Menginap di Museum Bahari Jakarta

Sabtu 14 Desember, hari Jumat kemarin ada yang membuat saya tertarik untuk mengikuti staycation. Bukan seperti kebanyakan staycation yang menginap di hotel yang sedang kekinian ataupun yang paling mahal dengan pelayanan bintang lima, tapi justru menginap di sebuah tempat menyimpan benda bersejarah. Banyak kata orang tempatnya menyimpan aura negatif, banyak penampakan, seram apalagi malam malam dan lain sebagainya. Berhubung niat saya untuk menimba ilmu jauh lebih besar dari pada fokus ke hal yg tidak terlalu penting itu. Jadilah pesan satu tiket untuk diri sendiri dengan harapan semoga menambah pengetahuan sejarah yang selama ini tidak saya ketahui.


16.00 Saya meninggalkan tempat tinggal menuju MRT terdekat seperti biasa Cipete Raya. Saya ingin benar benar merasakan definisi dari jalan sore hahaha. (Ada lagunya tuh ciptaan mas Guruh Soekarno Putra). Dari MRT Cipete Raya turun di stasiun terakhir (Bundaran HI) nyambung Bus Trans Jakarta ke arah Kota. Seperti hari libur pada umumnya penumpang lumayan padat di titik pemberhentian seperti Harmoni. Sesampai halte terakhir (Kota) saya jalan kaki sejauh kurang lebih 1,2 KM ke Museum Bahari. Perjalanan yang menyenangkan karena kanan kiri saya adalah gedung-gedung tua bertebaran dan melewati kawasan kota tua yang dipenuhi lautan manusia. Menempuh waktu 15 menit sesuai aplikasi di peta tapi berhubung saya banyak foto sana sini dan berhenti jadilah cukup memakan waktu. Ada yang menyita perhatian di perjalanan menuju Museum. Jembatan khas negeri kincir angin dengan bagian tengahnya yang di lengkapi sistem buka tutup jika ada kapal yang hendak melewati sungai. Tapi sayangnya sudah tidak berfungsi lagi. Sekarang jembatan itu cukup dijadikan objek semata sebagai tourist attraction. Bernama jembatan ENGELSE BRUG yang berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda dan Inggris. Dibangun oleh VOC pada tahun 1628.

Setelah mampir ke Jembatan. Saya melanjutkan perjalanan. Melewati pasar ikan dibawah kolong jembatan, aroma wangi sampah dan bau amis bercampur. Pasarnya sudah tutup tapi baunya mantap. Setelahnya saya agak ngeri juga karena jalanan sepi. Paling hanya ada beberapa orang yg memancing di sungai dari kejauhan. Jika ada yg mendekat langkah kakipun dipercepat hahahah. Padahal itu orang  cuman ngecek pancingannya kali aja ada ikan nyangkut.





sudah cantik cantik pemandangan di sungai, eh di pinggirannya koyo ngene... hadeuuuh mau komplain ke siapa ini enaknya ya kalo gini.  Mau foto aja saya harus permisi dulu. 



Setan pun menggoda : staycation iku yo nang kene sakjane (staycation itu ya disini harusnya)









Dulunya adalah tempat pembuatan dan perbaikan kapal di zaman kolonialisme, sekarang menjadi sebuah cafe. Berhubung gelap jadi tidak terlalu jelas bangunannya


18.37 Akhirnya setelah menembus lorong waktu haha, sampailah di tujuan. Perut sudah lapaaaaar pol. Setelah registrasi saya pun di pandu untuk masuk ke tempat yang sudah disediakan. Di sebuah gudang rempah-rempah  yang di bangun VOC di tahun 1771. Yassalam memasuki gudangnya di sambut pintu kayu jati yang sangat tebal begitu juga langit langit yang tinggi, pilar kayu yang kokoh dan jendela yang lebar khas bangunan Belanda pada kala itu.  Setelah makan saya memilih tempat di pojok untuk menghindari AC yang berhembus hahaha. Dingin nya malam itu tergantikan oleh perkenalan dengan beberapa peserta lain dan kehangatan teh manis dan nasi ulam yang disajikan dengan chinese style yang rasanya sedikit manis dengan abon kacang yang gurih dan ada siomay juga kenyang pokoknya. Kalo punya lorong waktu rasanya ingin kembali ke masa itu dan tiba tiba entah kenapa serasa kami semua disana adalah buruh pribumi yang sedang ngaso di jam istirahat menunggu perintah mandor mandor para Meneer VOC HAHAHA #halusinasi karena kenyang.

Setelah di buka oleh panitia. Kami disambut oleh pihak penyelenggara yaitu Komunitas Historia Indonesia yang dipimpin oleh Kang Asep Kambali. Beliau bercerita singkat tentang mahalnya menginap di Museum di luar negeri. Di eropa bisa mencapai 4 juta jika di rupiahkan. Total ada 438 Museum di Indonesia dan 1500an di Amerika. Sudah sedikit, jarang ada peminatnya makin miris rasanya ya.

Kang Asep bercerita bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang lebih memilih Mall daripada Museum jika akhir pekan datang. Disebabkan Museum Indonesia belum pernah maju karena masih menjadi minat khusus (datang karena ada tugas sekolah). Hospitality dari pihak museum kurang. Begitupun minat pengunjung yang lebih mementingkan foto objek daripada informasi terkait dari objek tersebut. Memang foto untuk mengabadikan itu tidak ada yg salah, tapi jika kita tidak tahu asal usul, cerita apa yang ada di dalam objek tersebut buat apa?  Menohok ya pemirsa. Saya tertegun. Ok lanjut, kemasan museum yang masih banyak kekurangan dan yang paling penting beliau menambahkan untuk jangan pernah bangga jika datang ke Museum Macan karena itu adalah galeri. Karena museum adalah tempat menyimpan benda bersejarah tempat menyimpan peradaban dan dimana kebudayaan bersemayam yang patutnya kita gali informasinya.



Peserta banyak yang baru datang, kirain cuman segini tok pesertanya

Nasi ulam Pak Misjaya dengan latar peserta yg mulai ramai

Ada beberapa anak-anak, dan ada satu keluarga yang menginap, wah kerennya kalian

Kang Asep is in the house yo


iya tau dingin emang.....

Jadi kalau mau ke toilet kita harus keluar dulu, kemudian....
Berjalanlah kita menuju cahaya didepan hahaa. Bayangkan tengah malam kamu kebelet. DHUAR

22.38 Kami pun terbagi menjadi 2 grup. Masing masing grup berisi sekitar 20an orang lebih dengan satu pemandu di masing-masing grup. Penjelajahanpun dimulai diawali dengan doa agar selalu dalam lindunganNya.

Jika ada yang tahu lagu nenek moyangku seorang pelaut, ya disitulah awal mula latar belakang museum ini didirikan dan yang sudah pernah ke Museum Bahari pasti bertanya tanya kenapa yg saya kunjungi ini kok gelap sekali? Ya memang karena acara inilah sengaja semua lampu di seluruh museum di matikan kecuali tempat kita menginap dan beberapa di toilet. Tapi langit yang cerah malam itu menerangi penjelajahan kami kemarin. Gudang ini dibangun pada tahun 1652 oleh pemerintahan Belanda. Kemudian diresmikan menjadi museum pada tahun 1977. Sempat terbakar pada 16 Januari 2018 lalu. Menurut informasi di berita online tidak diketahui pasti penyebab kebakaran. Kemungkinan konsleting listrik. Hmmm mencurigakan. Di zaman Belanda museum ini dulunya digunakan sebagai tempat menyimpan rempah-rempah. Di era Jepang di gunakan sebagai tempat menyimpan logistik dan di era Indonesia merdeka diambil alih oleh PLN untuk gudang penyimpanan.



Terdiri dari 3 blok, A,B, C dan blok C ini adalah lokasi kebakaran yg sudah dipugar





pemandangan didepan kami ini dulunya adalah laut dan sekarang berubah menjadi pasar ikan

Berjalan menelusuri benteng 

Miniatur kapal Phinisi Nusantara kapal tradisional rakyat Bugis
"Sejarah mencatat bahwa pagi menjelang pada 9 juli 1986, kapal Phinisi nusantara melepas sauh di Muara Baru, dengan tujuan Vancouver untuk  mengikuti expo Vancouver 1986, jarak  yang ditempuh  + 11000 km dengan melewati samudera pasifik yang saat itu memang sedang tak bersahabat, keraguan banyak timbul tapi tekad tak kunjung padam dengan di pimpin oleh capt. Gita arjakusuma, kapal phinisi nusantara akhirnya tiba di pelabuhan Marine plaza, Vancouver, mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat yang tentunya tak mengira kapal kayu yang dimiliki oleh Yayasan Phinisi Indonesia Raya yang diketuai Laksamana TNI (Purn) Soedomo dapat tiba pada waktunya, luar biasa."

Perahu Cadik Nusantara, merupakan perahu yang dibawa oleh petualang Effendy Soleman dalam beberapa petualangan mengarungi laut sendirian. Perahu ini adalah perahu asli dan beruntung, salah satu koleksi yang selamat dari kebakaran. Jujur saya heran setan apa yang merasukimu pak Effendy? Petualangan membelah samudra adalah yang tak pernah tersirat sekalipun di kepala saya. #salamhormat




menara syahbandar yang termahsyur

Titik nol kota Batavia (jakarta)

Cuman iseng fotoin si fauzi anak bekasi yang pengen magang di NET katanya haha..

Prasati yang menunjukkan pertama kali saudagar cina datang di abad ke 17

memasuki lantai pertama di menara syahbandar

Di lantai kedua kamipun dapat memantau kapal yang berlalu lalang dan aktivitas pribumi dari menara hahah #halusinasi.




Sistem perairan yang Pak Jokowi bangun untuk menanggulangi banjir yang akan langsung dibuang ke laut. Karena pernah suatu waktu museum kebanjiran seukuran lutut orang dewasa. Otomatis tenggelamlah itu semua koleksi museum.

Setelah tour berakhir, kami kembali ke tempat menginap dengan disuguhi martabak telur dan martabak manis sebagai penutup 

Dilanjut menonton film dokumenter tentang kapal disini saya langsung teringat masa masa perkuliahan perkapalan yang menurut saya pahit dan kelam di kala itu haha

ada sedikit diskusi bagi yang tersisa yang belum tidur

02.00 Diskusi yang menurut saya cukup serius itu saya dengarkan cukup dari balik  alas tidur. Beliau melanjutkan bercerita bahwa Pak jokowi belum pernah memviralkan museum, padahal banyak sudah yang beliau viralkan di sosial media mulai dari pakaian, motor, sepatu hingga jalan jalan ke mall. Begitu juga kekecewaan Kang Asep yang pernah di undang di acara sumpah pemuda di kebun raya bogor tapi hujan deras dan gagal. Beliau menyarankan "kenapa tidak di museum bogor saja?". Dalam hati berkata "Wadaw saya pun tugas kang disana haha". Yang kecewa bukan hanya Kang Asep ya kamipun selaku kru juga sangat kecewa apalagi pengisi acara yang saya pegang Dira Sugandi dan Eva Celia yang lagi kece kecenya pakai baju dari Dibba dan Sapto Djojokartiko. Kecewa tapi ya gimana Tuhan yang menentukan hujan lebat turun waktu itu.
Diskusi di akhir tentang rasa cinta tanah air. Seperti apakah itu rasa cinta tanah air? Apa yg sudah kita berikan untuk bangsa kita? kontribusi yang bagaimana  jika kita benar cinta tanah air yg kaya ini?.  Beliau bercerita bahwa  di zaman kolonialisme dahulu, banyak didirikan organisasi yg dipimpin oleh tokoh-tokoh pergerakan bangsa seperti budi utomo, Dr. Soetomo dll. Banyak anggota organisasi diantaranya adalah millenials pada zamannya yang masih pelajar berusia belasan tahun. Jika kita mengaca pada zaman sekarang, hal tersebut bisa terulang kembali. Dan dampaknya sangat besar kita rasakan saat ini. Bagaimana jika kita kaum yang millenial pada zaman sekarang ini adalah orang yang berpengaruh terhadap bangsa ini di beberapa tahun yang akan datang, kita tidak akan pernah tahu. Maka saatnya kita bergerak mulai dari sekarang. Beliau menuturkan dengan menghujani pertanyaan yang saya yakin bagi mereka yang terbangun pasti susah untuk tidur begitu juga saya yang mulai gelisah.

Menurut saya rasa cinta itu adalah sesuatu yang intim datangnya dari dalam diri. Jika diucapkanpun kita tidak tahu karena setiap orang dapat dengan mudah mengucapkan cinta yang tak berwujud itu. Tapi sedikit dan sekecil apapun kontribusi yang kita berikan itu adalah bentuk dari cinta tanah air yang sesungguhnya. Berhubung fokus saya dalam bidang fashion saya berpendapat bahwa perumpamaan cinta tanah air bisa jadi diwujudkan dalam bentuk memakai batik. Tapi memkainya saja setiap orang di dunia juga bisa dengan mudah melakukan. Justru setidaknya kita paham akan filosofi corak dan motif yg kita pakai, menurut saya itu adalah langkah kecil untuk menunjukkan rasa cinta tanah air.


06.15 Saya terbangun, melihat sekeliling sudah banyak teman teman yang mulai bangun juga satu persatu.  Tapi hujan deras diluar makin membuat malas beberes. Berhubung istirahat di kos akibat baru tidur di pukul 4 pagi sepertinya lebih baik, jadi saya bergegas. Suasana pagi di museum ternyata berbeda dengan semalam. Apalagi suasana rintik gerimis membahasahi tanah Batavia ini. Tanah yang sempat menjadi rebutan berbagai bangsa karena kekayaannya yang melimpah. Tanah yang tersohor akan kemakmurannya yang sekarang sedang dipertanyakan. Daripada melantur karena efek gerimis mengundang gundah gulana. Terima kasih semua atas pelajaran yang telah diberikan kemarin terutama Kang Asep dan Tim. Saya segera meninggalkan lokasi dan berjalan menulusuri kembali jalan yang membawa saya kesana. Sekian, sampai jumpa di lain waktu.










Sampai di sungai area kota tua ada bocah yang entah kenapa kok fokus sekali jadi patung sampai kaya gitu padahal gerimis dan pengunjung lagi sepi

Setelah saya dekati ternyata patung beneran pek hoalah





Jika ada yang tertarik untuk mengikuti kegiatan menginap di museum silahkan cek di sosial media Komunitas Historia Indonesia karena kemungkinan mereka akan mengadakan rutin dengan lokasi museum yang berbeda

Link dibawah ini :

KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA

Beberapa Liputan dan saya nongol juga disana hahah, lumayan :

1. Menginap di Museum Bahari seramkah? (artikel KOMPAS)
2. Ini rasanya tidur di Museum Bahari saat malam hari (artikel KOMPAS)

Comments