Jejak Islam di Masjid Tua Jakarta

Saya percaya bahwa Jakarta menyimpan berbagai harta karun yang tersebar disudut-sudut kotanya. Harta karun yang saya maksud bukan semata mata diukur oleh materi ataupun kepopuleran. Merujuk kepada sebuah tempat ataupun benda yang memiliki nilai keunikan dan sejarah yang terkandung didalamnya. banyak tempat indah yang mengandung seni tapi terkadang kita tidak cukup memaknai tempat tempat tersebut. Paling mentok hanya dijadikan sebagai objek foto lalu kita bagikan di media sosial. Tanpa mengerti apa, bagaimana, siapa... tempat itu hanya berhenti di pelupuk mata tidak sampai membekas di hati. 

Selamat Tahun Baru Islam, tepat di 1 Muharram 1442 H tanggal 20 Agustus 2020 saya melakukan perjalanan seorang diri untuk memahami tempat-tempat beribadah ini lebih dari sekedar membacanya dari buku ataupun artikel di internet. Beberapa lokasi ini saya pilih karena rekam jejaknya masih bisa kita lihat di depan mata. Jarak dari satu lokasi menuju lokasi lain tidak berjauhan. Saya memilih berangkat dari tempat tinggal pukul 14.00 dengan motor karena cahaya di petang hari lebih bersahabat sembari beribadah di lokasi dan saya susun urut sesuai rute perjalanan.

Mari kita mulai penjelajahan...


MASJID JAMI ANGKE (1761)

Perkembangan kota Batavia pada abad ke 18 menarik banyak pendatang yang berasal dari berbagai bangsa dan dari luar pulau jawa. Sehingga percampurannya tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya pada bangunan peribadatan ini yang terletak tak jauh dari pusat kota Batavia (Kota Tua Sekarang). Masjid Jami AL anwar atau yang lebih dikenal dengan Masjid Angke karena berlokasi di kampung Angke. Dulunya kampung ini dihuni oleh mayoritas orang Bali yang diperjualbelikan sebagai budak oleh VOC kemudian membaur dengan berbagai etnis dan suku bangsa yang berada disekitar kampung yang dilewati sebagai jalur perniagaan. Terlepas dari sejarahnya, cukup tercermin dari atap masjid yang bergaya perpaduan Tionghoa dan Jawa, Ukiran di pintu utama dengan aksen Bali, mimbar khas budaya Moorish dan jendela yang bergaya Eropa. Terdapat empat pilar yang menyimbolkan 4 sahabat Nabi Muhammad. Walaupun di beberapa sudut ada kayu yang sudah keropos dan lantai yang berdebu tapi saya merasa seolah kembali ke zaman awal pluralisme sebelum Bangsa ini merdeka.

Berhubung dengan motor saya memarkirkannya di area Masjid. tidak sulit untuk menemukan lokasi karena walau masuk gang ada penanda yang mempermudah kita menuju ke lokasi berikut akses nya tidak terlalu jauh dari jalan utama. Tapi karena tempat yang sempit di daerah pemukiman padat penduduk harus diparkir sedemikian rupa tanpa mengganggu warga yang lalu lalang.

Lokasi Masjid Jami Angke (silahkan klik)

Kumpulan foto:





















MASJID JAMI ANNAWIER (1760)

Selain berdagang bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam pada abad ke 18. Walaupun sosok mereka sudah tidak sebanyak dulu dan menyisakan beberapa keturunannya yang masih menetap di area Masjid.  Salah satunya Ustadz Dikky Abubakar Bashandid generasi ke empat pengurus Masjid Jami Annawier yang terlihat sedang Membaca Quran di sudut Masjid setelah ibadah Ashar. Menurut arkeolog Candrian Attahiyyat, arsiteknya adalah komunitas orang Arab dari Yaman, Hadramaut. Tanpa ada kubah seperti masjid pada umumnya dan terdapat pilar khas gaya Eropa yang berjumlah 33 sesuai dengan filosofi 33 kalimat Tasbih, Tahmid dan Takbir (bacaan seusai Shalat). dari beberapa masjid yang sudah saya datangi ini adalah masjid paling luas dibanding masjid  tua lain di sekitar pekojan.

Nampak Ustadz Dikky Abubakar Bashandid yang mengimami sendiri shalat Ashar waktu itu. Setelahnya beliau melanjutkan berdiam diri sembari membaca kitab suci kemudian ada dua bapak bapak yang menghampiri untuk menyalami beliau entah hendak mengobrol tapi beliau membari isyarat sedang tidak ingin diganggu sembari melanjutkan bacaan. Tak lama beliau menuju ke arah depan mimbar mengambil minum dan melanjutkan kembali bacaan dengan ponsel pintarnya tergeletak begitu saja. Pemandangan yang jarang saya temui di kehidupan sehari-hari dimana banyak orang yang sibuk melihat layar ponsel pintar dari waktu ke waktu tapi di sisi lain ada mereka yang justru teralihkan fokusnya karena perjalanan spiritual lebih dari segalanya diatas bumi ini. Sebagai generasi ke empat pemimpin kepengurusan beliau orang yang cukup penting mengingat tanggung jawab yang besar menjaga salah satu cagar budaya.

Lokasi Masjid Jami Annawier (silahkan klik)

Kumpulan Foto :







LANGGAR TINGGI (1829)

Kali Angke tempo dulu seperti ditulis Windoro Adi dalam Kompas edisi 31 Mei 2007, merupakan jalur pengangkutan barang niaga dan hasil bumi dari Tangerang dengan menyusuri Sungai Cisadane menuju pusat kota lama. Barang-barang tersebut di antaranya bahan bangunan, kain, rempah-rempah, duren, nangka, dan kelapa. Sehingga langgar ini didirikan disamping sungai  yang pada saat itu berfungsi sebagai jalur perniagaan. Jamaah dari jalur sungai dengan perahu atau rakitnya dapat langsung mengakases langgar dengan mudah  menyandarkan tanpa meninggalkan dan berjalan jauh. 

Berdasarkan wawancaranya dengan Ahmad Assegaff, warga Pekojan keturunan Arab, dulu Langgar Tinggi semarak dengan pelbagai keriaan. Setidaknya ada empat pesta tahunan yang diselenggarakan di sana, yakni khitanan bagi anak yatim piatu, mauludan (kelahiran nabi Muhaammad), mikrajan (isra mi’raj), dan khatam Alquran.

Saat pesta khitanan tiba, warga sekitar Pekojan, yakni dari etnik Jawa, Bali, dan Tionghoa, baik Muslim maupun non-Muslim, urunan mengumpulkan bantuan untuk ikut membiayai acara tersebut.

Sementara ketika mauludan dan mikrajan digelar, pelbagai hiasan dan makanan disajikan untuk memeriahkannya. Panggung yang didirikan di depan langgar dihias dengan janur, bunga kertas, dan lampion.

“Lampu lampionnya minyak kelapa bercampur minyak tanah. Kaum lelakinya memakai sarung madraz—sarung kotak-kotak warna coklat cerah—berkopiah, dan baju koko putih. Alas kakinya terompah,” kenang Assegaff sebagaimana dikutip Windoro Adi.

Lokasi Langgar Tinggi (silahkan klik)

Kumpulan foto :




















JEMBATAN KAMBING

Kenapa kambing? karena yang pasti bukan sapi. Jelas karena diujung jembatan banyak terdapat kambing yang diperjualbelikan. Mayoritas orang Arab suka makan daging kambing, oleh karena itu walaupun tidak sedang merayakan Idul Adha banyak kambing sepanjang jalan. tidak ada yang begitu istemewa dengan jembatan ini. seperti jembatan di sekitar sungaipada umumnya cuman yang membedakan setelah sampai di sis jembatan ke arah menuju masjid kita akan langsun disambut dengan aroma khas dan suara suara gemuruh hahaha. kalau kita menyebrang jembatan dapat kita lihat hamparan sungai angke yang dulunya padat oleh perahu dan rakit serta hiruk pikuk warga dari penjuru dunia.

lokasi tepat di seberang Masjid Annawier.

Kumpulan foto :






MASJID JAMI KEBON JERUK (1786)

Tidak begitu banyak bercerita karena bangunan aslinya tidak terlalu terlihat sudah banyak mengalamai perbaikan dan perluasan. Walaupun dibalik pilar-pilar bangunan baru masih terdapat pilar asli masjid pertama didirikan berikut dengan ornamennya. Menurut peniliti masjid ini, Parlindungan Siregar yang membangun masjid adalah perantauan Cina untuk mengakomodasi cina muslim di glodok. Arus zaman yang terus bergulir berikut dengan Jamaah yang terus bertambah sehingga banyak bagian yang dirubah karena pemerintah mengklaim sebagai situs cagar budaya pada tahun 1960an. sayang sekali jejak keasliannya sedikit dijumpai.

Masjid ini setiap harinya selalu dipenuhi dengan jamaah-jamaah transit, yang datang dari berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tempat-tempat yang telah diputuskan dalam musyawarah. Apa yang dilakukan di masjid ini adalah ingin mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya di Masjid Nabawi dulu. Bukan pada kemegahan bangunannya, atau keindahan arsitekturnya, tetapi pada amalan-amalan agama yaitu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, ta’lim dan taallum, dzikir dan ibadah serta hidmat (pelayanan).

Lokasi Masjid Jami Kebon Jeruk (silahkan klik)

Kumpulan foto :








Saya belajar bahwa Islam yang termanifestasi dalam setiap bangunan masjid oleh berbagai etnis dan suku bangsa mulai dari Tionghoa, Bali, Moor, Gujarat, Hadramaut dan Jawa mengajarkan bahwa keanekaragaman itu sebenarnya adalah berkah. Berkah yang menjadi bukti untuk melihat lebih dalam lagi bahwa  sumber dari kedamaian berasal dari perbedaan itu sendiri.


sampai ketemu di blog selanjutnya,..


Ardyan S Pratama

Comments