Tulisan ini saya buat karena otak saya gagal mencerna segala sesuatu yang saya lihat sendiri. Mendapati sisi lain dari adat istiadat dari suku baduy yang justru bertentangan dengan apa yang saya dengar dan banyak diberitakan di media. Berawal dari iseng bertanya apakah tanggal 3-4 September tersedia untuk 1 orang keberangkatan trip ke Baduy di media sosial. Akhirnya niatan iseng bertanya menjadi sebuah keseriusan. Walaupun dengan minimnya persiapan fisik saya nekat berangkat, karena jalan kaki CFD dan renang mungkin sudah cukup terwakili haha. Seperti biasa saya memutuskan untuk jalan sendiri tapi tidak full solo trip namun perjalanan kali ini dengan menggunakan jasa perjalanan / Open trip. Pertemanan di Open trip pasti akan terjalin dengan sendirinya, jangan pernah takut merasa sendiri walaupun kita berangkat seorang diri.
07.05 Sampai di Stasiun Kebayoran. Saya sempat pangling. banyak yang berubah dari 6 tahun yang lalu terkahir saya menginjakkan kaki.
09.20 Kurang lebih, kereta berhenti di stasiun akhir Stasiun Rangkasbitung. Sebelum keluar dari stasiun saya sempat mampir ke toilet. Namun toilet cuman 2 pintu dengan jumlah urinoir hanya 3 tapi yang dapat dipakai cuman 1 dengan antrian yang cukup panjang. Sayang sekali padahal Stasiun Rangkasbitung ini cukup ramai tapi toiletnya justru kurang memadai. Setelah keluar saya langsung menuju parkiran tempat berkumpul di dekat mobil elf yang telah ditentukan. Baru menaruh tas deket kursi jendela eh ada yang sudah mengajak kenalan. Ternyata belum cukup ramai yang datang padahal di itinerary 9.30-11.00 kita bertolak ke ciboleger dari Stasiun Rangkasbitung. Ya beginilah kalau open trip, maklum terbiasa dengan solo trip yang sat set sat set.
12.25 Sampai di daerah Ciboleger. Kita diberhentikan disebuah rumah warga untuk istirahat. Karena makan siang tidak termasuk dalam paket tur, bagi yang mengambil makan dikenakan biaya diluar paket. Jadi selalu persiapkan uang cash wahai para warga cashless.
Sebelum memulai perjalanan ada Aldi dari Baduy Dalam sebagai porter yang sempat menawari jasanya. Dengan senang hati saya menggunakan porter agar saya lebih menikmati perjalanan. Sempat gerimis, para peserta mulai memakai dan mengeluarkan jas hujan namun Aldi dan suku Baduy Dalam lain tetap tenang tanpa goyah hahaha. Waktu saya tanya Aldi, sebenarnya mereka membawa jas hujan tapi mereka yakin hujan saat itu hanya mampir lewat saja. Tidak lama kemudian baru jalan beberapa menit, hujan pun reda hahaha. dalam hatiku widih mbak rara lewat.... Sungkem...... Walhasil segera saya lepas jas hujan karena gerah.
Saya kagum di kampung pertama ini karena saya disambut dengan suara ayam berkokok, batu-batuan yang disusun membentuk jalan setapak, saung - saung yang berhimpitan dan beberapa anak suku baduy luar yang duduk di teras dengan senyumnya yang tipis sekali. Walaupun teknologi dan beberapa larangan lain dilarang di baduy dalam dan diperbolehkan di baduy luar, tetap aturan adat mengikat bahwa listrik masih dilarang.
Disela-sela perjalanan membelah bukit, hutan dan sungai kita harus sangat berhati hati karena medan yang lumayan menguras tenaga apalagi kalau tanahnya sedikit basah dan berbatu. Tapi anak anak baduy dengan riang gembira seakan taman bermain bagi mereka. Saya sampai terheran-heran melihat mereka berlarian loncat sana sini sedangkan ada beberapa dari kami yang berjuang sampe keringat dingin haha.
Setelah sampai perbatasan antara baduy luar dan dalam sembari menunggu komplit peserta lain dan istirahat, saya dan grup taman bermain ian cabang baduy mengadakan pagelaran seni hahaha. Cuman mainan seru-seruan aja. Ada yang jadi monyet, ada yang bikinin makanan monyet (terpantau salah satu anak bikin ketupat wuakakakakk) sama haha hihi belajar menghitung. Kita tertawa disela sela nafas peserta lain yang kecapean tertunduk lesu. Sambil mengamati gerak lincah jari jemari bikin ketupat seperti saya membayangkan anak anak kota berlomba main rubik dengan cepat. Daun yang dipakai ijuk/ janur yang di petik langsung tidak jauh dari tempat kita beristirahat. Ada salah satu anak yang justru ngasih ketupatnya ke saya. Yawlaaaa terharu reeek. langsung ku simpan dengan rapi di ransel
Setelah sampai, rasa penasaran semakin memuncak. Saya melewati jembatan bambu lagi sebagai gerbang masuk kemudian melewati saung saung dari bambu yang lebih sederhana di banding kampung Baduy Luar yang sudah saya lewati sebelumnya. Mistis bercampur dengan suasana seperti masuk ke dunia sebelum ditemukannya listrik, tidak lama dari belakang muncul nenek yang keluar dari salah satu rumah berjalan kaki memakai penerangan api seadanya. Saya agak kaget karena semburat pencahayaan yang minim menyelimuti muka si nenek membuat saya seolah lagi dikejar Nini Christine Hakim di film Perempuan Tanah Jahanam hiyak mulai halu. Setelah pembagian rumah saya dan tim 1 yang berjumlah 17 orang mulai mengisi rumah milik Ayah Jeumhari. Rumah panggung berbentuk kotak persegi sama sisi dengan dinding anyaman dan dilengkapi bilik kecil tempat istirahat tuan rumah. Tidak ada bilik pemisah antara tempat tidur wanita dan laki-lak tapi tidak bercampur. Satu sisi rumah untuk wanita dan sisi lainya untuk laki-laki. Tidak ada alas yang menutupi lantai kayu, selama tidur jika ada yang berjalan di dalam rumah pasti bunyi kayu berdenyit akan membangunkan. Ada tungku perapian di samping tempat saya menaruh tas dan didalam bilik kecil tempat istirahat tuan rumah itu juga berisi perapian. Saya sempat menggantung beberapa baju kotor di dekat perapian agar cepat kering. Sangat sederhana sekali tidak banyak perabotan menghiasi isi rumah. Hiasan yang saya tau hanyalah Somong (gelas bambu) dipajang di salah satu sisi dinding. Wadah tempat merebus air sepertinya terbuat dari kuningan persis yang saya lihat di museum-museum hahaha.
Setelah memutuskan mandi disungai malam itu ditemani beberapa teman, saya sempat merendamkan diri merasakan segarnya aliran sungai yang mengalir. Samar samar suara serangga hutan yang bersahut sahutan bercampur dengan suara angklung menambah suasana menjadi makin mistis. Seperti ada audio dari sound engineering yang ditaruh di sela sela rerimbunan pohon dipinggir sungai. Setelah beres kita langsung makan makanan menu yang barusan selesai dimasak oleh Ayah Jeumhari dan istrinya. Menu yang sangat sederhana, sayur asem, sambel yang terbuat dari cabe dan tomat serta tempe goreng dan ikan asin. Entah kenapa menu itu sampai terngiang-ngiang hingga beberapa hari setelah sampai Jakarta hahahaha. setelah makan dilanjutkan acara MAKRAB, tanya jawab kemudian istirahat.
Di Baduy Dalam aturan adat yang mengikat lebih ketat. Penggunaan paku untuk rumahpun tidak diperbolehkan. Peralatan makan modern seperti sendok juga tidak ada. Waktu makan kita diberi sendok yang terbuat dari daun pisang yang ditekuk. Sabun dan Bahan kimia juga dilarang. Padahal rata rata kulit Baduy Dalam sangat bersih dan alami. Berikut dengan tiga jumlah kampung Baduy Dalam dari Cibeo, Cikertawarna, Cikeusik tidak boleh bertambah ataupun berkurang. Seperti yang teman teman tahu bahwa alasan pelarangan ya mentok karena aturan adat. kenapa? ya karena sudah peraturannya begitu. Itulah jawaban yang cukup mengganjal belakangan ini saya tidak pernah puas mendengarnya.
Keesokan harinya berhubung posisi tidur saya dekat dengan perapian, sekitar kira kira jam 4 pagi istri Ayah Jeumhari sudah mulai menyalakan kayu bakar untuk memasak air dan nasi. Saya mulai terbangun langsung mojok menghangatkan diri dan melihat pemandangan hamparan korban korban tanjakan lembah baduy sedang nyenyak nyenyaknya tidur hahaha. Setelah agak hangat saya ke sungai dan menyempatkan berkeliling melihat rumah Pu'un (pemimpin adat baduy dalam yang menurut saya lebih andil dibidang spriritual) yang tidak sembarangan orang bisa mengunjunginya. Karena hari mulai cerah semakin jelas nampak rumah Baduy Dalam selain Pu'un harus menghadap antara utara atau selatan.
Karena sebagian suku baduy bertani jadi waktu sehari hari mereka habiskan bekerja diladang. Itulah sebabnya dirumah hanya ada perempuan dan anak, biasanya selain membereskan pekerjaan rumah tangga para perempuan Baduy juga menenun untuk diperjualbelikan. Ada yang rumahnya tertutup rapat karena kosong. Kebanyakan terutama suku Baduy Dalam ini sebenernya sangat tertutup dan introvert. mungkin bagi kita yang baru tahu akan terasa aneh karena sempat beberapa kali menyapa tapi tidak digubris atau bahkan malah menundukkan kepala. Beda dengan beberapa kepala keluarga yang sudah sering menerima kunjungan tamu. Mereka jauh lebih ramah dan bisa berbahasa indonesia dengan santun.
Setelah semua bangun dan beberes, kita sarapan dan bergegas meninggalkan Baduy Dalam. Ternyata banyak juga kunjungan selain kita di beberapa rumah warga lain. Lebih dari 5 rumah yang terisi penuh dengan tamu. Ada juga penjual yang masuk untuk menjajakan oleh oleh dan aksesoris yang datang dari luar baduy. Justru jarang saya lihat penduduk Baduy Dalam berdagang, ada tapi tidak banyak.
Perjalanan pulang berbeda dengan jalur keberangkatan. Diperjalanan pulang menuju ciboleger kita melewati sekitar delapan kampung SAUDARA! hahaha. lebih banyak bukan berarti lebih jauh ya. Ada kampung Lebak Bungur, Cipaler, Cicakalmohara, Gazebo, Marengo, Blimbing, Lebak Jeruk (kampung baru) dan terakhir Karungketung. Jalur pulang ini lumayan ekstrim karena banyak turunan yang cukup curam dan di akhir kampung Baduy luar ada beberapa tanjakan naik yang cukup menguras tenaga.
 |
| foto setelah keluar dari Baduy Dalam |
 |
| tenun pewarna alam dari kayu mahoni |
 |
| makasih kang aldi |
 |
| rekonstruksi menu baduy dalam ala warteg di ciboleger |
 |
| nama saya ajeum anak dari Ayah Jeumhari, sudah bisa hormat, siap grak! diajari taman bermain ian cabang baduy dalam |
 |
| saya dan sungai Cihujung |
 |
| jadi dibalik foto ini ada tim hore dibelakang yang rusuh menyebabkan saya tertunduk malu malu kucing |
 |
| Ayah Sapri is de best! ngelawaaak weh hahaha suasana trekking jadi gak membosankan |
 |
| Ayah Jeumhari |
 |
| thank you all crew |
 |
| terpantau masih ngecek hape ya saudara sekalian haha |
Sekian?
Tentu tidak.
Disaat saya pulang kerumah, saya mulai mendalami beberapa topik baduy tentang teknologi. Mulai dari artikel dari berbagai media dan beberapa bukti yang saya temukan ternyata cukup mencengangkan. Karena mungkin sifat dasar manusia, semakin dilarang biasanya semakin kita penasaran. Sedamai-damainya ombak yang tenang di laut pasti akan menimbulkan buih juga. Saya yakin dibalik ketenangan kampung Baduy terutama Baduy Dalam pasti mereka punya polemiknya sendiri. Entah apapun itu walapun saya tidak bisa merasakannya langsung disana.
Salah satu kanal berita ada yang menyebutkan bahwa
dampak teknologi, komunitas baduy terancam hilang satu generasi (link Berita Satu). Menurut narasumber dari berbagai komunitas adat dan pemerintahan adat baduy pun tidak menyangkal adanya gempuran teknologi. Dari mulai masyarakat baduy yang dengan mudah mengakses instagram, youtube dan e-commerce hingga data dari Kominfo menyebutkan Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa saat ini tercatat 9.000 nomor ponsel atas nama warga Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Ciboleger, Kabupaten Lebak yang terdaftar di Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Lebak. Dari 9.000 nomor itu, yang aktif sekitar 6.000 nomor.
ada lagi menyebutkan
Razia barang modern di Baduy untuk dimusnahkan (link Wartakota, tribun) karena modernisasi yang sudah tidak bisa dibendung lagi sehingga memicu adanya wacana penghapusan kawasan baduy dari destinasi wisata pada 16 april 2020 lalu oleh lembaga adat. Alasannya karena baduy dalam yang sakral fotonya sempat tersebar di internet dan mereka risih dijadikan sebagai tontonan hingga masalah sampah yang serius. Tetapi karena adanya ketidakselarasan keputusan yang diambil antara beberapa pemangku adat dan pemerintah setempat terkait birokrasi maka wacana yang sempat dikirimkan langsung ke presiden Jokowi tidak berkelanjutan. Hanya selesai di permusyawaratan saja.
Saya pun sempat menemukan beberapa akun sosial media yang dikelola oleh Baduy Dalam. Bahkan ada yang enggagementnya sudah cukup luas dan banyak memiliki pengikut. yang cukup mencengangkan saya di akun tersebut jelas sudah bahwa beberapa Baduy Dalam ini bermain sosial media. Fakta yang sebenarnya bertentangan dengan adat istiadat yang dikoarkan di berbagai media. Walaupun adat melarang dengan keras disatu sisi mereka hidup berdampingan dengan teknologi. Sebenarnya apa yang mereka lakukan itu menjadi bahaya bagi mereka sendiri ketika mereka membentengi kehidupan dari peradaban tapi justru malah mengizinkan peradaban dari luar itu masuk lewat kunjungan wisata ke Baduy Dalam.
Jika menutup akses wisata pasti akan berdampak besar bagi perekonomian baduy yang sebagian ada yang sudah bergantung di sektor pariwisata sejak dulu sedangkan zaman terus berputar dengan segala kemajuan dibidang teknologi yang menuntut manusia agar selalu berubah. Ketidakpastian dalam dua hal yang sangat tragis memang. Jika salah satu dari pilihan terburuk terjadi tentu kita akan kehilangan keharmonisan alam yang disebabkan hilangnya generasi penerus baduy. Namun disisi lain sampai kapan? Apakah adat istiadat yang mengikat dapat terus berdampingan dengan teknologi?
Sebenernya saya malu dengan mereka. Saya yang terdaftar sebagai warga negara indonesia di catatan sipil dan mempunyai deretan dokumen segambreng tidak mempunyai andil yang cukup untuk melesatarikan alam. Justru mereka, suku Baduy Dalam ini yang sebagian besar tidak hafal lagu indonesia raya, tidak tahu konsep pancasila bahkan untuk sesimpel mengenyam pendidikaan formal saja dilarang oleh adat istiadat. Tapi mereka lah yang mempunyai kadar nasionalisme yang tinggi. Mereka begitu menyayangi tanah kelahiran mereka, dimanapun mereka berada mereka memegang teguh adat istiadat. Sama seperti ketika penggunaan batik di hari jumat. Yaaa semua orang kalau pake batik juga bisa siapapun itu karena itu hanyalah atribut visual yang bisa kita lihat dari luar saja. Jadi, saya, kamu, kita semua sudah ngapain aja guys?
Gunung teu meunang dilebur;
Lebak teu meunang dirusak;
Pendek teu meunang disambung;
Lojong teu meunang dipotong
(Gunung tidak boleh dihancurkan;
Lebak tak boleh dirusak;
Pendek tidak boleh disambung;
Panjang tidak boleh dipotong).
- filosofi suku Baduy
video perjalanan dapat dilihat di link berikut:
video perjalanan
Comments
Post a Comment