Jakarta tidak semembosankan itu
Perjalanan mengenal Jakarta untuk jauh lebih dalam akhirnya saya lakukan tepat hari ini. Seperti biasa riset tempat tidak pernah saya lewatkan begitu saja karena itu penting. Tapi riset ini sudah saya lakukan dari dua tahun kemarin tapi putus ditengah jalan. Haha sungguh pilu. Baru terlaksananya sekarang.
Tahun kemarin saya berapi-api untuk ikut salah satu jasa travel dengan walking tour. Kendala waktu akhirnya baru kesampaian sekarang.
Sejujurnya saya tidak benci dengan Jakarta dan tidak pula suka. Dengan segudang rincinya permasalahan dan segala pernak-perniknya, membuat saya berpikir ulang untuk menata masa depan di kota metropolitan ini. Jika dari sudut pandang kemewahan, jelas sudah terjawab. Siapa yang tidak suka bergelimang kemewahan, fasilitas bintang lima, berbagai tempat hangout yang keren dan bertebaran di gedung-gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai macam bentuk hiburan sebagai simbol kepuasan diri atas sebuah kebahagiaan. Tapi apakah kebahagiaan itu selalu datang dalam bentuk kemewahan? Mungkin tidak bagi saya. Kembali ke pilihan benci dan suka, untuk berada di salah satu pilihan tersebut, membuat saya memutuskan harus dengan pendekatan secara langsung. Sejarah mengungkap bahwa pecinan di Jakarta adalah yang terbesar di indonesia. Dari berbagai sumber pun juga saya dapatkan bahwa beberapa lokasi yang akan saya ceritakan di bawah ini mempunyai keunikan tersendiri yang semakin mempertebal identitas kota Jakarta :
6.50 Saya melangkahkan kaki dari tempat kos yang tidak jauh dari MRT Cipete Raya. Dari MRT terakhir (Bundaran HI) kemudian lanjut dengan menggunakan Busway yang sudah terhubung dari Bundaran HI menuju ke halte olio dengan rute busway BlokM-Kota Perkiraan perjalanan tidaklah mencapai satu jam karena hari minggu pasti tidak begitu ramai. Tapi ternyata itu salah besar. Apakah karena saya molor? Oh tentu tidak. Karena ternyata busway yang saya tumpangi salah jalur (padahal saya wes sarapan loh). Harusnya dari Bundaran Hi meluncur ke arah sarinah iki malah ke arah dukuh atas. Hadehhhh. Apakah sudah berakhir drama itu? Oh tentu tidak. Jalan terhambat karena ada Car Free Day. Walhasil walaupun jalur busway tersedia. Tetap saja di beberapa bagian ruas jalan, pejalan masih memakan tempat karena saking membeludaknya. Tapi keren sih warga jakarta butuh Car Free Day kok tenang saja tidak akan saya menyalahkan Bapak, Ibu, kakak, adik-adik sekalian. Sembari menikmati indahnya pemandangan aktifitas CFD dari dalam busway saya melihat berbagai macam ulah manusia berkaki dua ini. Haha... mulai dari yang serius olahraga, ada yang serius pacaran, ada yang berjualan, ada yang asik main hape, ada juga mbak-mbak yang lari lari ala duo semangka (bisa cek di youtube) dengan bagian bawah blouse diikat ke perut dan menonjolkan dadanya yang mantul-mantul itu, dari atas busway ku tahan ketawa sembari melihat pandangan mata mas-mas dan bapak-bapak yang melanglangbuana ke arah itunya. Ada juga kuda dokar yang tiba tiba ngamuk. Dia menyerang seorang anak dengan sepedanya, ditendang dan diinjak-injak anak itu sampai beberapa orang menghampiri untuk menolong dan mengarahkan kudanya untuk ditenangkan. Beruntung si anak cepat bangkit walaupun masih shock dan cukup kesakitan sepertinya. Si kusir pun kehilangan kendali entah kenapa. Dari arah pembicaraan dengan beberapa orang dari yang saya lihat di busway nampak dia menunjuk ke anak yang sedang duduk kesakitan karena mungkin anak itu menabrak kudanya. Tapi entah siapa yang benar. Saya berasumsi mungkin kuda itu kelelahan wahai pak kusir. Berilah minum dan makan secukupnya agar dia bahagia. Dia gak mood lah pak kalo disuruh kerja terus. Peristiwa itu sayangnya hanya tertangkap mata saya dengan sejelas-jelasnya. Dimana momen bersyukur mempunyai kedua mata yang masih lengkap.
![]() |
| Patung selamat datang menyambut kami di minggu yang cerah ini |
CANDRA NAYA
08.49 Mules adalah kata yang paling tepat karena saya harus cari toilet setelah sampai dan mengabadikan foto pertama di Candra Naya. Posisinya adalah tepat di hotel novotel, jadi langsung masuk saja ke dalam area hotel. Menurut informasi yang saya dapatkan, bahwa rumah itu adalah rumah terakhir seorang mayor di Batavia. Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun didirikan bangunan. Tapi Sangat jelas, dari segi arsitek, pilar dan aksen dekoratif di beberapa sudut ruang, rumah ini mempunyai rekam jejak bangsa Tionghoa di masa kolonialisme Belanda. Harta karun indonesia yang harus di jaga sebaik-baiknya. Menurut Kompas.com disebutkan bahwa Saat ini Candra Naya termasuk dalam komplek hunian superblok PT Modernland Realty Tbk. Namun, Candra Naya berada di bawah supervisi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Kala Indonesia dijajah Jepang, Candra Naya sempat menjadi kantor Sing Ming Hui, perkumpulan orang Tionghoa dengan tujuan sosial. Inilah perkumpulan yang akhirnya mencetuskan Universitas Tarumanagara. Pasca kemerdekaan RI, peraturan nasionalisasi nama membuat Sing Ming Hui berubah nama menjadi Candra Naya. Walaupun bangunannya nampak tenggelam di makan bangunan raksasa di tengahnya, tapi kekuatan arsitektur dan desain yang autentik tidak mengalahkan seberapa megah bangunan yang ada di hadapan kita.
TRADISI PATEKOAN
09.25 Cukup 5 menit berjalan kaki dari gedung Candra Naya sudah terlihat bangunan yang mencolok di ujung jalan pancoran. Menurut informasi yang saya dapatkan dari pantjoranteahouse.com menyebutkan bahwa Nama Glodok dan Pancoran sendiri menurut sejarah dari mulut ke mulut, merupakan plesetan dari pancuran yang merupakan sumber air bagi warga kota Batavia, maka daerah itu dikenal sebagai "Pancoran". Air dari pancuran yang menggerojok menimbulkan bunyi. "Grojok" dan pelafalan orang Tionghoa atau Betawi sering menyebut "Glodok".
Gedung ini adalah kantor milik seorang kapten Tionghoa bernama Gan Djie dan istri. Semenjak kawasan glodok menjadi pusat perniagaan, keduanya selalu berinisiatif untuk menaruh 8 teko berisi teh (patekoan, pa : 8, teko) untuk pelepas dahaga pedagang maupun orang yang berlalu lalang di sekitar kantornya untuk beristirahat. Kebiasaan tersebut berlanjut ketika gedung beralih menjadi sebuah toko obat tertua kedua di Jakarta (d/h Batavia) yang didirikan sekitar tahun 1928, dikenal sebagai Apotheek Chung Hwa. Dari situlah tradisi patekoan turun temurun dan masih dapat kita nikmati hingga sekarang.
Gedung ini adalah kantor milik seorang kapten Tionghoa bernama Gan Djie dan istri. Semenjak kawasan glodok menjadi pusat perniagaan, keduanya selalu berinisiatif untuk menaruh 8 teko berisi teh (patekoan, pa : 8, teko) untuk pelepas dahaga pedagang maupun orang yang berlalu lalang di sekitar kantornya untuk beristirahat. Kebiasaan tersebut berlanjut ketika gedung beralih menjadi sebuah toko obat tertua kedua di Jakarta (d/h Batavia) yang didirikan sekitar tahun 1928, dikenal sebagai Apotheek Chung Hwa. Dari situlah tradisi patekoan turun temurun dan masih dapat kita nikmati hingga sekarang.
KULINER GANG GLORIA
09.30 Memulai menyusuri gang gloria dengan perut mulai keroncongan. Dari sekian banyak kuliner ada beberapa yang terkenal. Tapi saya lebih tertarik mencoba kedai Kopi Es Tak Kie. Pemiliknya adalah Koh Ayauw. Tiga generasi sudah kedai ini bertahan sejak berdiri pada tahun 1927. Menurut informasi www.kopiestakkie.com disebutkan bahwa pemiliknya adalah seorang perantau dari negeri China bernama Liong Kwie Tjong. Nama Tak Kie sendiri berasal dari kata ‘tak’ yang artinya orang yang bijaksana, sederhana, dan apa adanya. Sementara itu, kata ‘kie’ sendiri memiliki arti mudah diingat banyak orang. Tidak banyak perubahan bangunan dari dulu. Sepertinya pemilik tetap mempertahankan keasliannya. Nah kan kali ini setuju sama pemilik agar menghindari banyak merubah-rubah sesuatu yang dirasa memang tidak perlu diubah. Karena disitulah nilai keunikan yang tidak akan pernah sejajar dengan kopi kopi masa kini yang sangat tren. Gak perlu nama nama puitis yang jadi teringat kenangan bersama mantan atau yang janji palsu tapi hanya sebuah nama dari bahasa asal dan dengan filosofi arti yang sederhana. Kalau ingin tau bagaimana citarasa es kopi susu dan bakmi ayam yang saya coba, monggo langsung datang aja.
PETAK SEMBILAN
10.00 Tepat saya menyebrang dari ujung Gang gloria menuju pasar. Seperti pasar pada umumnya yang menjual berbagai bahan dan alat rumah tangga. Tetapi yang membedakan adalah banyak pernak pernik khas seperti hiasan lampion dan toko aksesoris yang bikinsaya nyasar kesana dan tentunya beberapa barang untuk melakukan peribadatan di vihara. Ada beberapa yang menjual timun laut, harga per kg nya mencapai Rp. 500.000 rupiah. Ada juga katak, jeroan Babi, beberapa ikan laut dan lain sebagainya. Kalau di pasar deket kosan (pasar mede fatmawati) banyak ibu ibu berdaster dan berhijab, di petak sembilan lebih trendy.
Tidak hujan pun cicik cicik saling membuka payung dengan rok sepaha dan alis yang lancip serta make up yang tebal (mungkin sekalian ke vihara, hehe).
VIHARA DHARMA BAKTI
10.15 Saya tiba di pintu gerbang samping dari vihara tertua dan terbesar di Jakarta ini. Begitu masuk saya langsung disambut aroma dupa dan teringat berita yang saya baca di cnnindonesia.com bahwa senin dini hari 2 maret 2015 yang lalu vihara ini hangus oleh kebakaran yang di duga karena lilin yang menyala, kemungkinan menimpa benda yang mudah terbakar. Menurut dokumen lain, Kai-ba li-dai shi-ji (Kronik Penduduk Tionghoa di Jakarta), vihara ini dibangun pada 1650 oleh seorang Letnan Tionghoa, Guo Xun-guan. Juga ditulis bahwa vihara ini merupakan vihara yang spesial di kalangan pejabat Tionghoa di masa itu karena merupakan vihara pertama di Batavia. Pelukis terkenal asal Denmark Johannes Rach pernah melukis nya sekitar tahun 1772-1775. Setelah saya tahu bahwa vihara tersebut bercorak Budha tak jadi soal kalau penganut Kong hu cu, kristen dan lainnya pun sering berkunjung.
![]() |
| Mengintip bekas kebakaran |
GEREJA SANTA MARIA DE FATIMA
10.51 Sepertinya misa gereja baru saja selesai, terlihat para penjemput dan bergerombol orang keluar dari pintu utama. Saya mencoba masuk dari pintu samping dan ternyata memang benar. Beruntungnya, andai saja misa belum selesai jadilah saya menunggu di luar dengan panas yang menyengat ini.
Kembali melihat sejarah, dikatakan menurut santamariadefatima.or.id bahwa awal pembangunan gereja dilakukan atas dasar sebagai sekolah, asrama dan tempat peribadatan para perantau dari China. Didirikan pada tahun 1954 dengan gaya arsitektur Tionghoa yang sangat kental.
Akulturasi budaya pun terlihat di altar yang di dominasi aksen berwarna merah dan misa pun dilaksanakan dengan bahasa mandarin seminggu sekali.
BONUS
![]() |
| Cut ice green peanut = Es potong kacang ijo (opo sih?!?!) |
![]() |
| Ini burungnya pak e, mana burungmu? |
![]() |
| koh! Ojok senyum senyum, Kamu tak masukin blog ku loh yo |
![]() |
| Vanas |
![]() |
| 8 adalah angka keberuntungan etnis Tionghoa, tapi bukan favorit saya |
![]() |
| Suasana di salah satu gang |
![]() |
| Jalan Kemenangan 7 |
![]() |
| Semakin lawas semakin makin |
![]() |
| Kokoh dan celana pendeknya saat berdoa. Hmm kenapa kokoh lagi "-.- |
![]() |
| Cool kids on the block |
Setidaknya jalan jalan kali ini membuktikan bahwa Jakarta memang tidak semembosankan itu. Setuju tidak?
































































































Comments
Post a Comment