Pacitan dan Riuhnya Ombak Kelas Dunia

 



Bapak (Kakek) telah menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 19 Mei kemarin tepat dimana hari bertambahnya usia saya yang ke 28 tahun. Setelah siang sempat ber video call an dengan beliau, mama dan beberapa Tante yang menjaga di Surabaya, tiba-tiba sorenya kabar duka datang. Sebenarnya cukup kaget karena rencana pulang di awal tanggal 18 harus diundur karena ada project dari kantor sehingga mau tidak mau tanggal 21 baru bisa balik ke Surabaya. Acara selamatan yang digelar tujuh hari setelah bapak meninggal berakhir di tanggal 24, di tanggal 25 pagi saya dan adek langsung minggat ke Pacitan. Sepertinya Tuhan turut campur tangan, di awal sebelum ambil cuti saya sudah pasrah andaikan saya tidak bisa travelling dan harus jaga rumah pun tidak masalah karena kondisi bapak yang semakin drop. Mungkin Bapak ingin melihat cucunya ini berkesempatan ngelihat pantai, menjelajah pantai disana. Makasih pak, pengertianmu akan selalu kami ingat sampai kapanpun :)

Pacitan sudah menjadi destinasi yang tertunda semenjak pandemi datang tahun lalu. awalnya memang ingin melihat pantai yang dekat dengan Surabaya. Selidik punya selidik jarak tempuh pacitan ini ternyata kurang lebih sekitar 6-7 jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan roda empat. Waktu yang panjang, medan yang naik turun sangat setimpal dengan apa yang akan kalian semua lihat dengan mata kepala sendiri, percayalah. Hamparan Samudra Hindia membentang bak permadani, bergulung-gulung ombak dan desir  pasir pantai membungkam lukisan hasrat keegoisan manusia yang tidak pernah padam. 

Seperti biasa menyusun  Itinerary adalah hal yang wajib bagi saya untuk mengelola jadwal harian agar kami bisa ke tempat yang kami tuju dengan terarah. Tapi ya begitulah ya, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Ada saja halang rintang yang memaksa kami merubah rubah itinerary karena rencana belajar surfing yang baru kami tahu di hari H setelah kedatangan ternyata lebih rumit dari yang kami bayangkan. Mulai dari cek ombak, cek lokasi, pasang surut air laut, cuaca dan berhubung malam sebelum kami surfing ada Gerhana Bulan yang cukup mempengaruhi gelombang pasang surut air laut. Singkat cerita walhasil inilah Itinerary yang lumayan menguras pikiran hahaha :


Selasa, 25 Mei 2021

1. Keberangkatan

2. Check in Harrys Ocean House 1


Rabu, 26 Mei 2021

1. Pantai Pancer Door

2. Pantai Pangasan

3. Goa Gong


Kamis, 27 Mei 2021

1. Surfing di Pantai Teleng Ria (Check out)

2. Check in Harrys Watu karung

3. Puncak Bukit Pantai Kasap


Jumat, 28 Mei 2021

1. Sungai Maron

2. Pantai Watu Karung


Sabtu, 29 Mei 2021

1. Checkout kembali ke Kota Pacitan

2. Pantai Teleng Ria (pulang)


Keberangkatan

Selasa, 25 Mei 2021

Saya menggunakan jasa travel transpacitan untuk akses pulang dan pergi, informasi lengkapnya bisa langsung menghubungi nomor yang tertera dengan Bapak Slamet.  Biaya sekali jalan Rp 200.000 satu orang (Surabaya-Pacitan). Banyak sekali travel yang pergi di jam 20.00, karena terlalu malam dan sekitar pukul 04.00 pagi baru sampai penginapan sehingga alih-alih tidak bisa melihat pemandangan kanan kiri akhirnya saya pilih travel ini yang menyediakan perjalan di siang hari. Karena dari sekian banyak travel rata-rata berangkat di jam malam saja. 

09.45 Tepat kami di jemput di depan rumah, kami membawa dua buah ransel berisi perbekalan duniawi dan satu koper hand luggage kecil yang berisi pakaian, kamera dan laptop. Berhubung kami tidak sendiri jadi travel berhenti di dua tempat pemberhentian untuk mengambil paket dan menjemput penumpang lain yang berjumlah 6 orang total termasuk kami sebelum masuk tol keluar Surabaya.



11.30 Kami baru memasuki tol dan memang karena keberangkatan di siang hari pasti ada macetnya, perjalanan yang harusnya ditempuh lewat tol Solo - Kertosono dengan rute keluar di madiun. Malah di sekitar Nganjuk sudah keluar tol hahaha, ya mungkin untuk menghemat biaya pengeluaran travel. Ditambah driver berhenti total tiga kali selama perjalanan untuk istirahat. Sebenarnya kondisi mobil elf nya masih ok cuman berhubung kaca driver sering dibuka jadi kadang ac nya kurang terasa tapi setimpal dengan harga yang dibayarkan no worries. jadi yang berangan-angan untuk traveling on budget dengan fasilitas yang mewah ala bintang lima atau seperti para selebgram yang berlalu lalang di jagad sosial media sayang sekali kalian salah baca blog.


istirahat kedua di yaak lupa


18.02
Disela melewati jalan berbukit yang naik dan turun, Pak Supri driver travel sempat banyak bercerita ke kami yang belum pernah menyentuh Pacitan ini bagaimana aman dan ramahnya orang pacitan serta beberapa tragedi kecelakaan yang sempat terjadi beberapa hari lalu di jalan yang kami lewati. Sempat penumpang dibelakang kami seorang Bapak bertanya kepada driver, tasik tebih nggih? yang artinya masih jauh ya? dan memang jauh karena Pacitan adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak bagian selatan Pulau Jawa.

19.26 Sampai di tempat penginapan.  Akhirnya guyssssss.......... Kami memutuskan menginap di Harrys Ocean House 1 kontak dan reservasi langsung bisa hubungi Mbak Tina yang mengelola penginapan. tapi sayang sungguh sayang kami diturunkan travel di harrys ocean house 2 haha padahal saya sudah pastikan berkali langsung dan dengan kirim share location ke driver tapi ya namanya juga manusia.  Kami baru tersadar ketika bertemu langsung seorang bapak-bapak yang menyambut kami dengan ramah, setelah menjelaskan singkat tujuan kami, untungnya tidak terlalu jauh sekitar 50 meter jalan ke tempat menginap kami di harrys ocean house 1.  Awal itinerary, perkiraan kami bisa jelajah pantai Pangasan karena ekspektasi kami sampai jam 4 sore dan di peta aplikasi pun jarak tempuh kurang lebih 30 menit. Tapi karena sudah tidak memungkinkan ya tidak jadilah alias reschedule. Saya langsung pesan motor yang saya sewa sampai hari terakhir. Per harinya cukup Rp.50.000. Untuk makan malam, kami beli pecel lele di angkringan perempatan jalan di Jalur Lingkar Selatan (JLS) bersebrangan dengan Kantor Pertahanan Kabupaten Pacitan.  Walaupun jarak dari alun-alun kurang lebih 500 meter, jam 7 malam itu di sekitar penginapan sunyi senyap. Suara yang paling ramai menurut saya adalah suara saya dan adek ngobrol bingung kontak sana sini dan ganti jadwal buat besok karena saking sepinya suara adek yang sedang ngobrol di luar kamar sampai kedengaran dari dalam kamar hahaha.


bapake Supri nge prank yo pak?


Harrys Ocean House 1

Malam sebelum kami tidur kami masih mondar mandir, beruntungnya dibantu mas Gayung yang siap bantu di penginapan. Berhubung besok rencana kami akan belajar surfing kami di rekomendasikan untuk kontak Mas Rian. Seperti yang saya ceritakan di awal, tidak semudah itu ferguso lau pikir ini di mall? haha. Medan kita alam cuy, ombak Samudra Hindia!. Berhubung masih menunggu kabar karena Mas Rian harus cek lokasi dan sebegainya diambang ketidak jelasan hari esok tapi tentunya selalu ada plan B. Si adek yang mau tanya informasi surfing baru keluar kamar kaget ada bule mbak-mbak yang nyapa dia selamat malam, eh ternyata bule itu ya Mbak Tina yang selama ini saya hubungi. Mbak Tina orang perancis yang sudah kurang lebih 16 tahun di Indonesia. Menikah, punya 2 anak dan menetap di pecahan surga yang jatuh ke Jawa Timur ini. Mbak Tina bilang kalau Owner dari penginapan Harrys ini adalah seorang legenda surfing di Pacitan yaitu Pak Hari. Beliau lah yang pertama kali mempunyai banyak kenalan turis dan menampung teman mancanegaranya karena olahraga selancar. Beliau akhirnya berinisiatif untuk membuka bisnis penginapan di dekat pantai Pancer Door di daerah kota dan di Watu Karung. Lebih lucu lagi kami baru aja disambut dan bertemu beliau ketika baru menginjakkan kaki di pacitan. Jadi yang menyambut kami di Harrys ocean house 1 yang salah tadi adalah Pak Hari.  Gak nyadar blaaaaassss. haha 

Saya menemukan penginapan ini agak susah karena yang tercantum di aplikasi online cuman yang harrys ocean house 2 dan yang di Watu Karung. Tapi saya berterima kasih berkat kemutakhiran teknologi Instagram saya dapat menemukan penginapan yang hilang ini hahaha, emang bak harta karun dia tersembunyi dari belantara dunia internet. Saya dapat harga Rp 170.000 untuk kamar bungalow twin bed dengan segala fasilitas yang bisa kalian cek dan klik langsung di harrys ocean house pacitan (instagram).

Kumpulan foto selama beberapa hari:

pak frog










dapur milik bersama




Pantai Pancer Door

Rabu, 26 Mei 2021

05.40 Bangun siap-siap bertandang ke tetangga sebelah alias pantai Pancer Door yang dekatnya cuman beberapa meter saja dari penginapan. Suasana pagi, langit cerah dan ruam-ruam cerita kelam tidak saya lihat dari kejauhan. Misteri angin pantai membawa kami, mempertemukan kami pada bias yang tak jelas. Ketidakjelasannya membimbing kami menapaki halusnya bulir pasir dengan telanjang kaki. Di ujung saya lihat manusia yang menghela nafasnya perlahan. Ada yang berlari kecil, tertawa bahkan, ada yang duduk santai dan ada yang termenung sekejap seperi saya. 














adymotret




ianmotret


adymotret ternyata lebih yahud





Pantai Pangasan

08.35 Berangkat menuju Pantai Pangasan. setelah memastikan bensin aman karena disini jarang ada POM jadi harus waspada jangan sampai hal konyol bensin habis di tengah jalan. Pemandangannya buat saya teriak teriak kaya orang gila. bagus banget pagi hari udara nya segar perjalanan naik turun bukit disambut warga yang ramah-ramah karena mungkin masuk kawasan pedesaan yang jarang ada pendatang ataupun wisatawan. Beginilah yang namanya hidup kalau drama tidak muncul itu memang bukan hidup. Tiba tiba ditengah tanjakan mesin motor beat yang kami tumpangi tidak kuat cuy buat naik. Walaupun tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan tapi disetiap tanjakan yang curam saya bergantian sama si adek turun motor,  untuk jalan haha. ya mau gimana lagi dari pada dari pada ye kan!?. Sudah ada beberapa orang yang berhenti tanya ada masalah atau tidak, tapi kalau travelling lancar lancar aja itu gak asik harus ada bumbu blackpepper atau kalau perlu bumbu saos padang biar mantap. kesasar juga sampai untungnya ada bapak yang habis cari rumput mengarahkan kami ke jalur yang benar. Sempet saya marahi  berulang kali si adek karena salah baca peta waktu bergantian bonceng dan menurut saya ini salah dia jadi beban motor terlalu berat. Kalau si motor curhat wes ngomong ampun booskiuuuh. bercende yo guys. 

Uniknya pantai ini dari pantai yang lain adalah tipe pantai yang tidak memiliki pasir. Justru dipenuhi batu karang yang terhalang langsung oleh tebing curam dengan area persawahan yang terhampar panjang dari atas bukit sampai titik terendah menyentuh bibir pantai. Ada beberapa spot yang harus di jelajahi walaupun medan nya masih alami dan waktu kami kesana, masih dalam tahap renovasi, jalan menuju pantai tempat kami menaruh motor sedang di perbaiki. banyak orang yang tanya asal kita dari mana, warga setempat sangat baik, ramah dan terlihat excited dengan kedatangan kami. Tak lama setelah kami datang ada segerombolan ibu-ibu yang bawa bekal dan langsung mencari spot untu ngerujak. Kami ditawari cuy padahal siapalah kami orang asing ini. Saya jujur tersenyum dengan perilaku sederhana mereka itu sangat mewah buat kami yang tinggal di Kota. Pesona Pantai Pangasan setidaknya membawa orang terhanyut untuk melebur menikmati apapun berkat dalam kesederhanaanya. Entah siapa yang menemukan pantai ini duluan tapi yang jelas potensi yang besar cukup kami rasakan setelah beberapa tahun lagi, semoga.






















selamat untuk ibu ibu grup arisan cabang pangasan kalian masuk blog ku! gimana? biasa aja kan





terima kasih bukit yang membuat kami stress dan deg-degan pol waktu itu



Goa Gong

13.30 Waktu makan siang kami putuskan berhenti di sebuah warung makan Bakmi Jowo di tengah perjalanan menuju Goa Gong. Saya merekomendasikan warung makan ini disamping waktu kami datang ramai, harga dan rasa yang terjangkau, ternyata makanannya jauh lebih enak dari apa yang kami bayangkan. 



14.20 Sebenarnya butuh waktu agak lama memutuskan destinasi selanjutnya karena saya baru dapat kabar dari Mas Rian ketika kami di pantai Pangasan, bahwa surfing tidak bisa hari ini. Jadi kami memutar otak jangan sampai hari ini berlalu semudah itu.  Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 42.000 berikut dengan motor dan dua kepala kami memasuki dengan sarung tangan yang kami beli di pintu masuk karena diberlakukannya penerapan protokol kesehatan. Memasuki jembatan yang entah apa faedahnya dengan berhiaskan payung payung menjadi jalan masuk menuju ke mulut Goa. Sebelum masuk saya memutuskan untuk menggaet pemandu dan sewa senter. Untuk pemandu cukup Rp.  30.000 ditambah Rp.5000 untuk senter. Pak adi menjelaskan kepada kami dengan detail tentang tujuh ruangan yang mengisi goa sepanjang 256 meter. Ada Ruang Sendang Bidadari, Ruang Bidadari, Ruang kristal, Ruang Marmer, Ruang Bertapa dan Ruang Batu Gong. Ada juga beberapa Mata air yang masih sampai sekarang masih aktif dan diberi nama indah seperti Sendang Jampi Rogo, Relung Jiwo, Panguripan, Kamulyan, Relung Nisto sesuai dengan kepwrcayaan warga setempat. Stalaktit dan stalakmit yang menghiasi dinding goa membentuk formasi yang berbeda. Ada yang sampai bertemu di pertengahan hingga membentuk sebuah pilar. Diantaranya terdapat batuan marmer dan kristal yang berkilauan jika tersorot lampu senter. Si adek sampai terkaget-kaget melihat kemegahan goa yang selama ini dia kira cuman sekedar goa gelap dan sempit. maklum kebanyakan nugas. Walaupun terdapat pendingin ruangan yang tersebar di beberapa sudut, tetap hawa terasa lembab dan sedikit pengap sampai kami basah kuyup. Padahal wisatawan pada saat kami berkunjung terhitung tidak penuh.

Dari perjalanan saya melihat Pacitan ini banyak memiliki perbukitan yang tandus dan cenderung kering karena dikelilingi bukit dan pegunungan kapur. Tapi inilah bukti keadilan hukum alam bahwa Pacitan diberi keindahan bawah tanah yang sudah di akui UNESCO tidak tanggung-tanggung cuy. Menurut Pak Adi, goa ini ditemukan di tahun 1924 oleh sesepuh disini yaitu Mbah Noyo dan Mbah Joyo yang mencari sumber air di musim kering karena susahnya mendapatkan air. Hingga akhirnya beliau-beliau ini menemukan sebuah lubang yang ternyata sangat dalam dan besar. Setelah menelusuri lubang akhirnya mereka menemukan sumber air yang dilestarikan hingga sekarang. Pak Adi menjelaskan jika hujan air akan menetes dari dinding goa tapi tidak sampai banjir atau bahkan tenggelam. 







Asal mula bunyi gong dari dinding stalaktit pipih yang dipukul sehingga menimbulkan bunyi menyerupai gong




Kristal 











malam harinya saya menyaksikan Gerhana dan saya abadikan dengan kamera Ponsel saja


Surfing di Pantai Teleng Ria

Kamis, 27 Mei 2021

07.00 Setelah cek dan ricek segala persiapan kami berangkat dijemput Mas Rian bareng ke Pantai Teleng Ria bersebelahan dengan dermaga. Disana Mas Rian mengarahkan kami karena ombak tidak terlalu besar. dengan biaya Rp 350.000 per orang per dua jam kami dapat merasakan berselancar diatas ombak sampai kami bisa berdiri diatas papan selancar ya walaupun hitungan detik jatuh tergulung ombak. Sebenarnya konsepnya hampir sama dengan skateboard, menjaga dan mengatur kesimbangan, apalah arti teori tanpa melakukan praktek. Belum tentu semua bisa. Walaupun meninggalkan bekas luka di telapak kaki dan lecet di tumit justru adek saya aman dari ujung kaki sampai kepala dan yang lebih penasaran dia karena mungkin basic olahraga air ini sama dengan selam yang dia tekuni. Tapi perasaan dapat berdiri diatas papan selancar itu tidak terganti dengan apapun karena walaupun cukup ekstrim dan berpacu dengan alam banyak yang harus kita perhatikan selama berselancar selain mengendalikan keseimbangan. Mas Rian mengajari kami dengan cukup telaten karena kami dari nol, buta dengan dunia persurfingan andaikata kegulung ombak yasudahlah tapi berkat tangan dingin dan kesabaran Mas Rian kami jadi ketagihan Surfing. si adek aja sempat mengutarakan mau belajar lagi. Jika kalian tergelitik buat coba bisa langsung kontak disini : rianpratama87 (Instagram) atau kalian bisa minta nomor Mas Rian lewat Mbak Tina. Beliau sudah melanglang buana ke berbagai kompetisi lokal maupun internasional jadi jangan ragu, karena kalian berada di tangan yang tepat.

Dengan keadaan alam yang cukup menunjang dan berpotensi, ombak di pacitan adalah jujugan peselancar profesional dari lokal maupun internasional. Sangat disayangkan justru Mas Rian menambahkan kalau warga lokalnya kurang ada peminat di bidang olah raga air ini. Kalau saya boleh kasih info, kalian boleh baca artikel ini :

Kompetisi Hello Pacitan Pro untuk Seluruh Surfer Dunia

Ombak Surfing Kelas Dunia di Pacitan

Apa yang kalian tunggu lagi? 






















suwun master


Harrys Watu karung

11.24 Tepat setelah check out, kami bergegas menuju Harrys Watu Karung dengan motor sewaan yang kami bawa dari penginapan dengan catatan kami izin dulu ke Mbak Tina lalu pada hari H pulang kita kembalikan motor sembari menunggu travel di Harrys Ocean House 1. Dibilang backpacker ya memang bawa backpack tapi kok juga bawa koper ya? hahaha piye? bingung kan


12.10 Sesampai di Watu Karung kami disambut Mbak Poppy. Mbak Pop ini yang mengelola di Harrys Watu Karung. waktu itu saya dapat harga di salah satu aplikasi sekitar Rp 170.000 per malam untuk kamar twin bed dengan kamar mandi dalam. Kalian bisa cek dengan mudahnya di aplikasi online atau hanya dengan kontak langsung Mbak Pop di sini Harrys Watu Karung. Waktu bertemu Mbak Pop saya gagal fokus ke meong haha banyak kucing apalagi kucingnya Mbak Pop si Gal Gadot yang nangkring di motor langsung pas baru si adek parkir. Jangan takut kelaperan ada warung yang jual sembako di sekitaran penginapan, ada atm link buat yang butuh cash dan yang paling penting ada warung makan dekat penginapan yang sampai jam 9 malem buka. Ada dapur bersama juga buat yang mau bikin sarapan untuk sekedar kopi, gula dan teh disediakan sama seperti di harrys ocean house 1. berhubung kami datang diluar weekend jadi cuman kami yang menginap disana. Malamnya kami bercerita soal banyak hal sama Mbak Pop. Ternyata Mbak Pop kenal Mas Rian juga, justru dulu sekitar dua tahun lalu Mas rian yang mengurus Harrys di Teleng Ria dan di Watu Karung. Sebenarnya ada beberapa penginapan, banyak bahkan yang berbentuk cottage dan bungalow tapi entah kenapa Harrys ini punya sihir yang membuat saya merasa tiba tiba ada perasaan akan nyaman dan betah di awal saya mencari peninapan dan benar terjadi, entahlah mungkin cuman perasaan karena belum mencoba penginapan yang lain. Mbak Pop kalau kamu baca ini aku dan adek berterima kasih yang sebanyak banyaknya unuk segala bantuannya, jueles pol dengan kehidupanmu di pecahan surga disana hahaha tapi tidak untuk kehidupan berpolitiknya. Besok besok kita kudu foto bareng yo mbak

Kumpulan foto selama beberapa hari :



















dari porsi wes kelihatan toh 





dapur milik bersama


strap mask yang bisa kalian beli langsung di Mbak Pop

pin dan tote bag di sponsori oleh .......


Puncak Bukit Pantai Kasap

16.39 Setelah menaruh barang dan beristirahat sejenak di penginapan tanpa membuang banyak waktu kami bergegas pergi ke Pantai Kasap.  Cukup 5 menit dengan motor kami sudah sampai. Daya tarik pantai ini terletak pada puncak bukitnya yang dikelola oleh warga menjadi tempat wisata. Pemandangan dari puncak bukitnya membuat kami kagum akan kemegahan Samudra luas yang tak terbatas. Misteri di balik birunya laut berbaur dengan semerbak jingga tenggelamnya matahari di ujung .

Sebenarnya sering saya jumpai slogan seperti Bandung is Paris Van Java dan lain sebagainya, sama seperti Pantai Kasap Raja Ampatnya Pacitan. Saya jujur tidak begitu setuju dengan konsep slogan seperti itu. Kita tidak harus menyamakan tempat yang lebih keren atau lebih menjual untuk memasarkan tempat lain. karena Raja Ampat di Papua sana berdiri sendiri begitu juga dengan Pantai Kasap yang mempunyai citra dan keunikannya sendiri. Kalau saya jadi Pantai Kasap saya ogah disamain kan saya punya kelebihan sendiri heheh.... Mungkin masyarakat kita menganggap masih lebih afdol dan lebih menarik jika ada satu tempat di daerah mereka yang mudah untuk dijangkau yang mirip dengan suatu tempat di belahan dunia lain. Padahal kan setiap tempat memiliki keunikannya masing-masing, ya beginilah jika hal simpel saya bikin rumit sendiri haha.
































Sungai Maron

Jumat, 28 Mei 2021 

07.14 Setelah sarapan kami langsung jelajah bukit yang mengapit Pantai Watu Karung, di kanan dan kiri ada bukit yang sudah disediakan anak tangga yang dibangun menuju hingga ke puncak bukit . Walaupun ketinggiannya tidak setinggi bukit di Pantai Kasap tapi pemandangannya cukup indah di pagi hari. Hamparan Pantai Watu Karung tergambar jelas bak lukisan Raden Saleh. Setelah jelajah perbukitan kami langsung tancap gas ke Sungai Maron yang tak jauh dari penginapan sekitar 25 menit ditempuh dengan motor. 









09.10 Kami memasuki loket pertama, pembayaran cukup Rp.10.000 saja untuk dua orang. Untuk naik perahu ada biaya sebesar Rp.100.000 per perahu. Setelah ambil safety jacket kami berdua dibimbing bersama Pak Hasbi yang mendampingi kami di perahu menjelajahi Sungai Maron sepanjang 8 KM pulang-pergi. Beliau sangat ramah dan informatif. Kami banyak bertanya tentang seluk beluk yang ternyata wisata sungai ini baru diresmikan oleh pemrintah setempat di tahun 2015 berbarengan dengan peresmian Pantai Klayar yang sangat terkenal akhir-akhir ini. Ada wisata telusur sungai juga di dekat penginapan di Watu Karung yang bernama Sungai Cokel, kurang lebih hampir sama cuman perbedaanya ada di jarak jelajah yang pendek dan lebar sungai yang jauh lebih luas Sungai Maron. Mesin perahu berjalan tidak tergesa-gesa, kami melihat cahaya yang masuk dari celah serambi jari jemari daun kelapa di pinggir sungai. Beliau bercerita di bulan sekitar pertengahan tahun ada monyet hutan yang turun mengambil buah jambu yang ada di sepanjang pinggir sungai. Pun saat itu kami melihat beberapa biawak yang sedang berenang ke hilir. 


dhuar pas saya lihat bapake lha kok mirip pak Mutoin (driver kantor) haha maapin yo pak









ianmotret lebih bagus kan dari pada adimotret? gimana gimana? enggak ya?















Pantai Watu Karung

15.00 Saya sudah berkali-kali ingin bertanya ke Mbak Pop tentang penamaan pantai Watu Karung tapi entah kenapa berkali-kali juga lupa nya, padahal sering ketemu mondar mandir di penginapan. Dari hari pertama hingga sekarang ini termasuk hari yang paling santai di banding dengan sebelumnya. Kegiatan di Pantai Watu Karung pun saya habiskan dengan jalan kaki dari ujung hingga ujung. Ketika air sudah mulai surut di sore hari disitulah berdatangan warga yang mencari berbagai biota laut yang bisa diolah untuk dikonsumsi mulai dari kerang, siput laut, bulu babi dan bahkan ada yang berburu gurita dengan alat seadanya. 
















ini gurita hampir mati kasian

setelah dipindahin jadi segar lagi

ini pantai sebelah tetanggaan sma Pantai Watu karung aksesnya gampang tinggal naik turun bukit cuman 3 menit jalan kaki, 2 menit jalan cepat dan 1 menit lari (sebuah info gak penting)


mencari spot buat melanjutkan baca buku pak pram yang tak kunjung usai ini


adymotret leh uga





Jika Aku Menjadi.... pencari jingking, apakah itu? silahkan ke mbah gugel







mari kita beri sambutan yang meriah untuk adimotret guysss ..... sungkem













gak rugi amat lah kuliah DESPRO. boleh lah



Pulang

Sabtu, 29 Mei 2021

dengan segala kebaikan Mbak Pop di hari terkahir ini kami diberi kebebasan untuk late Check out oleh Mbak Pop :) kami memutuskan untuk menggunakan waktu sebaik mungkin di sini. Sekitar pukul 16.00 ojek yang kami pesan lewat Mbak Pop sudah siap mengantar kami. Berhubung jalan menuju kota akan menanjak maka saya putuskan untuk ngojek Rp 50.000 sekali jalan karena saya tidak mau kejadian di Pantai Pangasan terulang kembali. hahaha cukup sekian dan terima kasih kalo itu.  Adek bawa ransel dan motor sewaan dari Mbak Tina (Harrys Ocean House 1) sedangkan saya sama ojek dengan nggembol (membawa) hand luggage ditengah. 

17.10 Setelah sampai harrys ocean house ternyata di penginapan banyak mobil dan motor, saya baru ngeh kalau hari ini hari Sabtu jadi pasti penginapan ramai, tapi seramai ramainya tidak akan berisik dan mengganggu kok.Setelah mengembalikan motor kami langsung ngacir ke Pantai Pancer Door untuk lihat sunset tapi apadaya sudah redup. Disana kami saling terdiam melihat jagad agung milik Sang Kuasa yang sedikitnya membuat kami kagum. Hamparan langit di sekeliling kami terbuka seluas-luasnya tanpa tertutupi dan tidak terhalangi sesuatu pun. Hingga samar samar suara Panggilan Mu terdengar baru kami beranjak pulang

21.00 Travel kami menjemput, berakhir sudah perjalanan menjelajahi bagian selatan pulau jawa yang kami kira tidak akan pernah ada habisnya untuk di jelajahi. Kabupaten Pacitan berdiri di sepanjang bibir pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Di sepanjang itulah berbagai nama pantai lahir mulai dari ujung timur Pacitan hingga ujung barat bertemu dengan Provinsi D.I Yogyakarta. Saya percaya masih banyak lagi potensi lama dengan tempat-tempat yang masih alami yang belum terjamah. Saya banyak belajar dengan adek saya. Awal sebelum perjalanan ini berlangsung niat saya memang saya lakukan seorang diri. Tapi karena adek saya juga ingin refresing dari dunia perkuliahannya disamping ada mata kuliah fotografi yang harus dia selesaikan akhirnya kita bergabung mejadi power ranger. Leonardo Davinci mengungkapkan bahwa jika engkau sendiri, engkau memiliki dirimu sepenuhnya, jika engkau ditemani oleh satu orang maka engkau hanya memiliki dirimu setengahnya bahkan kurang karena eksistensimu harus bernegoisasi dengan eksistensi temanmu yang lain. Jadi momen kesendirian itu penting agar kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Kita semua butuh momen dimana kita menikmati hidup sebagai diri sendiri. Walaupun perjalanan kali ini saya tidak sendiri, saya berterima kasih untuk waktunya, akhirnya kita sebagai saudara kandung punya cukup banyak waktu untuk berdialog. Bukan tentang dengan siapa kita bepergian tapi yang penting hal apa sajakah yang kita dapat selama kita bepergian.

Terima Kasih Pacitan.















Comments