Menjadi Diri Sendiri
Akhirnya setelah tenggelam berlarut-larut sekian lama dalam hingar bingar, rasa percaya diri ini muncul ke permukaan. Sebab penilaian dari orang lain selalu datang dalam berbagai bentuk. Apakah itu tentang dari mana saya berasal, warna kulit, sikap, perawakan, bahasa yang saya ucapkan, pergaulan, cara berpakaian, cara berinteraksi, seberapa tinggi pendidikan yang ditempuh, seberapa layak pekerjaan bahkan takdir yang sudah tersirat sekalipun.
Dalam riuhnya kekalutan itu, bercerita tentang perjalanan menemukan cermin yang tersembunyi di dalam diri. Diekspresikan lewat gestur Tari Jawa Klasik yang merepresentasikan berbagai macam emosi dalam kehidupan yang bersifat introvert.
Diabadikan oleh : Salahuddin Tinni
Suatu pagi di hari Jumat dalam beberapa babak, 5 Juli 2019.
BABAK I
LAHIRNYA JATI DIRI
(Sebuah titik awal, tentang kelahiran. Pembentukan jiwa & raga manusia yang rapuh, lemah dan tidak sempurna. Tersirat dalam pemakaian motif gurdo terbalik, keris yang digantikan oleh kipas, rangkaian bunga sedap malam di siang hari)
BABAK II
MEMBAWA KEGELISAHAN
(Saat dimana manusia mulai mempermasalahkan yang ada di depan mata. Kekecewaan dan keputusasaan, simbol dari sifat dasar manusia yang tidak pernah puas akan hal yang sudah ada)
BABAK III
SEGALA YANG BERASAL DARI DALAM
(Manusia kesulitan memandang dirinya sendiri, hingga ia melupakan esensi yang sebenarnya adalah hanya ia dan tubuhnya yang tahu)
BABAK III
PUN DARI LUAR
(Pun begitu manusia hanya sadar & fokus pada apa yang ada diluar kendali jiwa raganya. Manusia tidak memahami bahwa kesadaran seutuhnya adalah menemukan refleksinya di sebuah cermin)
BABAK IV
CERMIN YANG TERSEMBUNYI
(Adalah bagian terpenting dari sebuah pencarian. Manusia mencarinya dari titik awal hingga akhir. Mulai dari gelap hingga terang. Mulai dari yang jauh hingga yang dekat. Mulai dari yang baik hingga yang buruk)
BABAK TERAKHIR
TERNYATA ADA DI DALAM DIRI
(Ketika kesadaran akan Cermin yang tersembunyi di dalam diri ini tumbuh. Kedamaian datang karena manusia menerima dirinya dengan kesederhanaanya. Segala refleksi yang manusia lihat dari segala sudut pandang adalah dirinya sendiri. Manusia tidak akan pernah tersadar akan hal baik dalam dirinya sebelum menemukan cermin tersebut. Bentuk manifestasi kesadaran akan kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan)
Catatan kecil :
Terima kasih kepada Mas Udin (fotografer) yang telah sabar mengarahkan saya. Mas Udin adalah kolega saya di kantor. Setelah tulisan ini rampung jujur saya menyelamati diri sendiri hahaha...
Menjadi diri sendiri itu bukan sekedar sesuatu yg datang dari luar, seperti penilaian orang lain atau pun yang datang dari dalam, rasa menerima diri apa adanya. Tidak seperti itu konsepnya. Menurut saya penerimaan jati diri itu justru datang dari pencarian dan penemuan refleksi dari cermin yang tersembunyi dalam diri. Proses pencarian mau tidak mau membawa kita ke titik terendah dan tertinggi, hitam maupun putih serta memperluas sudut pandang akan kehidupan. Kemudian kita akan menemukan cermin itu. Cermin yang hanya diri kita yang ada di dalam refleksi tersebut. Namun jika kita tidak mencari, bagaimana cermin tersembunyi itu bisa kita temukan dalam diri ini?. Dengan refleksi kita yang berpendar, bukan refleksi akan orang lain maka kita akan lebih bijak untuk menilai diri sendiri.
Semoga kalian juga menerima diri kalian apa adanya,
dengan cara kalian sendiri.
Foto diambil pada 5 Juli 2019.











Comments
Post a Comment