Pulau Sebira
Memang benar Sebira adalah pulau tunggal di Laut Jawa yang merupakan nusa terluar, terpencil, di teras paling utara Jakarta. Keberadaan mercusuar di pulau ujung utara tersebut adalah salah satu daya tariknya karena tidak dimiliki di pulau seribu lainnya yang mungkin kemudian memunculkan nama Noordwachter (penjaga utara dalam bahasa Belanda) di kalangan pelaut.
Walhasil Rabu malam tanggal 27 Desember 2023 saya dan adik membulatkan tekat untuk membeli tiket kapal Dishub dengan tujuan Kali Adem - Pulau Panggang. Karena kami kehabisan tiket Kali adem - Sebira yang hanya ada tiga kali keberengkatan dalam seminggu begitu juga sebaliknya karena masih keterbatasan kapal. Sebenarnya tidak ada kapal Dishub yang melayani penyebrangan dari pulau Panggang menuju ke Pulau Sabira. Tapi melayani keberangkatan dari Pulau Kelapa - Sebira. jadi kita harus mencari cara bagaimana bisa terbang ke pulau kelapa dari pulau panggang hahahaha, sungguh kisah yang syarat akan ke absurdan. Entah bagaimana, sudah tahu begitu kita tetap nekat saja berangkat berbekal jiwa jiwa traveling yang tidak seberapa ini.
Semoga kedepannya Dishub menyediakan banyak armada agar kami ini wisatawan yang hendak mengeksplor punya kemudahan akses dan semakin banyak wisatwan yang datang juga membangkitkan perekonomian di sana. Perjalanan kali ini tidak sendiri karena saya bersama adik yang cukup banyak membantu merencanakan perjalanan yang sebenarnya tidak terencana ini hahaha...
kurang lebih berikut ringkasan perjalanan kami :
rute kapal kali adem - sebira : Senin, Rabu, Sabtu
sebira - kali adem : Selasa, Kamis, Minggu.
pemesanan tiket dishub melalui aplikasi Jaketboat
1. perjalanan pelabuhan kali adem - naik kapal dishub zona
3. sampai di pulau kelapa kita jalan kaki ke pulau harapan dan mencari penginapan di zhaura homestay (085691112113)
4. explore pulau dan makan di rumah makan terapung di tengah laut seafood pak harun
notes hari pertama:
agak susah cari tempat makan yang ok, bahkan warung ikan bakar pun susah. di pulau harapan dan kelapa ini tersambung jadi satu pulau, dengan tipikal padat penduduk. Tidak rekomen jika solo trip yang butuh mencari makan diluar, karena kebanyakan warung ikan bakar tersedia khusus untuk peserta open trip saja. Pantainya juga tidak sebagus di pulau pari, di pulau Harapan cenderung tipikal pulau yang padat penghuninya.
Hari kedua :
1. kita full menyewa kapal nelayan secara private lewat jasa Arjuna travel yg berada dekat homestay Zhaura di pulau harapan untuk keliling dan snorkling dengan spot sekitar pulau genteng kecil dan genteng besar , spot sekitar pulau macan , mampir ke pulau dolphin , lanjut snorkling di spot sekitar pulau patra bira. terakhir sunset an di pulau bulat pulau milik almarhum presiden Soeharto.
Hari ketiga :
1. otw dari pelabuhan kelapa ke pulau sebira 2 jam dengan kapal dishub.
2. menginap di homestay berkah berikut dengan makan (info bisa chat aja)
3. explore pulau
Hari keempat :
1. perjalanan kembali dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang dengan kapal dishub dari pelabuhan pulau Sebira menuju ke pelabuhan Kali adem.
Hari Pertama, Kamis 28 Desember 2023
07.49 Sesampai di Pelabuhan Kali adem adik yang datang lebih dulu langsung menanyakan rute kapal dishub yang tidak kami pahami ini. Dari arah lobby saya berlarian menyusul karena di tiket tertulis keberangkatan tepat pukul 8 pagi. Di pusat informasi ada segerombolan petugas Dishub yang sedang berjaga. Pak Yahya namanya, beliau salah satu petugas Dishub yang memberikan arahan kami untuk menginap di pulau Kelapa dengan menyebrang kapal karena di pulau Panggang tidak ada penginapan atau wisata lain yang bisa dikunjungi. Kami berusaha menelaah jalur dan menyiapkan segala kemungkinan terburuk di hari itu juga karena kenekatan kami. Apapun yang terjadi terjadi lah ya namanya juga modal tancap gasss..... hahaha.
08.23 Kapal Dishub yang kami tumpangi mulai meninggalkan pelabuhan. Suasana didalam kapal cukup nyaman dilengkapi dengan toilet dan pendingin ruangan. Jika dibandingkan dengan kapal kayu yang selalu ada tiketnya memang jauh lebih cepat. Kapal kayu nelayan membutuhkan jangka waktu 8-11 jam dari Kali adem ke Sebira, sedangkan dengan kapal Dishub hanya membutuhkan waktu selama 4 jam. Jika berangkat dengan kapal dari pelabuhan Marina bisa jadi akan lebih cepat karena pada kapal Dishub terdapat 4 buah mesin motor sedangkan pada kapal cepat di pelabuhan Marina ada 6 mesin motor. Tentu dengan biaya yang cukup mahal pastinya. Tiket rute terjauh ke Sabira dengan kapal dishub hanya 74 ribu saja. Dengan fasilitas dan estimasi jarak tempuh yang menurut saya itu sudah ok walaupun armadanya perlu ditambah lagi agar kami tidak repot berebut tiket online H-1. Jika ingin beli tiket kapal Dishub harus standby aplikasi jaketboat di jam 5 sore karena kapal dishub menjual tiketnya H-1.
Serba serbi tiket sudah sekarang kita menikmati perjalananya, tidak lama setelah kapal berangkat kami berkenalan dengan Pak Lukman yang duduk bersebelahan dengan adik saya. Beliau satu tujuan dengan kami turun di Pulau Panggang. Hendak memancing ikan Baronang dengan peralatan yang tidak seadanya di dermaga dan keran keranda milik nelayan pulau Panggang.
08.50 Sampai di Pulau Untung jawa, tujuan pertama pemberhentian kapal Dishub. Tidak banyak yang bisa dilihat karena kami tidak turun dari kapal. dan karena penumpang hanya beberapa saja yang turun jadi kami menikmati pemandangan di sekitar dermaga Pulau Untung Jawa.
09.20 Tujuan Pemberhentian selanjutnya di Pulau Pari, Dari pulau di zona 2 ini menurut saya pulau pari adalah pulau yang paling banyak wisatawan turun dari kapal. Dari dermaga pun tampak banyak yang berlalu lalang mulai dari yang hendak mendirikan tenda untuk camping, pergi memancing seperti pak Lukman atau backpackeran mengeskplor pulau seperti kami. Pemandangan di sekitar pulau dibandingkan dari pulau sebelum dan sesudahnya pun tampak menarik dan tidak membosankan, sepertinya banyak aktifitas yang bisa dilakukan.
09.55 Kami menginjakkan kaki di Pulau Panggang. Tidak lama kami langsung bertanya ke petugas Dishub tenatng akses ke Pulau Kelapa, beliau menyarankan untuk sewa kapal nelayan seharga 400 ribu . Tiba tiba didepan saya ada warga setempat yang mungkin menyimak pembicaraan kami. Beliau langsung menunjuk ke kapal yang hendak berangkat dari arah yang berlawanan dan berteriak agar segera lari, langsung tanpa pikir panjang kami berlari larian mengejar kapal kayu yang sudah mulai jalan. Kami meloncat dari dermaga mendarat di pinggiran kapal kayu dan dengan perlahan masuk lewat jendela kapal menuju kedalam. Setelahnya kami baru sadar betapa berbahayanya tingkat kaisar dewa langit yang kami lakukan tadi semacam ikutan ninja warior. Cukup bayar 15 ribu saja dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Terimakasih kuucapkan kepada alam semesta yang mendukung. Kalau telat entah berapa lama lagi kami harus terlantar di pulau Panggang.
11.10 Now What? mendarat di dermaga Pulau Kelapa kami hendak makan siang dan menemukan satu warung nasi uduk di dekat dermaga sebelum mencari penginapan. Kami memesan ayam penyet yang ternyata ok juga rasanya. Setelah kita berputar keliling Pulau Kelapa kami tidak menemukan penginapan yang kami lihat di google maps, begitu juga baru tersadar langkanya warung makan. Akhirnya kami berjalan kaki menuju ke Pulau harapan di tengah terik matahari jam dua belas siang.
Sesampai Pulau Harapan kami pun tampak terkejut dengan yang kami lihat, ternyata tidak ada pantai berpasir melainkan beberapa dermaga yang menjorok kelaut yang sedikit dangkal. Sembari mengitari Pulau akhirnya kami menemukan penginapan. Zhaura Homestay, terletak di pinggir dekat dermaga berbatasan langsung dengan laut tapi rata rata begitu semua penginapan yang ada di Pulau Harapan. Setelah sampai kami beres beres dan istirahat.
![]() |
| Rumah cat hijau adalah penginapan kami |
15.40 Kami memutuskan untuk snorkling dan berenang menuju ketengah, pemandangannya lumayan dengan terumbu karang yang bervariasi dan banyak ikan kecil yang berseliweran, di sela snorkling saya melihat bangunan apung di tengah laut. Singkat cerita bangunan apung itu adalah rumah makan seafood pak Harun. Kami memutuskan untuk kesana setelah snorkling pas dengan sunset dan hendak makan malam disana. Informasinya memang tidak kami dapatkan secara utuh di pulau karena tidak ada informasi apapun jika itu tempat makan yang bisa diakses siapapun dan kapanpun selama jam beroperasi.
17.23 Sepanjang kami berkeliling baru sadar di pulau harapan tidak kami temukan tempat makan yang menjual setidaknya nasi uduk selain di dermaga atau warung ikan bakar kecuali ya ikan bakar pak Harun ini. Setelah menghubungi nomor yang ditemukan di google, tidak lama kami menunggu di dermaga untuk dijemput langsung oleh Pak Harun dengan kapalnya. Setelah sampai kami memutuskan untuk memesan paket berlima seharga 350 ribu karena tidak ada paket berdua dan sudah termasuk ikan bakar, cumi, sayur, nasi, es teh manis dan kami bisa melanjutkan snorkling di sekitar rumah makan. Ada berbagai macam keranda berikut keranda ikan hiu, kerapu dan lainnya, terumbu karangnya juga lebih berwarna warni. Indah sekali sunset disini, mataharinya bulat sempurna dari ujung cakrawala tenggelam perlahan dengan semburat jari jemari senja yang mengayun ayun dari kejauhan. Tidak banyak kami mengabadikan gambar, kami menikmati dengan syahdu perpaduan santapan ikan bakar, rasa lapar sembari bermandikan langit jingga waktu itu.
19.00 kembali ke dermaga di malam hari kami putuskan untuk segera istirahat, kembali beres beres dan mengumpulkan informasi untuk kegiatan selanjutnya di esok hari yang pastinya akan padat.
Hari Kedua, Jumat 29 Desember 2023
10.04 Kami berangkat dengan menyewa kapal secara private lewat jasa Arjuna Travel yang berada cukup dekat dengan penginapan seharga 400 ribu. Biaya sewa peralatan snorkling sekitar 25 -35 ribu kami hanya menyewa fin saja. Kami berangkat dengan tujuan ke tiga spot snorkling, Pulau Dolphin dan Pulau Bulat. Kami tidak ditemani guide untuk mendokumentasikan karena memang kami sudah membawa kamera underwater sendiri.
10.40 Kami bersnorkling di sekitar Pulau Genteng Besar, ikannya sangat ramai dan sepertinya sudah hafal dengan manusia. Mereka tidak takut dengan kami yang berkali lipat lebih besar dibanding mereka, justru mereka mengikuti kami berenang. Beruntungnya kami bersama Pak Askar yang membawa kapal dan kapal kami adalah satu satunya yang menjelajahi spot. Suasananya sangat damai, gelombang Laut Jawa juga sangat tenang, tipikal perairan dangkal yang tidak berombak.
11.36 Kami sampai di spot selanjutnya di sekitar pulau Macan. Walaupun kurang lebih sama dengan spot sebelumnya, Tapi disini cenderung lebih dalam. Kami sempat menemukan ikan pari yang berwarna warni dan dengan semangatnya kami mengejar, menyelam untuk mengabadikan gambar sebelum kami tahu ikan pari tadi salah satu yang dihindari warga lokal karena beracun. hahahahhaa... ada teripang, ikan bendera dan berbagai biota laut lain yang memeriahkan perjalanan kami saat itu.
13.00 Tepat kapal bersandar di pulau Dolphin. Pulau yang telah di kelola oleh swasta namun kita tidak dikenakan retribusi. Pulai ini adalah salah satu titik yang paling terkenal jika berkunjung ke Pulau Seribu. Mau ikut open trip manapun Pasti pihak agen mengatur destinasi untuk ke Pulau Dolphin percayalah hehe.. . Sehingga banyak foto bertebaran di sosial media sana yang kita lihat pasti pantainya berpasir halus dan lautnya jernih ya disinilah spotnya. Beruntung kami tidak sendiri disana ada beberapa pengunjung dan pastinya tidak seramai yang kita bayangkan. cukup lengang dan sepi. Ada satu warung saja yang menjual indomie, kelapa muda dan bala-bala. Nampak berdiri tenda tenda di beberapa titik di Pulau Dolphin. Kami benar benar bersantai disana sampai ada anak lokal yang berenang dan ayahnya berteriak "awas ikan pari" dari sini kami baru menyadari warga setempat lebih memilih takut ikan pari dari bulu babi dan kami sebelumnya malah mengejar ikan pari hingga ketempat persembunyiannya di batu karang. Setelah puas kami melanjutkan perjalan untuk snorkling di spot selanjutnya.
15.39 Snorkling di spot ini membawa suasana yang lain dari sebelumnya karena terumbu karang yang ukurannya sangat besar dan cukup bervariasi. lokasi spotnya disekitar pulau patra bira dan di dekat kapal berhenti ada pulau berpasir putih yang nampak tak berpenghuni. Adik mencoba berenang hingga sampai ke pulau lalu balik kembali sedangkan saya merekamnya dengan kamera ponsel dari kapal sebelum ponselnya mati. Dari Pak Askar kami mendapat info bahwa di pulau itu sering menjadi tempat penyu yang berkembang biak berikut juga karakter terumbu karang yang cenderung besar nan indah sehingga kawasan ini masuk kawasan dilindungi. Tidak lama kami melanjutkan perjalanan karena baru tahu kalau kawasan ini harusnya kita rawat bersama. Begitu tahu, kami merasakan perbedaan betapa indahnya biota di bawah sana yang jarang tersentuh manusia. Benar benar alami.
16.35 Sebelum matahari tenggelam kami sudah sampai di destinasi selanjutnya. Pulau Bulat entah saya yang baru tahu kalau ternyata Pulau Bulat adalah rekam jejak keluarga cendana di kekuasaan era Soeharto. Cukup berjalan kaki 15 menit kami sudah mengelilingi seisi pulau.NAmpak ada bangunan dua lantai yang sudah dimakan usia. barang barang nya nampak ditinggalkan begitu saja. Acnya juga masih ada dan terlihat karatan. Setelah berselancar di inernet saya menemukan beberapa dokumentasi milik keluarga cendana yang sedang merayakan malam pergantian tahun baru di Pulau Bulat tahun 1986. Nampak almarhum Pak Harto dan Ibu Tien serempak menggunakan batik. Foto ini saya ambik dari akun instagram Ibu Tutut (anak Pak Harto).
Menurut Sumber dari kompas.com yang saya baca, di pulau ini Pak Harto memghabiskan waktu bersama keluarga. Beliau diketahui juga gemar memancing di laut. Sebagai pulau saksi bisu perjalanan almarhum tentu saya yakin tidak semua kalangan bisa berkunjung ke pulau Bulat dimasa itu. Sampai orde baru runtuh dan Pulau ini bisa kita kunjungi seperti sekarang.
di jam jam krusial ini saya masih harus berjibaku dengan aplikasi Jaketboat untuk memesan tiket tujuan kelapa - sebira sebelum kehabisan. di tengah tengah cakrawala yang semakin tenggelam di ujung akhirnya kami mendapatkan dua tiket untuk ke Sebira dari Kelapa. Padahal kami sudah siap pulang jika memang tidak mendapatkan Tiket ke Sebira. terlbih saya sudah pasrah dan menerima keadaan saja. dengan posisi yang sekarang saja saya sudah bersyukur sudah alam semesta menberika jalan kepada kami untuk melanjutkan hari demi hari tanpa sia-sia.
Hari Ketiga, Sabtu 30 Desember 2023
11.56 Setelah keberangkatan di pukul 10 pagi Akhirnya kapal Dishub mulai bersandar di dermaga Pulau Sebira. 2 Jam lamanya tak terasa karena kami benar benar beristirahat di kapal. Nampak dari kejauhan saya melihat lali-laki berkaos hitam yang sedang bermain ponsel duduk di teras rumah adat menunggu kami. Danny namanya, laki-laki berdarah bugis yang sejak lahir tinggal di Sebira. Selain mayoritas warganya berasal dari suku Bugis namun ktp mereka Jakarta. Jadi kalo kita ngajak mereka main ke jakarta, lah ini kita di jakarta cuman ya titik koordinat aja yang melenceng sedikit jauh.
Setelah berkenalan kami diantar menuju ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya dan dialah yang banyak membantu kami di pulau sebira ini. Penginapan Berkah namanya. Semoga sesuai dengan namanya, penginapan tempat kami tinggal ini jauh lebih bersih, lebih rapi, ada kamar mandi yang memadai dan beruntungnya kami di kasih kamar yang berhadapan dengan laut dan teras balkon yang cukup luas untuk bisa kami menjemur pakaian haha. Dari bawah Nene Alang dan lato (panggilan kakek dalam bahasa bugis) Gafar memanggil untuk menyuruh makan. Ternyata di bagian belakang ada pohon ceri yang dibawahnya banyak meja dan kursi untuk makan dan ada saung juga disediakan untuk kita makan. Bebas mau makan dimana kata nene Alang. Lato Gafar semangat bercerita dengan Nenek tentang Sebira, dan ternyata Danny masih mempunyai hubungan saudara dengan Nene dan Lato.
Disini kami menyewa 1 kamar berikut 3 kali makan seharga 500 ribu untuk 2 orang.
Ditengah tengah bersiap untuk eksplor setelah makan siang ada empat orang keluarga yang menyewa kamar di penginapan yang sama. Setelah mengakrabkan diri mereka hendak spearfishing di malam hari. Gayung bersambut dan adik tertarik untuk bergabung namun karena perlengkapan nya kurang memadai seperti head lamp dan baju diving jadi segera mengurungkan niat dan kami kembali ke rencana awal saja.
13.49 Banyak perbedaan yang saya temukan disini. Pulau nya tidak terasa padat penduduk. perbandingan luas lahan dan warga yang tinggal tidak sepenuh di Pulau Harapan atau Panggang. Masih banyak lahan terbuka hijau dan lapangan luas untuk aktifitas warga. Bahkan ada tempat pengelolaan sampah juga yang tidak saya temukan di pulau sebelumnya.
Kami mampir disalah satu rumah penangkaran penyu setelah kami tanya ngalor ngidul oleh penduduk setempat. Karena sekitar 9 hektar saja luas Sebira ini jadi tidak kesulitan bagi kami menemukan titiknya. Dipandu Pak Agung Selaku yang pengurus segala kebutuhan di rumah penangkaran beliau banyak berbincang bagaimana menginisiasi penangkaran ini bersama warga setempat. Penyu yang ada di penangkaran adalah penyu sisik, penyu yang sudah sangat langka dan dilindungi. Kami berkesempatan melihat bocil bocil yang baru lahir tadi pagi kata beliau. Rencana besok pagi akan segera di lepas. Wah akhirnya kami membuat janji untuk bertemu kembali dengan Pak Agung untuk membebaskan Penyu ini kembali ke Laut Lepas.
14.44 Kami bertemu dengan Danny dan Rian untuk melanjutkan perjalanan ke Mercusuar satu satunya di kepulauan Seribu. Setelah membantu meminta izin penjaga kami masuk kedalam menara yang berusia jauh lebih tua dari usia kami semua haha.
ONDER DE REGERING VAN Z.M. WILLEM III, KONING DER NEDERLANDER, ENZ., ENZ., ENZ., OPGERICHT VOOR DRAAILICHT, 1869.
Jika diterjemahkan, tulisan itu berarti ”Di bawah kekuasaan (Raja) ZM Willem III dari Belanda, dan lain lain (dll), dll, dll, didirikan untuk suar lampu pendar, 1869.”
Di era pemerintahan Willem III banyak membuat dan membangun Mercusuar yang tersebar disluruh Nusantara. Menurut artikel sumber dari kompas.travel menara ini dibuat di pabrik logam NV Koninklijke Nederlandsche Grofsmederij di Leiden, Belanda, 1867.
Sebelum mencapai atas, kami menaiki 210 anak tangga yang sudah berkarat, keropos dan beberapa anak tangga ada yang sudah diganti karena tidak layak. Begitu juga kondisi pegangannya. Memang butuh usaha yang keras dan lumayan ketar ketir dengan kondisi besi baja yang sudah nampak karatan itu. Tapi itu semua terbayar ketika kita sampai. Tidak lama setelah kita membuka pintu akses ke balkon suara burung camar samar samar menyapa. Dari ujung cakrawala Matahari tidak lelahnya menyinari seisinya berikut dengan bias cahaya dari laut jawa yang menari nari diatas permukaan.
Kami cukup lama mengamati apa saja yang terjadi dari atas menara. Sembari menghirup udara Sebira yang bersih dan melepas penat.
Jika sempat, datanglah dan sapalah kehidupan di Sebira. Nikmatilah dan kagumi menara renta itu sebelum struktur bersejarah tersebut roboh karena diabaikan.
17.00 Kami sempatkan melihat biota laut walupun kondisi laut sedang surut. lagi lagi walaupun tadi siang diguyur hujan. langit cerah menampakkan kesombongannya di sore hari ini. semburat cahaya jingga nampak membias dari barat. Sebira membuat kami terpesona dengan keindahanya.
20.00 Setelah makan malam kami pamit Nene untuk pergi ke dermaga memenuhi ajakan nongkrong danny di dekat dermaga. Kami disana disambut hangat oleh warga setempat terutama teman teman danny pada malam itu yang datang memperkenalkan dan mengakrabkan diri. Malam itu obrolan sangat meluas seolah kita sudah mengenal lama padahal kami orang asing, cukup asing bahkan untuk tertawa bersama duduk menikmati kebersamaan malam itu yang sangat berkesan.
di belakang dermaga dibawah pohon pohon tua Sebira yang berakar kokoh, diatasnya kami menikmati malam bersama muda mudi Sebira. Ibarat kafe di jaksel yang lagi rame di Sebira juga tidak mau kalah. Walaupun listrik terkadang mati beberapa kali dalam sehari dan lokasi Sebira yang tidak dekat dengan Jakarta mereka meyakini bahwa mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan orang daratan. Banyak yang menempuh pendidikan di jakarta, mau itu pondok pesantren, sarjana apapun itu adalah pembuktian bagi diri sendiri kalau orang sebira tidak seterbelakang itu dengan segala minimnya akomodasi kesana.
Setelah larut malam kami berpamitan untuk segera istirahat karena besok selain kapal berangkat jam 8 pagi kami sudah harus bersiap ke Pak Agung untuk melepas bocil bocil penyu ke lautan lepas. ah senangnya .
Hari Terakhir, Minggu 31 Desember 2023
07.00 Tidak terasa waktunya kami berpisah dengan pulau tujuan kami ini datang juga. Setelah melepas Penyu dan Sarapan kami bergegas menuju ke dermaga berpamitan dengan Nene Alang, Lato Gafar dan anak dan menantunya siapa tahu di lain waktu kami berjanji akan kembali lagi.
Terima kasih Nene Alang dan Lato Gafar yang sudah kami anggap kakek dan nenek sendiri di Sebira. Danny juga terima kasih tanpa bantuanmu kami mungkin tidak bisa pulang karena tidak mendapat tiket balik.
![]() |
| Sebira dipagi hari dari balkon |
Kehangatan Pulau sebira inilah yang tidak kami rasakan di pulau sebelumnya. Perasaan seperti ini yang saya bawa selalu dalam tulisan saya. Kemudian jika mulai pudar saya tinggal membaca lembar demi lembar tulisan ini untuk sekedar kenang-kenangan. Dalam hingar bingar kepulauan seribu saya menemukan ketenangan, kehangatan sifat manusia yang tidak berlebihan, Haenim Sunim mempertanyakan apakah dunia yang begitu sibuk atau hanya pikiran saja? pikiran kita lah yang rumit yang berjalan tanpa arah dan berisik mencari jawaban, tapi terkadang jawaban itu sedang alam semesta siapkan atau bahkan sedang kita jalani sekarang tanpa kita sadari. Tuhkan kalo habis melakukan perjalanan ada aja quotenya hahaha. terima kasih





































Comments
Post a Comment