Memoar Tiga Hari dari Bandung


Menurunkan ego adalah yang paling tepat untuk perjalanan kali ini. Saya tidak sendiri. Ada Tante Ik (nama panggilan untuk tante sedari kecil) dan Mbak Tin (asisten rumah tangga yang sudah saya anggap kakak). Semangat untuk menjelajah kota Bandung tercetus di meja makan dua minggu sebelum hari H. Berawal dari suatu topik kemudian saya nyeletuk "walah aku ae durung tau blas nang Bandung" (saya saja belum pernah sama sekali ke Bandung). Dari situlah langsung dimulai proses riset hotel, tiket kereta, lokasi dll.

Dengan terbatasnya waktu yang saya punyai, Ik dan Mbak Tin akhirnya jadi juga perjalanan singkat ini. Liburan ringkas yang tidak tergesa-gesa dan tidak juga terlalu santai. Liburan yang sebisa mungkin dari satu tempat ke tempat lain ditempuh dengan berjalan kaki. Kami bertiga bak creme de la creme yang saling melengkapi segala kekurangan di perjalanan. Saya tidak membuat itinerary seperti biasa yang saya buat detail dan terjadwal karena saya ingin rute yang saya buat harus luwes tergantung suasana dan dua tante-tante ini. Hehehe maap yak. Setelah kilas balik perjalanan kala itu inilah daftar enjoy Bandung featuring Ik and Mbak Tin.

Sabtu, 29 Juli 2019
1. Hotel Ibis Styles Braga
2. Asia Afrika Festival 2019
3. Jalan Braga

Minggu, 30 Juli 2019
1. Jalan Asia Afrika
2. Museum KAA
3. Paris Van Java

Senin, 1 Juli 2019
1. Alun-Alun Bandung
2. Taman Balai Kota
3. Dago

Sebelumnya izinkan saya membagikan foto indahnya bentang alam di sepanjang perjalanan yang di mulai dari stasiun Gambir menuju stasiun Bandung. Tidak bosan saya menyaksikan segenap penghijauan yang mendamaikan mata. Perjalanan 3 jam serasa 30 menit, sedikitnya emosi saya tertuang dari foto yang saya ambil. Sungguh indah lukisan Mu Tuhan.
Baiklah tanpa berlama-lama marilah kita kembali mulai perjalanan kala itu:






















Hotel Ibis Styles Braga
Sabtu, 29 Juli 2019
17.40 Setelah sampai kamar di lantai 12 saya langsung menikmati pemandangan dari kaca yang menghadap ke Hotel Savoy Homann diseberang. Tapi ini mata entah kenapa tiba-tiba mengarah ke sebuah bangunan yang lebih rendah dari hotel ibis dengan rooftop yang sepertinya dibuat restoran. Posisi bangunan tidak jauh dengan Hotel Preanger dan diseberang Hotel Savoy Homann. Awalnya rooftop itu sepi tidak ada kejanggalan. Sampai munculah dua sejoli dari rooftop sedang menikmati pemandangan. Lah kok tiba-tiba mereka kissing. Tidak ada yang salah dengan orang ciuman sampai saya sadari ini kok sangat intim ciumannya terlihat jelas berarti itu rooftop kosong (asumsi). Berhubung saya tidak mau sendirian nonton drama ini jadilah saya ajak Ik sama Mbak Tin turut serta. Tidak usah disuruh pun langsung ngakak lah kami bertiga karena sesungguhnya ternyata mereka lanjut ketahap ciuman gendong-gendongan dan lenyap tertutup atap tenda kursi restoran. Hmmm sayang sekali. Baru pertama kali menikmati Bandung mata sudah dimanjakan dengan pemandangan ini tuh rasaya gimana ya. Hahaha. Apakah ini yang dinamakan CAKUNG ? alias cuaca mendukung. Hotel tempat kami menginap sebenernya menyimpan sejarah di masa kolonialisme. Jika ada hotel yang mempunyai cerita sejarah yang lebih kental selalu menjadi tempat prioritas untuk menginap. Menginap di tempat yang mempunyai sejarah itu lebih dari menyenangkan (buat saya), rasanya seakan tubuh ini seperti  ditarik dalam mesin jelajah waktu yang katanya cuman hoax dan kita berada di dalam sejarah itu. Sekelumit sejarahnya bisa dibaca di link berikut :  Hotel Wilhelmina sebelum disulap menjadi Hotel Ibis Braga

Kumpulan foto Hotel :

TKP drama cakung







Asia Afrika Festival 2019
16.30 Sepertinya keberuntungan menyelimuti kami bertiga. Sewaktu kedatangan kami di hotel disambut dengan jalan depan hotel yang di tutup. Kami pun keheranan. Tepat di perempatan jalan braga dekat hotel dari kaca mobil grab kami pun melihat keramaian akibat  panggung yang berdiri di tengah jalan. Informasi dari mas pengemudi ternyata sedang diadakan Asia Afrika Festival 2019. Kami pun baru ngeh. Hahahhahaha tercium sudah bau pelancong macam apa kita ini ya?
Sungguh lokasi yang sangat strategis. Karena asumsi kami pada saat itu adalah berhubung acara tepat di depan hotel dan jalan ditutup sekitar kawasan Asia Afrika, menjelang malam hari pasti akan lebih ramai dengan kata lain sangat cocok dengan konsep liburan yang saya ceritakan di awal. Berhubung kaki sudah gatel ingin jalan keluar jadi sore menjelang malam hari kami berjalan menuju pusat keramaian. Asia Afrika Festival 2019 adalah festival tahunan yang diadakan setahun sekali di Bandung dan tahun ini tepat memperingati Konferensi Asia Afrika ke-64.


Untuk detail informasi festival bisa di baca di link berikut : 

Kumpulan Foto Asia Afrika Festival 2019 :












Jalan Braga
18.30 Berhubung ada yang sedang ngidam makan bakso, saya pun segera menelusuri peta dengan kata kunci "Bakso". Tapi karena entah kenapa peta di telepon pintar tidak menunjukkan arah nya yang baik dan benar. Akhirnya saya pakai GPS lambe a.k.a GPS mulut a.k.a bertanya. Bakso Boedjangan adalah bakso yang kita tuju ada di Braga Citywalk. Semakin terpana saat menelusuri Jalan Braga dari ujung ke ujung. Suasananya bercampur dengan wangi kopi yang bertebaran di trotoar, bangunan asli peninggalan dan pemuda pemudi yang hilir mudik memenuhi jalanan. Banyak hal yang receh yang membuat saya selalu mengingat jalan ini. Receh gara-gara Mbak Tin nih. Yang selalu nyeletuk tiba tiba ada yang pake baju aneh semacam jas hujan transparan katanya atau berhenti mendadak karena mencium wangi ikan goreng. Berhubung selalu bertiga jadi selalu tahu mana yang dimaksud Mbak Tin tapi memang bener iya jadi ya aduh ngakak lah diriku.

Kumpulan foto di Jalan Braga :









Luwe , mangan sek ( Lapar, makan dulu )


Jalan Asia Afrika
Minggu, 30 Juli 2019
06.30 Pagi hari saya dan Mbak Tin tanpa Ik ngeluyur di jalan Asia Afrika. Jalanan sepi jadi sangatlah mendukung untuk menjelajah satu persatu gedung bersejarah. Menjadi pusat pemerintahan di masa kolonialisme area Jalan Asia Afrika menyimpan kenangan tersendiri. Berbeda dengan jelajah di Surabaya kemarin. Bandung pun punya keautentikan yang tidak bisa di sandingkan. Walaupun di beberapa titik jalanan masih kotor karena bekas sampah acara semalam dan bongkaran panggung tapi setidaknya suasana hawa sejuk khas Bandung tidak bisa dibandingkan dengan Ibu Kota. Setidaknya saya tahu jajanan Bandros, kalau di Surabaya disebut Rangin heheeee (lumayan ganjel perut sebelum sarapan)

Kumpulan foto Jalan Asia Afrika :












































Museum KAA
11.43 Disinilah dimana 200 orang dari 29 delegasi setiap negara anggota KAA menyatakan perdamaian dunia pada 18 - 24 April 1955. Sebelumnya gedung ini adalah peninggalan Belanda yang di bangun 29 Juni 1879. Gedung berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan pada masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945 lalu digunakan sebagai pusat kebudayaan menurut sumber dari www.sejarahlengkap.com. Pada tahun 1954 pemerintah menetapkan Bandung sebagai lokasi KAA. Karena gedung ini adalah tempat pertemuan terbesar dan termegah di Bandung maka terpilihlah menjadi lokasi berlangsungnya konferensi. Oleh sebab itu menjelang Konferensi Asia Afrika tahun 1955 namanya diganti oleh Presiden Soekarno menjadi Gedung Merdeka. Jajaran kursi berwarna merah tempat duduk para delegasi dari setiap negara pun masih kuat dan terjaga dengan baik.

Jujur saya terkadang heran bagaimana jalannya sistem pemikiran Bung Karno yang menurut saya sangat revolusioner di masa itu. Umur Republik Indonesia yang masih sangat muda bukan halangan untuk mendeklarasikan perdamaian ke penjuru dunia lewat deklarasi DASAILA BANDUNG. Ada fakta menarik yang saya temui di website resmi Arsip Nasional Republik Indonesia. menyatakan bahwa :

Pada 6 Oktober 2015, berdasarkan sidang UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab membuahkan hasil penetapan arsip KAA resmi menjadi MoW. Sejatinya, saat suatu warisan budaya dokumentaer (dalam hal ini arsip KAA) yang telah ditetapkan menjadi MoW maka arsip tersebut harus diperhatikan proses preservasinya, bagaimana akses universal terhadap arsip tersebut serta bagaimana kesadaran masyarakat di seluruh dunia akan eksistensi dan makna arsip KAA tersebut. ( www.anri.go.id )

Terima kasih Bung Karno, rekam jejakmu tercium harum membanggakan seluruh penjuru Bangsa yang lahir dari penolakan akan kolonialisme.

Kumpulan foto Museum KAA :









Berikut dengan foto Jadulnya :

Inilah suasana saat #KAA 1955. Sebagian Jl. Raya Timur diubah nama jadi Jl. Asia-Afrika. ( sumber : TLasiaafrica)

Delegasi yg mengikuti KAA 1955 disambut dengan meriah di Bandara Kemayoran ( sumber: IndoEthio)

Kemeriahan penyambutan delegasi (sumber : IndoEthio)

Welcome to Bandung (sumber : IndoEthio )

Presiden Soekarno berpidato membuka Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 (sumber: KompasData )


Paris Van Java
15.10 Bagus, asri dan hijau. Adalah kesan yang saya dapat ketika menjelajah pusat perbelanjaan ini. memiliki konsep yang menurut saya autentik. berkhayal lah saya kapan di Ibu Kota atau kota besar lainnya memiliki pusat perbelanjaan dengan konsep seperti ini. Bangunannya luas dengan atap transparan yang tembus cahaya. Paling berkesan adalah di bagian rooftop yang sangat bersahabat dengan alam, karena terdapat taman yang sangat Indah beserta mini zoo di dalamnya. Ditambah sentuhan air terjun buatan, Curug Langit. waktu saya memuji konsep dari Paris Van Java, Ik pun nyeletuk kalo konsepnya mirip Ibn Batutta. salah satu mall di Dubai. waktu saya cari tahu di internet walaaaah, ternyata terlihat sama tapi Ibn Batutta lebih kental sentuhan Timur Tengahnya. Kalau yang penasaran monggo di ceki-ceki di Google karena belum pernah saya menginjakkan kaki di Ibn Batutta (segera, amin). 

Kumpulan foto PVJ :








Alun-Alun Bandung
Senin, 1 Juli 2019
07.00 Akhirnya menginjakkan kaki di alun alun Bandung dengan personil lengkap. sebenarnya kita bisa duduk-duduk santai di lapangan rumput sintetis sembari menikmati cahaya pagi, tapi apa daya Ik dan Mbak Tin lebih asyik foto foto jadilah sesi foto bersama yang berulang sampai setengah jam lamanya hahaha , maklum lah namanya juga turis.

Kumpulan foto Alun-alun Bandung :









Taman Balai Kota
07.54 Usulku ternyata di approve oleh Ik dan Mbak Tin. Walhasil akhirnya kami jalan kaki kurang lebih hampir 1,3 Km dari alun-alun. Sebenarnya jarak yang kami tempuh cukup 15 menit, berhubung kami banyak berhentinya jadilah lebih lama. Jantung berdetak kencang seakan ikut sumringah sembari menikmati wilayah kota tua di pagi hari yang membawa kenangan tersendiri. Setelah sampai di taman Balai Kota Ik sempat tertegun, dia bilang bahwa model balai kota dari tata bangunan dan taman sangat mirip dengan yang ada di negara Belanda. Kalau saya lebih menaruh perasaan di pohon trembesi yang sudah berusia ratusan tahun yang menjadi spot foto hits di kalangan instagramers. Karena dasarnya pecinta pohon, dibawah rindangnya pohon saya seperti berlindung dibawah telapak tangan Ibu Pertiwi. Aroma Pohon tua yang khas selalu menentramkan batin.



Mari kita OTW


















Dago
12.41 Tujuan Ke Dago kami tentukan semalam berikut dengan tempat makan yang kita pilih. Mau tidak mau pukul 14.40 kita sudah harus meninggalkan Dago karena kereta menuju jakarta berangkat pukul 16.00 dari stasiun Bandung. Congo gallery and cafe adalah tujuan akhir . Sebagai penutup sangatlah pas karena suasana cafe yang sangat mendukung untuk betah berlama lama sembari menikmati makan siang. Tidak banyak yang bisa saya bagi, datanglah sendiri untuk langsung menikmati suasana yang tergambar dalam foto di bawah ini.

















Terima Kasih Semua

Sepertinya perjalanan ini adalah awal dari sebuah perpisahan. Kalimat itu saya susun sedemikian rupa karena pas dengan apa yang saya rasakan saat saya menulis ini.  Perpisahan saya dengan Ik dan Mbak Tin yang cepat atau lambat akan tiba saatnya. Tulisan ini saya tulis dengan sangat berat hati karena waktunya semakin terus mengejar. Berat karena di satu sisi saya tidak ingin bercerita tapi disisi lain saya harus karena saya tidak mau tulisan ini beserta foto lenyap begitu saja di lembaran kertas karena termakan usia begitu dengan semua ingatan di kepala. Ik yang akan pindah ke suatu benua di belahan bumi ini dan Mbak Tin yang akan melanjutkan kehidupannya di tempat dia lahir sedangkan saya yang tertinggal di Ibu kota yang masih mengejar mimpi. Menilik akhir 2015 lalu dimana titik awal saya lepas dari keluarga di Surabaya untuk berdiri di Ibu kota. Berdiri pun masih sempoyongan walaupun pada akhirnya dapat berdiri tegap karena ada dua orang hebat ini yang selalu ada dikala roda berputar kebawah. Agustus adalah bulan dimana segenap bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan begitu juga saya, merdeka untuk menjadi lebih baik pastinya. Terima kasih untuk Ik yang sudah saya anggap sebagai Ibu saya sendiri. Terima kasih untuk Mbak Tin yang mengayomi seperti seorang kakak. Terima kasih Bandung. Terima kasih semua. Andaikan ada ungkapan lain selain rasa terima kasih yang mendalam akan saya ungkapkan. Sampai jumpa di lain kesempatan jika yang memberi hidup masih memberi kesempatan.

Surya nirwana perlahan tenggelam. Siluet membayang dari perbukitan. Menghangatkan dinginnya hati manusia yang tidak paham serat cahaya senja. Seorang manusia sedang menikmati perjalanannya walaupun setetes rindu dari pelupuk mata belum belum sudah sedikit keluar. Rindu yang dia pikir akan tak berbalas di kemudian hari, rindu yang tulus untuk mengucap terima kasih. Dan akhirnya kini tiba waktunya. Memoar akan masa masa itu mengapung ke permukaan. Bandung untuk pertama kali mungkin menyimpan kenangan. Tetapi kenangan itu hanyalah sebuah baris dari rentetan paragraf panjang dan terangkum menjadi memoar yang semburat dari lubuk hati terdalam,

terima kasih.




Comments