Sisi lain Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat




Terima kasih INTM, program yang membuat saya selalu bisa multi tasking dalam segala hal. Saking multi taskingnya saya sampai merasa pernah habis ide dengan setiap konsep yang diberikan tim produksi. Otak kanan saya diperas mampus. Capek batin dan mental mengurus kebutuhan fashion dari ujung rambut sampai ujung kaki 18 model INTM Cycle 2 di Runway Challenge. Walaupun saya satu tim berdua tapi cukup menantang karena tantangan tidak dirasakan oleh model saja tapi juga crew yang bertugas di belakang layar. Keseruan itu akhirnya berakhir dan terbayarkan di Grand Final tgl 14 Januari 2022 kemarin.

Terletak di Provinsi Papua Barat, Kabupaten Raja Ampat memiliki empat pulau besar. Ada Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Sebenarnya banyak sekali pilihan wisata di Raja Ampat. Lokasi yang paling terkenal ada di Wayag dan Piaynemo. Untuk menuju kesana dapat menggunakan jasa agen seperti Open Trip ataupun juga Backpacker. Namun ke Raja Ampat itu tidak melulu harus pergi kesana karena memang tergantung dengan preferensi masing-masing. Apa yang teman teman ingin dapatkan dari Raja Ampat?. Keindahan bawah lautkah, merasakan sensasi memancing ditengah laut sambil menikmati kuliner atau sekedar jelajah pulau dengan bonus foto foto indah yang sudah ada dan bertebaran di  berbagai sosial media. Kebetulan saya lebih memilih untuk tinggal dan menghabiskan waktu di penginapan di pulau Waigeo tepatnya di desa Saporkren sekitar 12 KM dari kota Waisai. Beberapa rencana yang tadinya sudah saya buat berubah dan malah bertambah daftarnya karena saya membaur begitu saja dengan warga lokal sehingga saya mendapatkan akses yang tidak banyak didapat.
Singkat cerita awal perjalanan ini sempat berubah - ubah tujuannya seperti musim hujan di bulan Mei yang sudah tidak punya jati diri haha. Tapi H - 10 tiket pesawat yang awalnya dari Jakarta - Sorong bisa mencapai 2 juta bahkan lebih tiba tiba turun harga jadi sekitar 1,5 juta begitu juga dengan tiket baliknya. Dari Sorong ke Surabaya sekitar 1,1 juta. Walhasil saya langsung memantapkan diri dan segera riset. Ini Itinerary yang saya jalankan selama di papua dengan tujuan yang santai dan waktu yang tidak tergesa-gesa :

Jumat, 21 Januari 2022
1. Keberangkatan (Jakarta - Sorong)

Sabtu, 22 Januari 2022

2. Keberangkatan (Sorong - Waisai)
3. Waisai - Penginapan

Minggu, 23 Januari 2022

1. Trekking dan Bird Watching
2. Snorkling di Penginapan

Senin, 24 Januari 2022

1. Desa Yenbeser
2. Desa Raswan
3. Snorkling di Friwen
4. Desa Saporkren

Selasa, 25 Januari 2022
1. Kota Waisai
2. Warsambim
3. Kalibiru

Rabu, 26 Januari 2022
1. Waisai - Sorong



Keberangkatan (Jakarta - Sorong)
Jumat, 21 Januari 2022


18.00 WIB Saya menuju Bandara dengan transportasi online,  karena hari jumat jadi harus berangkat lebih awal untuk menghindari macet.

Sampai jumpa lagi lampu merah Cipete


21.00 WIB  Setelah cek in dan menunggu, saya masuk ke pemeriksaan di ruang tunggu. Namun karena pegawai bandara melarang saya bawa tripod masuk kabin jadi mau gak mau balik lagi ke tempat cek in untuk nitipin seonggok tripod ke bagasi hahah. Akhire bualik maneh haha... Maksud hati ingin lebih cepat karena ngejar kapal pagi dan gak pake nunggu bagasi eh malah kena bagasi. Sempet cari solusi karena barangnya fragile dsb ke pegawai bandara tapi katanya saya masih cukup banyak waktu jadi dipersilahkan untuk nitipin bagasi, dalam hati... oh berarti bisa nih kalo masuk mepet alias buru buru , aman nih kayanya hhahaha. Namun sudahlah mari kita taati peraturannya.



01.55 WITA sampai di Bandara Sultan Hassanudin Makassar saya agak susah tidur karena tiba tiba inget jaman Shift pagi dulu awal di NET.  Sempat cari dan pindah beberapa spot juga tapi gak begitu ngefek pek. Apalagi bantal leher ku gak kubawa itu nyesel puol.




04.05 WITA mulai masuk pesawat dan di jam jam ini sudah semakin susah tidur








Sabtu, 22 Januari 2022
Keberangkatan (Sorong - Waisai)

06.53 WIT Akhirnya saya sampai Bandara Domine Eduard Osok dan bener seonggok tripod ku tak kunjung menampakkan batang hidungnya hahah. suwi puol (lama banget). Sampe jam 07.27 baru nongol langsung ciao cari driver dengan biaya 100 ribu untuk ngejar kapal feri di Pelabuhan Rakyat Sorong. Ada opsi ojek motor yang lebih murah tapi karena gerimis dan cuacanya sedikit gloomy jadi saya berganti haluan. Jangan khawatir kekurangan armada karena banyak yang menawarkan ketika keluar bandara jadi tinggal pilih aja menyesuaikn budget dan kondisi cuaca.
saya bayar parkir mobil masuk pelabuhan 5 ribu saja turun depan loket langsung. Namun guys belum buka loketnya haha. Karena saya sampai sekitar jam delapan kurang lima belas menit. Kecepetan. Info dari warga, loket baru buka jam 8 pagi dengan pemberangkatan kapal tujuan Sorong - Waisai dari Pelabuhan Rakyat Sorong di jam 9 pagi dan jam 2 siang begitupun sebaliknya.








09.15 WIT Kapal berangkat dari Pelabuhan Rakyat Sorong menuju ke Waisai di pulau Waigeo dengan biaya 100 ribu. Kebetulan karena kapal tidak terlalu penuh jadi kelas ekonomi rasa VVIP yang harganya 215 ribu. Waktu itu saya ada pilihan di atas atau di bawah. Karena pertimbangan di bawah lebih cepat akses keluarnya jadi saya pilih di bawah. Pemandangan di dok atas pun juga tak kalah bagus.











Waisai - Penginapan

11.22 WIT Sampai di Pelabuhan kota Waisai saya langsung cari beberapa ojek, membandingkan harga dari ojek ojek yg sudah saya tanyai. Rata-rata ojek pada minta 100 ribu cuy gak bisa nawar karena kalau tujuannya ke waisai kota lebih murah sekitar 20-30rb jatuhnya. Namun ini kan ke Saporkren di ujung sampai jalan beraspal habis, kata mas Dian namanya. Asal dari Tulungagung. Sudah di Waisai sekitar 7 tahunan. Mas Dian cerita banyak hal. Saya penasaran dan mengulik cerita cerita tentang OPM (Organisasi Papua Merdeka)
menurut beliau dia tidak setuju jika memang papua harus berpisah dari NKRI. menurut opini beliau yang pendatang kurang lebih seperti itu. Selain itu beliau bercerita tentang watak sebagian warga asli atau suku yang tidak takut dengan polisi bahkan TNI setempat, Kalau mereka benar mereka berani memperjuangkannya apapun itu.







12.00 WIT Saya Sampai di penginapan Mandos Homestay. Dimana dari pelabuhan Waisai ambil jalur kiri mengikuti jalan aspal sampai habis. Kemudian di sambut Pak Peter dan Mama Ana, sorenya ada mama Eka yang baru datang dari pasar Waisai bersama Bang Erland.  Makan - snorkling - tidur - makan - tidur haha. Waktu melihat jernihnya air laut saya sampai tidak bisa mendeskripsikannya karena jernih sekali, terumbu karang dan penghuninya bisa kita lihat dengan jelas. Sesampai di penginapan sebenernya kamarnya penuh karena ada rombongan menginap dari Sorong yang keesokan harinya dipagi hari sudah kembali pulang. berhubung siang ini mereka sedang ke Piaynemo jadi di penginapan sepi. Saya dapat kamar di ujung dekat dengan kamar keluarga. Minggu setelah tamu rombongan kembali pulang saya bebas pilih kamar kata Mama Eka mau yang dimana. Ternyata tamunya rombongan buanyak pol dari Sorong selatan. Sewaktu mereka pamitan di keesokan harinya ada mama-mama salah satu tamu dari Sorong selatan yang pamitin saya beliau bilang selamat menikmati keindahan papua.





















Saya dapat kontak penginapan ini dari facebook. Kontaknya dengan Ibu Edel di 081248502635. Biaya penginapan waktu saya menginap di Bulan Januari 2022 ini 400 ribu per orang sudah lengkap dengan sarapan, makan siang dan makan malam. Jika ingin lebih hemat lagi ada biaya cuman 250 ribu tapi tanpa makan tiga kali cukup biaya menginap saja. Kamar mandi dengan toilet duduk yang cukup sederhana terletak di daratan. Ada air tawar yang cukup dan jangan kebingungan akan kehilangan sinyal karena provider telkomsel saya sangat cukup baik walaupun tidak full bar. Tapi karena saya berpindah pindah jadi sering hilang muncul. Untuk listrik juga 24 jam di penginapan non stop. disediakan kelambu karena terkadang banyak nyamuk di malam hari.



Minggu, 23 Januari 2022
Trekking dan Bird Watching

04.25 WIT Kabar duka datang dari salah satu Budhe di Surabaya meninggal dunia. Karena sinyal yang ada dan tiada jadi infonya datang terlambat. Saya sempat mau menelepon orang rumah tapi saya ingat di sana pasti masih jam 3 pagi jadi saya cukup memunggu update sembari bergegas bangun. Singkat cerita, Saya segera bersiap untuk trekking ke hutan melihat burung endemik khas papua, Burung Cendrawasih. Burung Cendrawasih ini susah-susah gampang untuk dilihat karena beliau orangnya sensitif. Berisik sedikit langsung pindah tempat, ngelihat warna pakaian merah dibawah langsung kaboor dsb. Jadi kita harus mengendap dengan mode senyap.

05.00 WIT Saya ditawari Pak Peter untuk Bird Watching di hari pertama saya datang, gak pake babibu langsung saya iyain walaupun Cendrawasihnya belum tentu kelihatan/muncul. Perjalanan ditemani Bang Erland, dimulai saat masih gelap.. Ditengah perjalanan mampir ke rumah Bang Melki salah satu pemilik spot untuk melihat Cendrawasih. Kami bertiga baru mulai perjalanan masuk ke hutan sekitar jam 6 pagi. Jarak tempuh dari jalan utama kurang lebih sekitar 1,5  kilometer. Matahari di Waisai belum muncul walaupun sudah pukul 6 pagi. Tapi selama perjalanan menuju masuk hutan kami sudah bertemu anjing penjaga, burung hantu besar yang tidur di sepanjang kabel listrik, kelelawar yg sedang makan papaya. Karena gelap dan kalau pake flash pasti mereka kabur jadi saya nikmati saja dengan mata telanjang.

Waktu di penanjakan saya kembali teringat jalur di gunung Batur Bali hhaahaa cuman bedanya ini penuh pohon. Gunakanlah pakaian yg tertutup karena masuk hutan cuy bukan masuk Ashta District ataupun kebun binatang. Sejauh telinga mendengar ada suara suara yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Yaiyalah namanya juga hutan. Saya jelajah hutan pertama ya disini di Papua. Sebelumnya saya pernah jelajah hutan sama papa di kota Bima, Nusa Tenggara Barat waktu itu sebelum Bima punya banyak jalan beraspal.  Ya sekedar naik turun pakai motor hehe. Itu termasuk kategori jelajah atau bukan ya, mungkin jalan santai sore.
Setelah menempuh jalan 1 kilometer lebih dengan jalur yang naik dan turun melewati akar pohon pohon , tanah padat, berlumpur dan rumput tumbuhan pakis. Akhirnya sampai di lokasi. Jadi sebenarnya ada banyak lokasi, kalau orang lokal istilahnya Bird Watching (aw so english). Masing - masing punya pengelola biasanya 1 orang. Karena di dekat penginapan spotnya tidak lagi terawat oleh si pengelola saya diarahkan ke Bang Melki (pengelola spot cendrawasih) untuk ke spot yang dia rawat. Waktu yang paling baik ada di pagi (seperti saya) dan di sore hari.

06.27 WIT Setelah masuk kedalam hutan dan trekking Kita sampai di sebuah pohon sejenis Kayu Besi Hitam yang menjulang tinggi disanalah spot nya. setelah sampai Bang Melki memberi saya kekernya untuk melihat lebih jelas. Waaaah sampai takjub saya melihat yang awalnya 2 nambah 3 nambah lagi sampai 5 ekor dengan jangka waktu yang berdekatan. Entah apa yang ibu alam (a.k.a Mother Nature yo guys) rencanakan untuk saya begitu beruntungnya saya dapat langsung melihat segerombolan Cendrawasih sedang kawin. Bang Melki pun bahagia katanya saya sangat beruntung dia juga senang karena bisa mengantarkan saya melihat keindahan alam papua yang jarang orang bisa nikmati. Mood booster saya juga pagi itu melihat Fauna endemik Cendrawasih langsung dari Habitat asal yang cuman ada di daratan Papua. Beliau bilang bulan lalu ( Desember ) ada turis dari China, mereka menyewa kapal Phinisi untuk menjelajah Raja Ampat lalu mampir Saporkren untuk Bird Wathing. Namun sayang mereka cuman bisa lihat sepasang dan itu sangat susah karena Cendrawasihnya cenderung sembunyi. Jadi bulan Januari adalah bulan yang tepat guys karena musim kawin bagi fauna ini. Harga normalnya 200 ribu perkepala untuk melihat fauna endemik ini di tengah hutan. mungkin kalau beramai ramai bisa dapat diskon.
























Sempat di jalan sebelum masuk ke hutan karena penasaran saya bertanya ke dua orang ini kenapa warga lokal tidak ada yang bercocok tanam padahal tanahnya subur, lahnnya ada. Kenapa saya bertanya seperti itu?. Coba teman teman perhatikan foto yang saya bagi disini. Jika ada lahan kenapa mereka tidak menanam jagung atau setidaknya berkebun lah dengan lahan yang mereka miliki. Saya membandingkan di beberapa tempat di Pulau Jawa yang pernah saya kunjungi. Ditengah perjalanan biasanya penduduk wara-wari membawa sapi atau hewan ternak, unggas dan lainnya. Ada yang berlalu lalang sibuk membawa rumput untuk makanan ternak atau bahkan menjemur hasil kebun. Disini jarang dan hampir tidak ada. Bang Melki pun berpendapat bahwa warga lokal kadang tidak bisa tekun dan ulet seperti itu karena aktivitas berkebun menurut beliau membutuhkan ketekunan. Disini kebanyakan jika inginkan sesuatu mereka lebih menikmati  hasil dari pada proses. Maunya serba cepat dengan apa yang sudah ada saja. Sebenarnya itu pola pikir yang simpel sih menurut saya seperti kalau ada ikan di lemari es yowes masak dari itu saja. Sayurnya mending gak usah deh karena harus beli ke pasar dulu, naik angkot dulu, belom sampe disana kalau hujan becek, gak ada ojek jek jek (permisalannya yo guys). Jadi kalau punya homestay ya sudah cukup hasilnya dari homestay atau paling ya ambil dari hasil laut. Seperti Bang Melki paling cuman rawat spot Cendrawasih sama sesekali cari ikan. Memang sih tidak dipungkiri lautnya memiliki keberagaman hayati yang tidak main main seperti di penginapan. Ikan Sako (semacam ikan cucut/baracuda), Cakalang, Cumi, Ikan Samandar (Baronang) dan Ikan Teri yang ukurannya se ibu jari orang dewasa dengan lincah berenang bergerombol. Kalau lapar ya tinggal ke laut saja dengan catatan secukupnya ya tidak mengeksploitasi. Saya jadi sungkan pagi pagi buta gini seriuuuus banget topiknya padahal mata masih agak berat.

Sarapan langsung hajar nasi


Pindah di kamar baru

Pemandangan samping dari jendela


di kamar ini ada terasnya




Last but not least, kamar mandi sedikit jalan kaki menuju daratan

makan siang di Hanoi

Bubara Bakar spesial dari Mama untuk kita setelah hajar snorkling








































Malamnya setelah makan seperti biasa saya beberes peralatan makan. Langsung saya taruh dapur. Mama eka ngomel pun haha. Biarkan sudah itu piring kotor, taruh saja biar sa ambil katanya. ngomel berkali kalipun tidak saya gubris yg penting habis makan ya kuberesin lah masa ditinggal di meja gitu doang haha sudah kebiasaan soalnya. Setelah saya beberes, mama gelar karpet rotannya, gak lama semua ngumpul sambil ada yg goleran, makan sirih, ngemilin marimas (wenda anak bungsunya mama Ana ini suka ngemilin marimas rasa jus kelapa guys, gak pake air ya cemilin bubuknya langsung haha). Terus sembari ngobrol ngalor ngidul saya puterin video Thomas and Friend si kereta berwajah haha via youtube. Sebelumnya saya wanti-wanti nanti kalau adek lihat kereta api yang sungguhan su tak punya wajah ya itu mata sama mulutnya kasih hilang soalnya mereka sudah besar, ini keretanya masih anak anak sama kaya adek ini. dalam hati... monmaap bener gak ya ini mereka nangkepnya takut mereka halusinasinya beda cuy haha alamat gak mau tumbuh besar mampus ai hahaha.

Sembari ngalor ngidul bercanda sana sini sama keluarga kecil ini sampai saya baru tahu kalau Mama Eka ini Saudara dekat dengan Suami istri Bapak Peter dan Mama Ana, Mama Ana berasal dari Pulau Batanta (salah satu pulau di Raja Ampat) dan Bapak Peter dari Yenbeser. Bang Erland anak kedua Mama yang tinggal di penginapan menemani Mama dan Yunus (anak adposi yang mama rawat karena yunus punya autisme dari kecil). Jadi sebenarnya pemilik aslinya ya Mama Eka yang di bantu keluarga dekatnya. Kebetulan karena mereka sedang dari waisai jadi menginap beberapa malam sembari membantu Mama Eka yang sedang penuh kamarnya. Nah, Ibu Edel (kontak mandos dari Facebook) adalah istri dari anak pertama Mama Eka (Ibu Edel adalah menantu mama). Wenda, Putri, Julius, Carmel adalah anak Mama Ana yang sebenarnya mereka juga numpang nginap beberapa hari. Keluarga Bapak Peter berasal dari kampung Yenbeser, sekitar 30 menit dengan perahu. Kebetulan karena besok senin 2 anak Mama Ana harus back to school jadi besok pagi jam 5an mereka pulang ke Yenbeser sembari mengantar anak sekolah naik kapal milik Pak Peter yg terparkir di samping penginapan. Kemudian jam 9an Pak Peter balik lagi ke Wasai, namun kalau saya ikut beliaunya mau nurunin saya dulu di penginapan baru cus ke Waisai karena searah, wah gayung bersambut pas saya ditawari mau ikutan tidak. oh ya mau sekali. Kesempatan langka ini di depan mata jalan ke desa yang belum pernah di datangi dan naik tumpangan guys. haha. lumiyin a.k.a lumayan.



Senin, 24 Januari 2022
Kampung Yenbeser

04.55 WIT Saya sudah bangun bersiap. Disaat keluar kamar ternyata langitnya bertaburan bintang guys. Terlihat jelas digelapnya pagi walaupun masih ada awan yang menutupi tapi saya langsung ngambil kamera untuk mengabadikannya.

06.08 WIT Kami berangkat dengan kapal milik keluarga Bapak Peter. Perjalanan pagi membelah lautan ditengah semburat sinar surya yang terlihat di tengah-tengah belahan gugusan kepulauan Raja Ampat.


Keluarga kecil Pak Peter dan Mama Ana






06.31 WIT Kapal bersandar di kampung Yenbeser. Setelah turun saya bantu Mama Ana membawa barangnya menuju ke rumah. Waktu mampir ke rumah, Julius dan Putri yang baru kelas 2 SD ini langsung bantu ibunya. Ada si Putri yg ke rumah temannya bertanya hari ini ada sekolah atau tidak sembari ambil kunci dirumah saudaranya, Julius ambil sapu untuk menyapu teras karena rumah kotor sudah beberapa hari ditinggal. Rumah keluarga ini sederhana, diruang tamu saya disambut dengan pohon natal dengan beberapa pajangan. dapurnya luas walaupun listrik padam di malam hari tapi susananya sangan tenang. Setelah saya sempat masuk rumah sebentar lalu saya lanjut jalan-jalan ke kampung Yenbeser ditemani Bapak Peter dan menyempatkan ke kampung sebelah. Akses ke kampung sebelah dari Yenbeser sebenarnya cuman satu garis pantai dipisahkan bukit saja. Namun karena air sedang pasang jadi kita naik turun bukit. 















Kampung Raswan

07.12 WIT Kampung Raswan namanya. Disana saya sempet hampir terjun bebas dari dermaga karena tiba tiba ada mantra karang pemanggil manusia haha. Karangnya dari dermaga seperti manggil kita. Saking kelihatan jernihnya hampir sama seperti di penginapan cuman di Yenbeser lebih beragam sepertinya.


























Saat kembali di rumah Mama Ana di Yenbeser saya dijamu kopi susu dan biskuit yang di beli Putri dari Kios, nah disini rata rata orang lokal punya kalau mau belanja sebutnya kios kalo kita di Pulau Jawa biasa sebutnya warung, berbeda bukan. Lalu kalau di Jakarta /Surabaya yang saya tau kalau ke warung umumnya "Bu, Beli" Kalo di sini anak anak nya pada teriak "Bu, Belanja!". Seperti nya kebalik ya kalau di Pulau jawa sebagian besar kan Belanja itu identik dengan membeli barang dengan jumlah besar. Disini beli satu biskuit itu belanja guys. Unik ya. Balik lagi ke perjamuan kopi susu dan biskuit. Monmaap di jamu kopi guys padahal saya lagi menghindari kopi tapi kan tidak sopan kalau tidak diminum. Setelah habis setengah gelas aman aman aja haha ya mungkin kopi susu papua punya ya. Diperjalanan keliling kampung tadi saya justru kagum melihat warga desa yang selalu menyapa selamat pagi ketika berpapasan. Berawal dari sapaan terus ngobrol dengan Pak Peter memakai bahasa lokal mereka. Sepertinya sih bertanya ini siapa?  darimana, menanyakan asal saya. Setelah berpamitan dengan Mama Ana, Wenda, Carmel, Julius dan Putri kami lanjut untuk mampir Friwen. Sebenarnya saya baru mengenal mereka beberapa hari saja. Gak kebayang sepinya Mandos tanpa krucil-krucil ini. Walaupun kalau saya rekam dengan handphone selalu malu malu tapi aslinya ramah dan pada suka bercanda. Kalau si wenda nangis peredamnya adalah permen alpenliebe yang saya beli tidak sengaja di Bandara Sultan Hassanudin Makassar. Biar tidak berebut dan adil setiap hari satu anak dapat 3 permen hahahaa. Ingat selalu pesan kakak ya sekolah yang rajin semoga kalian sempat baca blog ini kalau sudah sukses nanti. Who knows ya Mama Ana kita tidak pernah tau apa yang terjadi di masa depan. Sampai Jumpa Yenbeser.



Snorkling di Friwen

08.55 WIT Sepanjang perjalanan saya melewati homestay yang bertebaran di segala penjuru di sudut kepulauan Friwen Bonda. Bentuknya sih rata rata sama kurang lebih. Jarang yang memakai struktur permanen. Pasti bahan material dasarnya kayu seperti di Mandos. Nah, sesampai di Friwen langsung snorkling lagi, ini sebenernya  rekomendasi atas Pak Peter karena searah. Saya sebenernya gak ada dalam list harus ke Friwen berhubung ditawari beliau ya hayuk lah haha. Snorkling di Friwen ini gak main main guys. Saya kebetulan dipilihin spot yang dalamnya ada 20 meter lebih. Padahal tadi saya ngelewati yang dalamnya cuman 3 meter tapi sama Pak Peter kekeh di kasih lihat ikan nemo di dekat pulau. Setelah tau dalamnya seperti apa hahaha ngeri ngeri sedap sebenarnya. Namun di kedalaman 2 - 3 meter saja yang mampu saya jangkau karena masih amatiran. Itupun Tongsis menjangkau dalam ukuran panjang maksimal. Dari kedalaman itu saja.  Saya benar benar takjub sama ikan ikan disini kaya di daerah Tanah Abang atau di Tunjungan Plaza hahaha. Ruame puol Warna warni karangnya pun meriah. Kehidupan dibawah laut seperti di kota kota besar yang warganya berlalu lalang super sibuk.

















10.12 WIT Sesampai di Mandos saya peluk Pak Peter sebagai simbol perpisahan dan rasa terima kasih saya sudah mau menumpangi penumpang gelap ini haha karena beliau langsung ciao jadi harus sesegera mungkin, tak sumpahin laris yang nyewa perahunya ya pak. Kemudian setelah bersih bersih langsung disambut sarapan Nasi Goreng guys setelah bersnorkling ria sampe Go to the Song alias gosongg haha. Sebenarnya hanyalah nasi goreng memang tapi entah ini foto atau apa ya yg bikin nasi gorengnya mevvah kalo dilihat lihat lagi haha. Berasa dulu habis renang makan bekal mama saya.

  




Desa Saporkren

10.58 WIT Setelah itu saya jalan kaki ke desa Saporkren yang cuma ditempuh waktu 10 menit saja sebenernya bisa 5 menit lebih cepat karena sambil eksplor tempat jadi agak lama. Sampai desa sekitar jam 11 siang. Guys percayalah panase puooool. aku gak kebayang gimana ya warga sekitar bertahan dengan kondisi panasnya ini, Saya merasa lengan sampe kebakar kayanya udah gosong kemerah-merahan alias mateng hahaha padahal sunblock sudah, after sun lotion juga sudah. Malamnya langsung agak gatel ada bekas kaya alergi haha. Sudah seperti ikan asin, snorkling - jalan - snorkling - jemur - nyemplung laut lagi haha.

Desa Saporkren sangat tertata sedemikian rupa, pagar di cat warna warni, ada spanduk dan gapura yang menarik turis, dikanan dan kiri banyak homestay, ada gereja yang cukup besar dan megah  walaupun pembangunannya belum tuntas sepenuhnya. Sangat berbeda dibandingkan dua desa sebelumnya yang sudah saya datangi. Inilah bukti nyata pembangunan belum merata. Tapi entahlah itu hanya opini saya. Kalau misalkan pemerintah setempat peduli dengan desa- desa warga di sekitar Kepulauan Raja Ampat ya walaupun jarak tempuh desa Saporkren dan desa Yenbeser 30 menit seharusnya tidak menjadi alasan. Semua desa berhak kok bersolek untuk menunjukkan bahwa mereka siap dan mampu menerima tamu wisatawan dari mancanegara juga.

Sekitar jam 12 siang saya sudah kembali ke penginapan, Namun disini waktu berjalan lambat. Saya sudah melakukan banyak hal, sudah nyebrang laut pulang pergi sejam, Muterin desa dari ujung ke ujung lagi sampai pindah desa juga sudah, snorkling apalagi, Sampai saya ketiduran di Hanoi. Saya tidak lihat Mama sama sekali siang ini biasanya kalau pulang disambut Mama. Ternyata Mama ke pasar naik angkutan. Yah dalam hati tau gitu saya ngikut. Tapi berhubung kata Bang Erland Mama baliknya sore, langsung  gak jadi menyesal. Karena angkutan umum mobil dari penginapan di Saporkren ke Waisai ada di  tiga sesi. Sesi pagi sekitar jam 6 pagi (biasanya ngangkut anak sekolah) dan jam 12 Siang (mama mama ke pasar). Sore sekitar jam 5/6 hanya mengangkut penumpang kembali dari Kota Waisai ke Saporkren. Biayanya cukup 15 ribu saja sekali jalan. Opsi lain jika ingin lebih membaur tapi karena waktu berangkat yang kadang tidak bisa tepat waktu karena harus menunggu penumpang jadi di hari hari terakhir saya memilih menyewa motor saja.
Sembari membunuh waktu lanjut snorkling lagi di penginapan. Snorkling terus? tidak bosan? menurut ngana? daripada kerja mulu tapi tidak ada bahagianya.



















ini sup juara umum guys, ada labu kuning yang biasanya di kolak








Selasa, 25 Januari 2022
Kota Waisai

09.09 WIT Setelah sarapan saya menghubungi nomor rental motor yang saya temukan dari internet. Blessing Rental namanya. Kontaknya di 085254188468 atas nama Mika. Basednya di kota Waisai dekat Pelabuhan. Ada sewa motor seharga 100 hingga 150 ribu per 24 jam tergantung jenis motor. Kalau yang 150 ribu itu Scoopy dan Beat Street. Motor mio yang saya pakai cuman 100 ribu per 24 jam. Berhubung saya minta antar sampai Saporkren ada biaya tambahan 50 ribu. Motor aman bensin full. Saya herannya kok kebetulan lagi diantar Bang Erland karena mama titip ada perlu ke rumah saudaranya di Waisai jadi sekalian minta tolong Bang Erland. Rencana berangkat sendiri jadi ada temannya dan bersyukurnya saya ditemani seorang Bang Erland yang lebih paham daerah setempat.

12.04 WIT Kita sampai di Warsambim. Perjalanan alhamdulillah lancar, naik turunnya aspal yang mulus seolah saya masuk Jurrassic World. Saya membayangkan hutan belantara yang di penuhi Velociraptor yang mengejar dari belakang motor haha. Mulai halu dot com. Saya melewati beberapa spot geologi seperti air terjun dan batuan yang berada di dinding lembah dekat jalan namun sepertinya tidak terawat jadi saya melanjutkan perjalanan.

Sebenarnya saya melihat papan arah ke dermaga Kalibiru namun Bang Erland ini masih lurus terus hingga tempat tadi terlewat. Sehingga ambil dermaga yang di tengah tengah dengan masuk ke pemukiman warga. Sampai disana kita memarkirkan motor sembari mencari orang yang membawa kita ke kalibiru. Akhirnya Bang Erland yang menemukan dulu. Ya jelas lah warga lokal dilawan haha. Hari itu kita diantar Bang Franky. biasanya harga sewa kapal 500 ribu  perkapal ya bukan perorang. Berhubung diarahkan Bang Erland menuju pemukiman jadi kita bisa karena lebih murah dengan harga 400 ribu saja dengan nawar ya karena kalau kita berhenti di dermaga utama sudah tidak bisa ditawar. Rejeki tidak kemana yo. Bang Erland pakai nanya segala ikut atau tunggu di dermaga. Yah jelas ikut lah ngepein saya kesana sendirian haha mungkin dia takut harganya perkepala ya. Karena Bang Franky juga tidak masalah jadi ya kita akhirnya berangkat. Setelah mereka ngobrol ternyata dua orang ini satu marga. Hoalah kebetulan apalagi ini.






























Kalibiru

12.31 WIT Butuh waktu Kurang lebih 15 menit sekali jalan. Aksesnya tidak susah kok. Setelah perahu menyusuri sungai kemudian akan berhenti di bibir sungai yang surut airnya. Dilanjutkan jalan kaki 5 menit menuju Kalibiru. Harus bawa ganti baju ya karena di wisata ini pasti kan renang kalau tidak pasti menyesal. Saya sebenarnya  langsung pengen menikmati indahnya kalibiru. Fotonya nanti saja dulu karena airnya sejernih air mineral galon yang ditumpahin ke kolam. Suhunya sepertinya dibawah 5 derajat Celcius seperti air dingin dari pegunungan. bayangkan dengan cuaca panas Waigeo kita berendam di air dingin. Bisa diminumpun kata Bang Franky. Man to the Tap. Bang Erland sempat bercerita terakhir kali dia ke Kalibiru di sekitar tahun 2019 saat masih kerja di agen travel sebelum pandemi. Namun itupun dia mengantarkan tamu dengan boat berhenti di Bibir Sungai. Tidak sampai masuk ke area Kalibiru sama sekali jadi dia heboh foto sana sini sampai inisiatif saya suruh disana disini pose berdiri sampai duduk katanya sebelum ada tamu datang karena saat itu kita bertiga sajaa yang di Kalibiru. Pas lihat hasilnya loh kok bagus jadi kepengen difotoin hahaa. Beneran, gak sampe 30 menit kita disana datang rombongan dari Manado heboh bawa banyak anak kecil hahhhaaaha thanks Bang!. Yang harus diperhatikan kita sebenarnya tidak harus bisa berenang  namun ada beberapa spot yg cukup dalam
dengan arusnya yang lumayan kuat. Harus benar benar didampingi ya tidak bisa asal nyemplung begitu saja bagi yang tidak bisa berenang atau sebelum nyemplung wajib cek dulu karena ada spot yang cukup dangkal.



























15.00 WIT Kita kembali pulang ke penginapan, mampir pasar Waisai sebentar beli kelapa muda hehe.






diperjalanan kembali ke penginapan ada warga yang naik tebing tanpa alat sama sekali



16.00 WIT di Penginapan kita makan ikan sako dan beberapa teri hasil cigi (mancing) Mama tadi siang langsung dari laut. Tidak perlu pakai perahu ke tengah laut cukup dari pinggir penginapan saja sudah. Cigi itu istilah warga lokal untuk istilah memancing. Uniknya tanpa umpan. Cuman kail bermata empat dengan benang senar dan dahan bambu. Setelah kail di lempar ke rombongan teri, menunggu waktu yang pas langsung disentak begitu saja. Mudah bukan haha. Mama sempat mencontohkan, Saya sempat Coba. Mama belum berhenti ngomong, saya tarik kail eh langsung dapat lumayan gede lagi. hhhahaa nah ini nih dalam hatiku baru mancing hahahha. sebenernya saya tidak terlalu suka memancing, beda dengan Papa dan Adek yang suka dan enjoy. Kadang kalau dipasar ada kenapa harus susah susah mancing ya hahhhaa. Tapi di sini beda, hitungan detik saja kalau beruntung dapat teri yang setelapak tangan balita. Nah yang baru saya tau warga disekitar memang tidak diperbolehkan menangkap ikan dengan bom, racun atau jaring. Ok masuk akal, tapi kan jaring tidak merusak. Penjelasan dari Bang Erland sesimpel apapun itu yang berbentuk jaring sudah kesepakatan adat dilarang karena termasuk dalam kategori yang kurang ramah lingkungan. Jaring penangkap ikan dalam jumlah yang besar jika terlalu banyak ikan yang didapat pasti akan terjadi konsumsi yang berlebih. Berakibat ekosistem tidak seimbang. Disisi lain penggunaan jaring bisa menakut-nakuti ikan. Sehingga mereka tak segan berpindah mencari tempat  baru lagi dan meninggalkan tempat yang dirasa kurang aman. Ikan aja tau mana tempat aman dan tidak. pelajaran dari ikan, jikalau kita berhadapan dengan kondisi/tempat yang sudah tidak lagi aman dan membuat kita tidak lagi bahagia cus pindah guys dont waste your time.

Malamnya saya makan ikan Samandar hasi cigi Bang Erland. Kalau kata papa saya ikan Samandar itu ikan Baronang yang banyak di sajikan Restoran ikan bakar. Malam terakhir ini saya habiskan dengan foto foto bintang karena sebenarnya hampir setiap malam gugusan Bima Sakti menghiasi langit langit Waigeo yang luhur ini.
 




ini ikan hasil cigi Mama darimana ya? hmm

Darimana? dari situ guys

ini ikan hasil cigi saya

ini ikan Samandar hasil cigi Bang Erland dapat sekitar 7 ekor





















Rabu, 26 Januari 2022
Waisai - Sorong

Perjalanan akhirnya sampai di titik akhir. Setelah sarapan saya dibekali mama untuk makan di perjalanan. Perjalanan kembali pulang cukup lancar mulai dari pengembalian motor di pelabuhan - naik kapal menuju Sorong - Tes antigen di Bandara DEO (sorong) hingga perjalanan dengan Pesawat menuju surabayapun lancar tidak ada delay. Perjalanan ini memakan biaya tidak lebih dari lima juta untuk pesawat, penginapan, sewa motor dan bensin. Sisanya biaya tambahan yang seharusnya bisa diminimalisir bergantung dengan masing masing kebutuhan.  Banyak yang bilang Papua itu begini, begitu bahkan ada yang berkomentar sedikit rasis setelah tau saya pergi kesana. Tapi yang saya rasakan justru kehangatan warga lokalnya. Mama menerima saya dengan tangan terbuka. Begitu juga Bang Erland sudah memperlakukan saya seperti adik. Mungkin memang benar bahwa masyarakatnya sedikit tertinggal dari segi pendidikan. Itupun karena fasilitas yang kurang memadai di beberapa desa yang saya kunjungi. Jika masyarakatnya mau berusaha sedikit lebih keras lagi saya yakin tanah papua yang kaya akan semakin makmur. Kekayaan tanah Papua itu istilah kita lempar biji saja pasti tumbuh. Tinggal cara merawatnya untuk hasil dikemudian hari.

my skin get better, my hair isn't too coarse again and even my mind get clearer yet meskipun agak gosong haha 



Mandos Homestay yang berganti nama jadi Sanara yang baru saya tahu semenjak saya baru datang di hari pertama. Tapi di internet masih dengan nama Mandos

Forkam yang ngikut sesaat sebelum balik menuju pelabuhan




Bekal dari Mama















Karena satu dan lain hal saya harus ke Surabaya. Sesampai di Surabaya di tanggal 26, keesokan harinya saya menyambangi beberapa saudara yang sangat dekat dengan saya yang kebetulan sudah mendahului saya. Begitu banyak kehilangan yang saya rasakan dalam waktu dekat ini dari satu lokasi ke lokasi lain berpindah-pindah. Perasaan saya tetap sama seperti dulu. Definisi pulang ke rumah untuk saya bukan lagi pulang ke suatu tempat. Karena cukup bias ternyata. Rumah itu menurut saya adalah simbol perasaan nyaman kita dengan sesama orang terdekat kita. Tidak melulu harus dengan yang mempunyai ikatan darah. Justru dengan orang lain atau orang yang baru kita kenalpun jika hati kita terasa hangat maka itulah rumah bagi kita. 











travelling is another way to open more my narrow minded, to explore more places and things that i have never seen before. To heard some untold story. Excitement for the culture shock. And of course to make a memory. Not just for the rest of my life but also my journey through the internet, a small platform that can stay forever and last longer better than in my mind sometimes. Also when you go to Bali, Nusa Tenggara or maybe some beaches in Papua I guess it still a water tho, but its not the same water.

Video perjalanan bisa dilihat disini







Semoga Teman-teman bisa melihat dan merasakan apa yang saya rasakan dan bisa kembali suatu saat atau setidaknya melihat langsung sedikit keindahan dari bumi Papua.










Comments