17 tahun, ia mulai belajar meracik tembakau yang kemudian dijualnya secara asongan di stasiun kereta api dan gerbong-gerbong kereta api.Pada 1912, Liem menikah dengan Siem Tjiang Nio. Mereka kemudian menyewa sebuah warung kecil di daerah Tjantian di Surabaya untuk menjual berbagai bahan pokok, buah-buahan, dan tembakau. Selain di warungnya, Liem juga menjual tembakau dengan menggunakan sepeda ontel menyusuri jalan-jalan di Surabaya.Dengan perjuangan dan kerja keras Liem itulah perusahaan rokok Sampoerna dimulai dan selanjutnya berkembang pesat. Pada 1913, Liem mendirikan perusahaan tembakau dan rokok bernama Handel Maastchapij Liem Seeng Tee yang kemudian berganti menjadi N V Handel Maastchapij Liem Seeng Tee. Setelah Perang Dunia II berakhir nama perusahaan itu berganti menjadi PT HM Sampoerna. Nama HM dari Hanjaya Mandala Sampoerna itu adalah nama Indonesia dari Liem Seeng Tee".  (Ditulis oleh Liputan6 pada 05 Sep 2013, 10:02 WIB)


Jadi dulunya kompleks HOS adalah bangunan milik kolonial Belanda yang digunakan sebagai tempat  Panti asuhan dan dikelola oleh pihak Belanda yang dibangun tahun 1858. Kemudian tahun 1932 dibeli oleh Liem Seeng Tee. Kompleks ini unik menurut saya karena jadi satu dengan tempat produksi massal rokok dan tempat tinggal pemilik beserta keluarga.  Tempat tinggal di bagian kanan dan kiri sedangkan bangunan bagian tengah adalah  tempat produksi rokok. Kenapa begitu? karena pemilik ingin langsung mengawasi langsung jalannya proses produksi agar efisien dan efektif sembari memberi contoh dan mengajari anak-anaknya untuk berbisnis.  Ada beberapa yang menjadi daya tarik tersendiri disini logo dari perusahaan mengandung arti yang sangat filosofis sesuai dengan kultur negara tirai bambu yang berakulturasi dengan budaya Jawa. 

Bertebaran simbol jari menunjuk di dinding

Dari balik lambang perusahaan ada makna filosofis yang dalam.

Sesuai penjelasan Guide bahwa pada logo terdapat Simbol 9 bintang yang artinya 9 langkah mencapai kesuksesan disamping itu 9 adalah angka keberuntungan pendiri. Singa simbol keseimbangan, kiri singa wanita beserta anaknya yang berarti kesuburan hingga anak cucu , sebelah kanan singa jantan yang memegang globe yang artinya pria berbisnis hingga menguasai dunia. Anggarda Paramita adalah bahasa sansekerta yang artinya menuju kesempurnaan. 1913 adalah tahun berdiri perusahaan. Dibagian tengah ada simbol tangan yang distilasi menjadi garis putih yang menunjuk ke tiga arah yang mengartikan keselarasan antara produsen, konsumen dan distributor. Simbol tangan adalah awal dimana kita penasaran dan bertanya pada guide karena simbol itu bertebaran di dinding bangunan.

Kumpulan foto jelajah Museum :

Liem Seeng Tee dan Istri

Proses produksi rokok kretek secara tradisional













Dalam pose "panase potato-potato"

Tempat tinggal pemilik kala itu, keterangan dibawah ini


Oleh-oleh

Kebetulan di galeri Paviliun HOS ada pameran lukisan cat air yang bertajuk "BANYUMILI" dari 14 seniman lokal. Pameran dibuat dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 726. Sesuai dengan tema, seniman yang ikut serta dalam pameran dibebaskan berekspresi layaknya seperti air.






Terkahir, di bagian kanan bangunan dibuat sebuah cafe yang di kelola oleh tanamera coffe.







Pengalaman tersendiri dapat melihat seisi museum untuk mengetahui sejarah bangunan dan seisinya. jika berminat dapat mencoba tur surabaya heritage track yang semuanya adalah free. Liburan sembari belajar sejarah tidak harus mahal dan tidak ada alasan karena itu. Monggo ceki ceki di houseofsampoerna.museum

OPINI SAYA :
Walaupun sebelumnya saya sudah tahu bahwa di HOS menawarkan tur keliling kota gratis dengan bus nya, tapi saya memilih dengan cara saya sendiri karena dengan jadwal yang padat, lebih efisien waktu dan kita bertanggung jawab penuh atas waktu yang kita miliki tanpa bergantung banyak orang dalam satu rombongan tur. Kalau kamu bagaimana? 
Menurut saya pemandu harusnya tersebar di seluruh bagian museum untuk mempermudah kita yang ingin menanyakan sesuatu. Jangan seperti berkumpul di bagian depan museum. Karena beberapa kali saya dan si adik bolak balik untuk bertanya karena tidak menemukan jawaban dari otak saya dan informasi yang saya baca di museum hehe.


Penjara Kalisosok


13.30 Tak jauh dari HOS kita sampai di penjara yang  sayangnya saya tidak menemukan akses untuk masuk ke dalam. Tapi waktu sampai rumah dipikir-pikir dalam hati langsung berkata....... "untung juga ya gak nemu" Karena bangunan luarnya sudah lama tak terurus jadi bisa dibayangkan dalamnya seperti apa. Seperti pada bangunan-bangunan kuno cagar budaya lain, ada plakat emas yang menandai bahwa bangunan dilindungi oleh pemerintah. 

"Tempat bernama Penjara Kalisosok ini diketahui dibangun saat masa kepemimpinan Herman Williem Daendels yang saat itu menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda ke-36. Penjara Kalisosok dibangun pada 1 September 1808 dan menghabiskan biaya sebesar 800 gulden. Penjara ini berada di kawasan Surabaya Utara, tepatnya di Jl. Kasuari No.5 Krembangan. Hampir semua pejuang kemerdekaan Indonesia pernah merasakan kejamnya penjara tersebut. utamanya di masa 1940 hingga 1943, saat masa pendudukan Jepang.
Penjara ini memang kerap disebut sebagai tempat yang paling ditakuti para narapidana lantaran tempatnya yang sempit, gelap, dan pengap. Satu ruangan di sana hanya berkapasitas 20 orang, namun dipaksa agar mampu ditempati 90 orang.
Dinding antar biliknya pun dibuat sangat tebal, sampai paku saja tidak bisa ditancapkan.
Dulunya, diketahui bahwa penjara bawah tanah ini juga digunakan sebagai tempat penyiksaan. Tak heran hingga saat ini, konon katanya, masyarakat sekitar masih sering mendengar suara teriakan minta tolong di area tersebut. 
Selain Soekarno, ada pula tokoh Muhammadiyah yakni Kiai Haji Mas Mansur yang disebut pernah masuk dan mendekam di penjara ini. Kebanyakan orang-orang yang masuk ke Penjara Kalisosok ialah mereka yang dianggap mengancam juga memprovokasi masyarakat agar semakin benci dengan para penjajah.
Bahkan banyak pejuang yang menghembuskan nafas terakhirnya di sana, akibat kerasnya penyiksaan yang dilakukan para penjajah. Tokoh Marhaenis, anti-fasis, dan PKI juga tak luput dari pengapnya udara Kalisosok yang legendaris ini." 

(Ditulis oleh : Aninditya Ardhana Riswari,  https://www.goodnewsfromindonesia.id/u/anindityaar_1997 )


Kumpulan foto jelajah Penjara :





Foto Penjara Kalisosok sekitar tahun 1930, foto koleksi Museum De Javanesche Bank

OPINI SAYA :
Jika memang benar dilindungi oleh PEMKOT menurut saya harusnya lebih baik dari yang saya lihat sekarang. Tahun 2014 ada artikel berita online yang menjelaskan bahwa Bu Risma akan membuat Penjara Kalisosok menjadi museum dan sentra UKM. Dapat di baca disini : Artikel Kompas 
Terlepas dari sampai dimana progres dari gagasan beliau, pencaritahuan saya di internet menemukan fakta bahwa Penjara Kalisosok di pakai sebagai kos-kosan !! Sangat mengejutkan memang. 
Bisa dibaca di link disini : Artikel jawapos


De Javasche Bank


13.50 Dari kejauhan nampak bangunan dengan cat putih dan gaya arsitektur yang sangat khas. Dari situ pun saya yakin itu gedung De Javasche Bank yang sekarang di jadikan museum, lebih yakin lagi tiba-tiba saya lihat di samping bangunan ada tulisan De Javasche Bank hehehe.





Beberapa Fakta yang saya temukan :
1. Memasuki gedung kita harus dari samping untuk lanjut ke ruangan pertama yaitu lantai dasar dimana terdapat brankas  yang dilengkapi dengan cctv dengan prinsip sederhana. Maksudnya adalah dengan menggunakan sistem dari refleksi kaca. Kaca datar yang terpasang di sudut-sudut lorong memantulkan refleksi dari teller yang bekerja di brankas, refleksinya dapat dilihat dari luar lorong oleh pengawas. Selain itu ada koleksi mata uang yang sempat di keluarkan di masa pendudukan Belanda dan beberapa alat press.


sistem CCTV kuno


Andaikan asli




2. Lantai kedua adalah yang paling saya sukai. Dimana arsitek Belanda benar-benar memanfaatkan cahaya sebagai penerangan alami tanpa cahaya lampu, terlihat bagaimana Belanda sangat detail masalah arsitektur. Sebagian besar koleksi yang saya lihat disana masih asli. Sekat besi pemisah antara customer yang ingin bertransaksi pun masih dibiarkan asli.









3. Lantai tiga adalah koridor di bagian atap. Sepertinya ini bisa dibuat uji nyali kalau malam, haha. Tidak ada yang menarik perhatian saya sebelum menuruni anak tangga baru saya membaca tulisan yang di tempel di bagian dinding, dilarang naik ke lantai tiga karena banyak kabel. Wassalam baru baca langsung saya panggil adik yang malah makin jauh dari tangga entah apa yang dia ingin lihat di ujung. Berhubung saya dan adik baru ngeh jadi langsung buru-buru turun. Setidaknya tulisan larangan di taruh di depan tangga menuju ke atas lantai tiga agar dapat di baca sebelum naik ke atas. Untung saja tidak ada denda uang atau penjara mungkin kalau di Musee De Louvre di Paris kita sudah di sidang sama polisi setempat hahahaa.



Menurut informasi yang tertera di museum tentang sejarah De Javasche Bank (DJB) bisa di baca di bawah ini : 


Jembatan Merah & sekitarnya

Ciptaan : Gesang

Jembatan Merah sungguh gagah


Berpagar gedung indah


Sepanjang hari yang melintasi


Silih berganti



Mengenang susah hati patah


Ingat jaman berpisah


Kekasih pergi sehingga kini


Belum kembali



Biar Jembatan Merah


Andainya patah akupu  bersumpah


Akan kunanti dia di sini


Bertemu lagi




15.00 Keroncong klasik yang menggambarkan romansa kala itu dengan jembatan merah sebagai latarnya. Sangat mengobsesi saya bagaimana keeksotisan nada keroncong yang dimainkan berpadu dengan nuansa tempo dulu. Baru kali ini saya menyusuri jembatan merah dari ujung sampai ujung. Saya malu, apalagi sebagai orang Surabaya yang tinggal dan lahir disini. Kemarin-kemarin saya kemana aja ya? Itu yang ada di dalam benak saya sampai sekarang. Tapi yasudahlah mari kita lanjutkan. Jika dilihat dari kejauhan sebenarnya tidak ada yang istimewa sampai kita mengerti bahwa jembatan ini adalah saksi bisu pertumpahan darah yang tertulis di berbagai cerita sejarah di masa lampau. Jembatan merah adalah pembatas antara daerah residensial kolonial Hindia Belanda dengan daerah pendatang, pribumi, pedagang yaitu di kampung arab sekitar Ampel, Jl Panggung dan pecinan Kya Kya Kembang Jepun.





Gedung Internatio, dulunya sebagai pusat komando tentara sekutu


Jembatan yang tersohor itu, tercatat di berbagai bukti sejarah sebagai saksi bisu


Gedung Cerutu, salah satu yang ikonik. keterangan dibawah ini



OPINI SAYA :
Andaikan di sore menjelang malam ada grup musik memainkan musik-musik keroncong klasik dan gedung gedung kuno di fungsikan sebagai cafe ditunjang oleh trotoar yang  memadai seperti yang saya rasakan sekarang. Saya yakin sekitar jembatan merah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Surabaya. 


Jalan Panggung 

15.27 Disinilah tempat dimana bangunan-Bangunan kuno berkumpul. Mulai dari yang kental dengan arsitektur cina, berpadu dengan arab dan bersebelahan dengan gaya bangunan eropa.  Perkampungan pedagang dengan berbagai adat dan budaya yang melebur menjadi satu. Menelusui Jl. Panggung membuat leher sakit. Solusinya harus berhenti dari kendaraan. Jika tidak saking banyaknya kita bisa kebingungan melihat kanan terlebih dahulu atau kiri karena setiap bangunan memiliki keunikannya masing masing.

Ada yang berbeda di sekitar Jl. Panggung menuju pasar Pabean di banding Jalan yang lain. Bangunan kuno di Jl. Panggung sengaja di cat warna-warni untuk menarik wisatawan.  Tak hanya itu, paving dan trotoar pun sepertinya baru di tambahkan untuk mempercantik penampilan agar nampak kekinian dari Jl. Panggung yang terkesan lawas karena bangunan bangunannya.  Lagi - lagi saya salut dengan Bu Risma. Walaupun sepertinya baru di kerjakan, tapi Bu Risma paham benar wilayah mana yang unik yang dapat menarik wisatawan nanti kedepannya. Sekejap terlintas konsep Little India di Singapore yang menurut saya menjadi garis besar dari area ini. Masih banyak area yang belum di cat warna-warni. Jika memang akan di revitalisasi seperti itu, Surabaya sudah jelas akan bertambah daftar spot tempat unik yang wajib di kunjungi untuk menambah stok foto di sosial media.

Kumpulan foto jelajah Jalan. Panggung :




Si adik dan motornya, partner jelajah kali ini.








Menara Syahbandar yang terkenal itu







OPINI SAYA :
Dalam hati kecil saya berkata sayang. Sayang karena  kadar keotentikan bangunan menjadi berkurang jika benar konsep seperti Little India yang di usung untuk mempercantik Jalan. Tapi di sisi lain kita harus mengikuti perubahan. Dengan langkah yang lebih visioner tanpa merusak struktur asli bangunan yang mana hanya merubah warna agar lebih meriah saya rasa sah sah saja. Sangat sah bahkan karena untuk menarik minat wisatawan harus mengobah pola pikir yang seperti itu. Saya sih sudah tidak sabar menunggu upload dari instagramers dan para influencer hitz  dengan tag lokasi di Jl. Panggung.


Masjid Ampel

16.15 Bukan pertama kalinya saya pergi ke Masjid Ampel. Semasa SMA sering sekali pihak sekolah mengadakan sholat dan doa bersama di Masjid Ampel. Parkir yang menurut saya paling aman adalah lewat pintu belakang. Tempatnya bukan di pinggir jalan layaknya di bagian depan akses masuk menuju Masjid tapi terdapat tempat parkir yang layak dan cukup luas untuk diisi motor dan mobil jadi hati tidak begitu resah dan was was meninggalkan motor di parkiran. Setelah muter muter karena lupa lupa ingat tempat parkirnya akhirnya kita menemukannya berkat google maps. Karena jalannya berubah menjadi satu akses jadi saya agak nge-blank.

Ada beberapa fakta yang saya temukan :
1. Himbauan (untuk turis asing) yang menyatakan bahwa harus memakai pakaian yang sopan dan tertutup harus di taruh di depan pintu masuk. Kalau di dalam area masjid sepertinya dibaca pun sudah terlambat. Saya melihat ada beberapa turis wanita yang berpakaian minim berkeliaran di sekitar masjid entah sudah atau belum ada yang menegur dari pihak pengawas.
2. Papan informasi yang menyatakan bahwa masjid sudah melalui beberpa kali tahap renovasi :



"Masjid Ampel adalah yang tertua ke tiga di Indonesia. Didirikan oleh Raden Achmad Rachmatullah pada tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno, dengan nuansa Arab yang kental. Raden Achmad Rachmatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid. Masjid dan makam Sunan Ampel merupakan bangunan tua bersejarah yang masih terpelihara dengan baik. Struktur bangunan dengan tiang-tiang penyangga berukuran besar dan tinggi terbuat dari kayu, juga arsitektur langit-langit yang kokoh memperlihatkan kekuatan bangunan ini melintasi zaman. Masjid ini menjadi tujuan wisata dan ziarah yang tak pernah sepi dari pengunjung."
( Ditulis oleh Resa Revano, www.neraca.co.id)
Kumpulan foto jelajah kawasan Masjid Ampel :






















Mentol sek (beli pentol dulu)



OPINI SAYA :
Tidak saya temukan sesuatu yang informatif seperti cerita sejarah dan hal lain yang berkaitan. Setidaknya ada sebuah papan informasi untuk menjelaskan bangunan yang bersejarah ini sehingga informasi yang di dapat tidak simpang siur. Papan informasi tentang renovasi bangunan harusnya di perbarui lagi karena sudah tidak layak.


Museum Dr. Soetomo & Panjebar Semangat


Sabtu, 15 juni 2019
12.19 Sampai di Gedung Nasional Indonesia ( GNI ). Menurut informasi yang saya peroleh dari beberapa arsip yang di pamerkan bahwa gedung ini di bangun pada zaman kolonial Belanda atas inisiatif Dr. Soetomo dan menjadi pusat pergerakan nasional.
Masih dalam satu komplek gedung, di bagian belakang terdapat makam Almarhum Dr. Soetomo. Pada bagian samping ada sebuah bangunan yang dulunya bekas pusat lembaga kesehatan yang sekarang di bangun menjadi Museum Dr. Soetomo. Baru diresmikan pada hari Rabu, 29 November 2017.
Dibagian belakang sebenernya saya sudah penasaran karena waktu kita parkir kendaraan saya sekilas membaca tulisan "Panjebar Semangat". Walhasil setelah museum sudah kita jelajahi barulah kita ke bergegas ke sana melewati Jl Gedung Nasional Indonesia. Sesuai arahan mbak Kiki bahwa gedung itu ditutup karena weekend libur. Jadinya saya hanya bisa mengabadikannya dari depan gedung. Informasi dari mbak Kiki juga bahwa hingga sekarang majalah Panjebar Semangat masih beroperasi dan di dalam gedung terdapat mesin cetak serta kantor editor dan redaksi.  Sangat unik bagaimana di tengah zaman yang serba internet masih ada sebuah majalah yang berbahasakan bahasa jawa dari halaman pertama hingga akhir. Yang membuat saya kagum adalah bagaimana majalah ini sangat laris di Negara Suriname.

Kumpulan foto jelajah Museum Dr.Soetomo & kantor majalah Panjebar Semangat :











kursi di teras yang dijadikan koleksi museum 












bukti bahwa bangunan museum dulunya pernah di bom oleh tentara sekutu, sengaja dibiarkan sebagai bukti sejarah. Pada bagian samping terdapat bongkahan batu bata akibat reruntuhan gedung museum.




OPINI SAYA :
Menurut saya, jika dibandingkan ke beberapa museum yang pernah saya datangi di Surabaya sebelumnya. Guide di Museum Dr.Soetomo adalah yang terbaik. Bagaimana bisa? apakah karena saya yang memintanya untuk di jelaskan detail?. Tentu tidak. Dari awal datang kita sudah di sambut dengan ramah dan guide menemani sepanjang berkeliling museum serta sangat informatif. Saya dan adik sangat merasakan bagaimana kita sebagai tamu yang berkunjung ke museum bak singgah kerumah kerabat dekat. Terima kasih untuk mbak Kiki yang menemani kita yang penasaran ini dengan seluk beluk museum. 


Monumen Tugu Pahlawan


13.20 Sejarah mencatat bahwa disinilah salah satu titik pusat aktivitas sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Sebagai Arek Suroboyo, seperti yang di teriakkan bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api, kita juga berapi-api tak gentar melawan panasnya Surabaya yang menyengat. Perjuangan macam apa ini? Sungguh tak sebanding. Berhubung niat kita jauh lebih besar untuk menggali informasi di museum bawah tanah jadi bergegaslah kita menuju kesana.

Monumen Tugu Pahlawan memiliki ketinggian 45 yard (40,50 meter) dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia.

menurut informasi yang saya dapatkan dari museum bahwa dulunya, di area tugu pahlwan berdiri sebuah gedung pengadilan bernama Raad Van Justite. Saat pemerintah Belanda menyerah kepada kekuasaan Jepang, gedung ini dijadikan markas Kenpetai atau Polisi Militer Jepang pada 1 Oktober 1945. Di markas inilah beberapa pejuang Indonesia yang dianggap menentang Jepang pada masanya, disiksa dan dibunuh. Karena kebengisan inilah maka gedung ini oleh arek-arek Suroboyo dijuluki Gedung Setan. Gedung ini sempat hancur akibat terkena tembakan artileri sekutu.

foto suasana gedung Rad Van Justite pada perayaan HUT Ratu Wilhelmina tanggal 31 Agustus 1935. Ada acara karnaval dan pawai yang disaksikan rakyat yang memenuhi sepanjang jalan ( sumber : rajaagam.files.wordpress.com )


Kumpulan foto jelajah Tugu Pahlawan :








beberapa foto dibawah ini, Ketapel dan Keris sebagai alat melawan penjajah, bisa dibayangkan sendiri bagaimana tak sebandingnya kita dengan bombardir sekutu dengan senapan, meriam, tank dan berbagai serangan lewat darat laut dan udara.










Kadipaten Surabaya

     14.28 Saya pun baru tahu beberapa minggu sebelum penjelajahan ini, jika dulunya Surabaya pernah berbentuk keraton yang diperintah oleh seorang adipati. Tapi sisa-sisa kejayaan dengan segala rekam jejaknya hampir tak berbekas.

Setelah yakin dengan peta bahwa tujuan yang selanjutnya ini berada di depan mata. Saya memutuskan untuk turun dari kendaraan dan berjalan menembus gang yang menghubungkan antar Jalan Pahlawan dengan Jalan Kramat Gantung. ditengah gang saya pesimis karena ternyata saya salah karena posisi gerbang bekas Kadipaten Surabaya yang saya lihat di depan mata hanyalah sambungan dari gedung yang sudah tidak terpakai. Baru saya sadar karena gang belum sampai di ujung Jalan Kramat Gantung. Saya percepat langkah kaki dan akhirnya terpampanglah apa yang sudah saya ingin lihat selama ini. 

Bukti otentik bahwa dulunya Surabaya pernah berbentuk Kadipaten adalah pada bangunan ini. Tidak  banyak ditemukan adanya catatan sejarah bahwa pemerintahan Surabaya layaknya seperti D.I Yogyakarta ataupun Solo. Tapi di beberapa sumber yang saya temukan menjelaskan bahwa Surabaya memang benar dulu pernah menjadi Kadipaten yang mempunyai nama Keraton Surabaya. Berikut sumber yang saya temukan :

Hanya segelintir orang yang menyimpan memori tentang Keraton Surabaya. Sebutlah Aminudin Kasdi. Profesor ilmu sejarah Universitas Negeri Surabaya itu menyambut Jawa Pos dengan hangat di kediamannya di Jalan Tenggilis. Meski telah berusia 71 tahun, Amin masih lancar menceritakan sejarah Keraton Surabaya. Bahkan, ceritanya melebar hingga ke Kerajaan Mataram dan Majapahit.
”Kerajaan Mataram dulu terbagi jadi keraton-keraton kecil,” tuturnya. Salah satunya Keraton Surabaya. Surabaya sempat terlepas dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Keraton yang telah berdiri pada 1500-an itu merdeka sebagai wilayah sendiri. Hingga akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Mataram pada 1625.
Ada pula Adrian Perkasa, dosen ilmu sejarah Universitas Airlangga, yang membagi kisah tentang keraton para pemberani itu. Betapa tidak pemberani, meski telah diserang berkali-kali oleh Mataram, Surabaya seperti tak tertembus. Sultan Agung yang memimpin Kerajaan Mataram kala itu tak kehabisan akal. Mereka menyerang Surabaya dengan cara membuang bangkai ke Kalimas. Pada masa itu, Kalimas memang sungai utama penggerak kehidupan warga Surabaya. Begitu sungai dicemari, apalagi ketika musim kering, Surabaya pun tak berkutik. ”Waktu itu, dari belasan ribu pasukan, tersisa tidak sampai seribu,” tutur Adrian tentang betapa dahsyat kematian warga saat itu.
Keraton Surabaya tak dipimpin raja, melainkan adipati. Yang terkenal pada masa kejayaannya adalah Adipati Jayalengkara. Meski buta, Jayalengkara mampu memimpin Surabaya hingga menjadi kerajaan terjaya di pesisir. Bahkan, Surabaya sudah memiliki daerah jajahan di Kalimantan seperti Sukadana dan Banjarmasin. Nah, sebagian orang jajahan dari sana datang ke Surabaya dan menetap di suatu wilayah. Tepatnya di daerah Ampel. ”Makanya, di sana ada jalan yang namanya Sukodono,” tambah dosen bertubuh jangkung itu.
Jejak Keraton Surabaya saat ini tak bisa banyak ditemui. Yang tersisa hanyalah toponimi alias nama-nama daerah dan jalan. Amin kemudian menunjukkan peta kuno Surabaya. Tampak sebuah kawasan bernama Kampung Keraton di selatan Tugu Pahlawan. Kini tempat tersebut diberi nama Jalan Kraton. Kawasan itulah yang menjadi pusat Keraton Surabaya, tempat tinggal raja pada zaman itu.
Pria asal Nganjuk tersebut memaparkan, keraton haruslah punya setidaknya lima unsur: alun-alun, tempat ibadah, layanan publik, pasar, dan kampung khusus. Lalu, di manakah lima unsur tersebut di Keraton Surabaya? Alun-alun utara yang menjadi alun-alun utama tak lain adalah pelataran Tugu Pahlawan. Sementara itu, alun-alun selatan kini sudah menjadi Jalan Pahlawan. Alun-alun utara biasanya dipakai untuk upacara yang bersifat kenegaraan. Lain halnya dengan alun-alun selatan yang berfungsi sebagai jalan keluar. ”Kalau ada anggota keluarga kerajaan yang meninggal, ya dibawa keliling di alun-alun belakang (selatan),” terang Amin.
Ya, sebagian besar peninggalan Keraton Surabaya adalah nama. Beberapa kampung khusus zaman keraton yang tempatnya masih bisa dikunjungi hingga kini, antara lain, Pandean (tempat pandai besi), Kawatan (pusat kerajinan kawat), Bubutan (pusat kerajinan bubut), Plampitan (pusat lampit/industri rumah tangga), Kranggan (tempat tinggal rangga atau pejabat birokrasi), Praban (tempat tinggal praba atau putra mahkota), dan Kebonrojo (hutan imitasi tempat raja berburu).
Meski peninggalan fisik tak banyak, dari toponimnya saja, terlihat Surabaya sudah maju sejak zaman dulu. Dibandingkan dengan kerajaan lain yang masih terbilang ”primitif”, Keraton Surabaya sudah punya pusat kerajinan bubut dan membuat meriam sendiri. Karena itu, bila sempat, berkunjunglah ke sisa-sisa peninggalan keraton ini dan resapi kemegahannya pada masa silam.(Ditulis oleh Suryo Eko Prasetyo, 19 Januari 2017, 17:40:29 WIB)
Kumpulan foto jelajah Kadipaten Surabaya :








OPINI SAYA :
sudah jelas ini seharusnya menjadi aset besar kota Surabaya. Apakah yang kita tunggu? Sampai kapan satu-satunya bukti otentik sejarah harus lenyap lagi karena tidak terawat atau disalah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab? Pekerjaan Rumah yang besar bagi kota tercinta.


Museum HOS Cokroaminoto


15.00 Rumah di sebuah gang di Jalan Peneleh inilah saksi bisu bagaimana Haji Oemar Said Cokroaminoto sebagai guru besar tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dirumah ini oleh H.O.S Cokroaminoto disewakan sebagai rumah kos. Penyewa kosnya adalah sebagai berikut :

1. Soekarno (Presiden pertama RI)
2. Musso (Tokoh Partai Komunis Indonesia)
3. Alimin (Tokoh Partai Komunis Indonesia)
4. Semaoen (Tokoh Partai Komunis Indonesia)
5. Kartosuwiryo (Tokoh pejuang Negara Islam Indonesia)

Terdapat beberapa ruangan seperti rumah pada umumnya. Tapi di loteng atas di buat menjadi sebuah kamar yang dapat di huni oleh tiga sampe empat orang. Dikamar itulah Soekarno belajar berpidato meniru gaya pidato bapak kosnya yaitu Tjokro. Gaya berpidato yang menggelegar yang sanggup membangkitkan semangat nasionalisme.

Kumpulan foto jelajah Museum HOS.Cokroaminoto :
















Toko buku yang berada tepat di depan rumah HOS Cokroaminoto


Museum Surabaya


15.30 Tidak ada ekspektasi bahwa saya akhirnya bertemu dengan teman satu geng SMA dulu di museum ini. Sangat kebetulan lagi dia menjabat sebagai guide dan kurator di Museum Surabaya. Senang melihat teman yang ikut sukses seperti dia. Reza ini dulu anaknya petakilan. Tapi sampai sekarang masih sih sebenarnya hahaha. Saya kaget waktu masuk beberapa langkah setelah mengisi buku tamu ada yang teriak manggil nama saya. Yo piye gak noleh yo!! Lha wong jenengku di celuk ( ya gimana gak noleh, kalau ternyata nama saya dipanggil ). Terus dia nyeletuk "loh tak kiro awakmu gak noleh soale ganti jeneng" ( loh ku kira kamu gak noleh karena ganti nama). Teman macam apa yang di panggil tapi gak noleh hahaaha, maap ngakak.  Walhasil dia lah yang menemani kita berkeliling Museum Surabaya. Koleksinya adalah koleksi yang diambil dari sekitar Surabaya yang mencerminkan jati diri Kota Surabaya mulai dari alat transportasi, kesehatan, beberapa furniture yang di gunakan Ratu Belanda, makanan khas, cindera mata dari pertukaran negara sahabat serta masih banyak lagi.  Saya juga beruntung karena berkat si adik saya bisa tau bahwa selain ada museum, cindera mata dan mall kependudukan. Lantai 3 gedung ada koridor, yaitu tempat semacam co-working place, dimana berkumpulnya para pelajar yang butuh ruang untuk diskusi, mengerjakan tugas dan sebagainya. 

Di gedung siola ini dulu sebelum dibangun seperti sekarang waktu zaman saya masih SD saya sering kesini untuk beli kaset Play Station dan menemani keluarga ke Ramayana. Ketika tahu gedung ini disulap bak ibu peri menyulap buah labu menjadi kereta kencana. Saya pun meletakkan museum ini di daftar teratas karena lokasinya yang strategis dan penasaran karena baru diresmikan 3 mei 2016.

Kumpulan foto jelajah Museum Surabaya :


Piano peninggalan Belanda yang dulunya digunakan mengiringi dansa di gedung Balai Pemuda

menurut cerita si Reza, dissat penggalian parkir di dalam gedung Balai Pemuda, pekerja menemukan banyak botol bekas minuman keras yang terkubur


bangku dan papan tulis yang di dapat dari SMA N 5 Surabaya


Kaca milik Ratu Wilhelmina


Taman koridor


Suwun Za!

OPINI SAYA :
Saya sangat berterima kasih pada Reza yang sudah meluangkan waktunya untuk bercerita panjang lebar walaupun jam shiftnya sudah berakhir. Tapi dengan adanya reza sekali waktu obrolan yang serius tentang sejarah menjadi guyonan (bercandaan) saat tiba-tiba membahas kenangan masa lalu dan ngomongin teman-teman yang lain. Hahaha maap ya kita rumpik cuy.
Pekerjaan rumah Reza sudah saya sampaikan langsung dan dia paham akan hal itu. Bahwa di museum ini belum ada jalur dimana awal dan akhir memulai tur berkeliling museum dan tidak ada pengklasifikasian bahwa barang museum yang satu dengan yang lain berbeda jenis entah dari tahun atau wilayah atau masa penemuan bendanya. Jadi orang awam akan mengira benda-benda satu ruangan itu mempunyai kegunaan yang sama atau memiliki kesamaan padahal jelas setiap item mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.


Museum W.R. Soepratman


17.16 Pertama kali saya ambil foto ini dari depan.  Sebelumnya kita memasuki gang kecil yang cukup untuk berpapasan dengan dua motor. Setiba di ujung persimpangan gang disitulah berdiri dengan megah sebuah rumah dengan ciri khas bangunannya yang membedakannya dengan bangunan lain di daerah situ. Patung mendiang almarhum Wage Rudolf Soepratman bermain biola berdiri tegak di halaman depan rumah. Kita adalah pengunjung terakhir di museum karena kehadiran kita telah melewati jam berkunjung. Tapi dengan ramahnya, penjaga museum masih mengizinkan kita untuk berkeliling sebentar.

Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta, diadakan sebuah Kongres Pemuda yang melahirkan ‘Sumpah Pemuda’. Pada malam penutupan kongres, pada tanggal 28 October 1928, Supratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan para peserta. Waktu itu merupakan pertama kalinya lagu Indonesia Raya ini bergema di depan publik. Semua partisipan terkejut mendengarnya. Setelah itu, Lagu Indonesia Raya selalu tidak pernah ketinggalan untuk dibawakan di setiap kongres yang berlangsung. Lagu ini merupakan perwujudan dari keinginan bersama untuk sebuah kemerdekaan.
Lagu terakhir yang beliau ciptakan berjudul Matahari Terbit, dan karena lagu itu pulalah, Beliau di penjara di Kalisosok dan pada akhirnya meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938. Pada 26 Juni 1959, Pemerintah Regulasi 44 mengumumkan bahwa Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia. ( situsbudaya.id ) 
Baru diresmikan pada hari Sabtu, 10 November 2018. Menjadi tujuan akhir dari Jelajah Sejarah Surabaya ini. sembari bertanya tanya dengan keisengan kenapa namanya jalan mangga ya?

Kumpulan foto jelajah Museum WR. Soepratman :







Jalan Mangga 21 Surabaya alamat rumah yang dijadikan museum, jangan ditanya kenapa namanya Jalan Mangga



Menjadi tujuan akhir ditemani tenggelamnya Sang surya yang menampakkan senja. Suara adzan berkumandang dan mangga yang bergelantungan di Jl Mangga terlihat menyegarkan. Akhirnya saya harus undur diri dari tulisan kali ini. Pulang Kampung terkadang bukan tentang bersilaturahmi saja ke sanak saudara dan kerabat dekat. Perjalanan demi perjalanan untuk menggali sejarah memang tidak ada habisnya. Semakin saya memahami ternyata semakin saya merasa kecil di dunia, karena begitu luas dan panjang jejak sejarah yang diukir oleh bangsa ini.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya,

Maturnuwun 

Comments