Sebuah Perjalanan - Bagian 1

Solo Trip to Bali (2-8 Desember 2018).
Bagian 1 : 2-4 Desember 2018
(Kuta, Ubud, Karangasem & Kintamani)


"Sebuah Perjalanan"
Minggu, 2 Desember 2018
     7.30 saya sampai di Bandara Soekarno Hatta, perjalanan sesuai ekspektasi. Keberangkatan pesawat dengan maskapai Air Asia 9.25 pun sesuai jadwal. Jalanan lancar seperti halnya hari minggu pada umumnya walaupun hari ini di beberapa tempat akan lebih padat karena ada reuni demo 212. Perjalanan yang sesungguhnya pun telah dimulai, persis ketika kaki saya menapak keluar pagar rumah.

Pemandangan sebuah Gunung dari pesawat

     12.30 akhirnya bisa keluar dari kedatangan bandara Ngurah Rai dan langsung cari makan siang di sekitar bandara. Solaria ok lah buat backpacker ya walaupun nggak backpacker amat hehe.
     13.00 saya putuskan pamit undur diri sembari pesan angkutan aplikasi, berhubung saya lumayan ketar-ketir juga karena kehadiran angkutan aplikasi ternyata masih saja belum bisa diterima oleh beberapa pihak di bandara. Tapi syukur lah ternyata masih aman.
     13.30 sampai di Perama Tour Kuta. Sembari menunggu shuttle pukul 16.30 menuju ke Ubud, saya jalan kaki ke pantai Kuta. Tidak lebih dari 10 menit sudah sampai, tapi tergantung seberapa cepat langkahmu hehe. Ada sedikit drama sebelum berangkat menuju pantai Kuta, jadi salah satu pegawai tidak memperbolehkan saya jalan ke pantai kuta karena dia takut saya nanti ketinggalan shuttle, baik banget ya wkwkwk sampe petugas yang lain heran,  mas pegawai ini kok posesif sama saya. Padahal yang lain ngebolehin asal jam 15 menit sebelum keberangkatan sudah sampai di kantor Perama Tour.

Cerita di jalan Poppies
Ini juga ngakak sih keinget waktu jalan menuju pantai kuta lewat jalan poppies banyak yang tiba-tiba manggil "mister-mister" yang nawarin baju lah, tatto lah sampai ada loh mbak-mbak salon yang nawarin pijat  wkwkwkk kirain bule belakang yeekan, lha ternyata cuma diriku toh. Dasarnya juga receh, pas ngeh mereka manggil diriku mister sontak saya cekikian . Lha kulo niki wong jowo tulen e hehe. Saya kira cuman dititik itu aja yang orang-orangnya halu,  eeeh di beberapa tempat mau sampai pantai pun juga masih aja diriku di panggil mister, duh ini pertanda harus banyak-banyak makan micin kali ya biar kelihatan WNI nya hahaha #satiredikitbolehlaaah.
     15.00 kok saya tiba-tiba sudah bosan dengan hingar-bingar sekeliling pantai kuta, tapi keindahan pantainya tidak pernah membuat saya bosan.




Saya cukup habiskan duduk di bibir pantai melihat keagungan pantai yang tersohor itu, jalan-jalan beli ice cone di Mcd dan sampai lagi di Perama Tour sekitar pukul 15.30
     16.40 berangkat menuju Ubud. Beruntungnya kursi di deretan saya kosong, total ada 6 orang di dalam shuttle bus. 1 turun di KFC Sanur dan sisanya turun di Perama Tour Ubud di Jl Pengosekan berikut juga daku.
     17.55 sampai di Perama Tour Ubud dan saya langsung di jemput Pak Made menuju penginapan.





Memasuki gang saja sudah disuguhi pemandangan indah khas ubud

Saya menginap di sebuah Homestay milik seorang pelukis terkenal di ubud :) . Beliau adalah... rahasia hehe akan saya ceritakan di hari terakhir.


"Saya & Karangasem"
Senin, 3 desember 2018
     08.00 Pak ngurah sudah menunggu saya dengan mobil avanzanya dari gang kecil arah masuk penginapan yang cuman bisa di lewati motor. Saya pun sudah siap menelusuri keindahan karangasem hari ini dengan jasa pak ngurah. Sepanjang perjalanan pemandangannya bagus banget. Mulai dari perbukitan-sawah-hutan-pantai-perbukitan sampai ketemu pantai lagi.



Mulai hujan-panas-hujan sampai saya berdoa semoga sampai pura lempuyang hujan berhenti.
     10.00 tepat saya menginjakkan kaki ke salah satu tempat sakral yang tersohor di karangasem yaitu di Pura Lempuyang. Berhubung kabut sedang datang, gunung agung yang menjadi pusat perhatian pun tidak terlihat. Tapi tujuan saya nggak cuman foto di gerbang fenomenal itu tapi menikmati detail ukiran dari tiga pintu gerbang pura yang seolah mengeluarkan 6 ekor naga Antaboga (tokoh naga dalam pewayangan Jawa) dari dalam pura.





     11.20 Saya dan Pak Ngurah sampai di Tirta Gangga, sebuah taman indah dengan jernih dan suara gemercik air yang membuat saya tentram. Menurut website www.tirtagangga.nl komplek tersebut dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem terakhir yaitu Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem (1887 - 1966). Apa yang saya rasakan pada saat itu persis dengan tujuan beliau membangun Tirta Gangga, sungguh sebuah peninggalan yang masih dapat dinikmati oleh banyak orang hingga sekarang. Waktu saya menginjakkan kaki di kolam Mahabharata terdengar suara orang berteriak dari salah satu sudut kolam, ternyata HP seorang wisatawan asing tercebur dan yang mencuri perhatian adalah anaknya yang kira kira masih usia 10 tahun nyemplung seketika ngambil di dasar kolam, waaah heroik sekali ya sontak semua langsung tepuk tangan. Hahaha . Yang bikin saya kaget adalah ternyata kolam ini cukup dalam, anak yang kira kira tingginya lebih dari satu meter tadi benar-benar tenggelam seluruh badan. Kalau di lihat dari atas kok kayaknya tidak terlalu dalam.







     12.25 tiba di Taman Ujung. Jujur saya senang sekali karena tempatnya sepi, tapi saya yakin tidak bagi pengelola tempat wisata ini.  Memang tidak banyak yang bisa dinikmati selain taman, kolam dan beberapa tempat yang punya spot foto bagus tapi sejarah mencatat bahwa tempat ini dibangun pada tahun 1919 dan selesai pada tahun 1926 oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem (Raja Karangasem). Dari bangunannya ada yang ganjal, saya tidak terlalu merasakan arsitek bali seperti yang saya rasakan di sebelumnya. Menurut website www.ujungwaterpalace.com menyebutkan bahwa ada unsur Eropa, China dan Bali pada setiap bangunannya ini disebabkan Sang Raja sangat menekuni ajaran sastra dan agama. Beliau adalah seorang sastrawan, seniman dan arsitektur. Bangunan yang di bangun pun merepresentasikan simbol-simbol pemerintahan yang baik yang diambil dari ajaran Nitisastra. Sebuah pesan yang sangat mendalam.









Tiba-tiba saya ngefaaaans sama beliau. masih adakah anak jaman now yang seperti beliau? Kalau ada kita follow-followan instagram yuk hahaha.
     13.35 menginjakkan kaki di pantai Bias Putih atau yang lebih di kenal dengan nama pantai Virgin Beach. Kesan pertama yang terlintas pada saat itu adalah jernih air pantainya dibanding yang saya lihat di Kuta dan ada pohon kelapanya, jadi afdol lah kalo ke pantai ada pohon kelapa nya begini. Ombak besar khas akhir tahun ini tidak menyurutkan untuk lari-larian di bibir pantai.






     14.09 cukup beberapa menit saja saya sudah sampai di bukit asah, jadi bukit asah ini adalah lokasi perbukitan yang terletak diatas pantai virgin beach, ada tempat berkemahnya juga. Waktu saya pejamkan mata sekejap di bukit asah serasa ada dua sayap raksasa yang tiba tiba mengepakkan sayap hahaaha halu. Terlihat sibuknya lalu lalang kapal cepat yang beroprasi dari padang bai mungkin juga dari pantai amed.






     14.42 sebelum balik dari bukit asah saya sengaja berselfie dulu dengan pak ngurah untuk kenang-kenangan. Terima kasih Pak untuk hari itu.




"Lembayung Ufuk Timur Gunung Batur".
Selasa, 4 desember 2018
     02.19 pagi dini hari driver dari tour yang sudah saya pesan sebelumnya sudah menjemput dan pak made pun ketuk-ketuk pintu kamar. Saya semobil bertiga dengan 2 turis asal jerman. Kalo lihat jalanan berasa jemputan shift 1 sih hahaha (mana suaranya anak NET haha). Yang beda ini 1 jam lebih awal sama kalau di jakarta kanan kirinya rumah dan gedung, kalau disini kanan kiri hutan (yaiyalah namanya juga menuju gunung)
     02.30 saya, Luna dan Catharina berhenti di sebuah tempat untuk sarapan sebelum menuju tempat pendakian. Setelah perkenalan singkat, mereka ini baru umur 18 tahun. Ini adalah pertama kali mereka mendaki begitu juga saya. Mereka bercerita kalo mereka anak yang manja dan malas, setiap weekend pasti cuman habis waktu di kamar sembari nonton netflix. Tapi semanja apapun itu setau saya kalau sudah berani keluar dari zona nyamannya dan sekarang ada di Bali sepertinya itu sudah hebat sih. Apalagi bentar lagi mau mendaki.
     03.15  Kami sampai di tempat pendakian. Mulai mendaki di pandu dengan mbak Jero sebagai guide.  Sepanjang perjalanan langit berhias gugusan bintang dari galaksi bima sakti terlihat dengan jelas dengan mata kami tidak dengan kamera gadget kami, jadi ya sudahlah.
Jalur aspal awal pendakian 

 Awal perjalanan medan masih berupa jalan aspal menuju ke atas makin lama makin menanjak cerita-cerita lucu Luna perlahan berganti suara nafas yang ngos-ngosan 2 kali kami istirahat selama 2-3 menit saja karena kami takut tertinggal matahari terbit. Jalur penanjakan yang sebenarnya pun di mulai, waktu mbak Jero bilang sepert itu ke kita, sontak kaget dong. Lha jalur aspal menanjak sejauh hampir 2 kilometer barusan belum ada separuh perjalanan ternyata. Dari tempat kita berada, lampu senter para pendaki seolah menerangi dari kejauhan. Dari sana saya masih belum bisa membayangkan seberapa lama lagi. Begitu penanjakan yang sesungguhnya, luar biasaaaa jalurnya terjal, bebatuan, banyak pasir dan dengan kemiringan yang cukup curam tidak ada semacam tangga ataupun pegangan yang ada kita bantu membantu saling pegang bebatuan yang ada di sekeliling. Ada hampir sejam lebih kita mendaki hingga di tengah-tengah menuju puncak Tapi tak kunjung sampai. Beberapa kali kita berpapasan dengan rombongan turis. Drama pun dimulai. Di tengah-tengah rombongan yang istirahat ternyata saya tersesat entah ngikut rombongan yang mana hahaha. Anehnya mungkin mbak jero ngira kita masih beriringan di belakang padahal saya tertinggal di belakang bebarengan rombongan lain. Saya sih santai, dengan pedenya saya dahului rombongan yang memisahkan kita itu. Saya ambil jalur gak tau yang mana yang penting kalau ada batu didepan mata itu jalannya, bayangkan, setiap orang di bekali dengan satu senter, sekeliling gelap, paling kita cuman bisa lihat sejauh cahaya senter, cuaca kok ya pas cerah, coba kalo hujan malah lebih gawat lagi. Beberapa menit saya baru sadar kok di depan saya tidak ada orang ternyata saya salah ambil jalur. Yang lain pada ambil kekiri lalu naik ke atas saya ke kanan entah kemana, dari situ saya sadar kenapa kok batu batu yang saya naiki makin lama makin berbentuk kerikil yang sekali injak runtuh dan makin terjal, nah langsung saya lihat kebawah. Wassalam ternyata seperti longsoran ke arah jurang. Sontak saya  langsung pasrah sambil cari pegangan buat saya merangkak ke arah sebaliknya dan untungnya sampai. Waaah kalo diingat-ingat lagi kayaknya itu keringat sudah tidak karu-karuan begitu juga perasaan saat itu. Ada sempat pikiran "kok gini amat ya" hahaaha. Susah lihat wajah orang saat itu karena cukup gelap. Saya masih belum ketemu Luna , Catharina dan mbak Jero pastinya. Sampai pada suatu pijakan tiba-tiba saya lihat mbak Jero diatas menunggu saya. Ternyata oh ternyata 2 orang yang katanya manja dan malas ini sudah main naik dulu ke atas aja. Gila ya ini mereka hahahaa. Weekend cuman nonton netflix tapi bisa segitu cekatannya ya mendaki. Saya sambil naik sama mbak Jero sambil cekikian gak jelas. Karena mereka mungkin sehari-hari banyak jalan kaki di negara asalnya.
     5.00 gak terasa waktu balik badan, cahaya matahari perlahan muncul. Tapi waktu balik nanya ke mbak jero masih 30an menit lagi. Yassalaaaaam, dari jalan aspal, aspal menanjak, batu-batu terjal menanjak, jalan berpasir, bertemu batu-batu menanjak lagi masih juga belum sampai. Rasanya pada saat itu mulai timbul keinginan terbang aja kali ya hahahaaaa. Saya paham semakin banyak nanya makin gak kelar-kelar, tapi kalo gak nanya kok ya gak nyampe nyampe yaaaaa dari tadi nih woooi kaki rasanya mau lepas.
     5.22 mbak Jero tiba-tiba bilang, 3 menit lagi sampai mas, walah senangnya waktu nengok keatas ternyata beneran ada 2 bocah Jerman yang sudah sampai duluan dan siap siap cari spot buat lihat matahari terbit.  Waktu balik badan ke arah matahari terbit. Saya kehilangan kata kata, kaki yang rasanya mau copot itu tiba-tiba seperti baru di ganti sama kaki lain. Rasa lelah dan campur-campur yang saya alami seketika hilang begitu saja.


     05.27 saya ambil foto pertama saya di puncak gunung batur 1717 mdpl, saking terharunya saya langsung ke arah Luna dan Catharina, kita pun senengnya bukan main dan gak percaya bisa sampai disini dengan cerita kita masing masing. Sembari menunggu matahari terbit, kami duduk dan Luna kembali bercerita bahwa ayahnya pasti bangga melihat dia berada disini. Saya pun lihat matanya mulai berkaca-kaca.

















Mbak Jero & nampannya yang tertinggal di atas puncak

Mbak Jero gak lama datang bawa sarapan buat kita, ada telur rebus dan dua lapis roti isi pisang yang cukup menghangatkan perut. Tiba-tiba ada alunan musik romantis yang makin lama makin kencang, kita mah awalnya santai , saya kira malah hapenya Catharina karena dia lagi sibuk foto foto.

Selamat ! ♡

Eh ternyata, persis di depan kita ada sepasang turis berduaan dan si pria sedang memberikan cincin ke wanitanya. Sambil diiringi musik itu, suasana yang mendukung dan kita semua terenyuh sampai air mata Catharina tiba tiba tes, tes tesss. Diikuti air mata Luna lalu saya cukup berkaca-kaca aja hahahaaa. Ikut senang dan terharu, awalnya mereka mau tepuk tangan sambil sorak sorai. Tapi saya melarangnya takut merusak momen mereka,  ABG bule ini selalu heboh ternyata haha. Gara gara itu kami terlena. Drama yang lain pun datang silih berganti hari ini, belum selasai disitu dari arah belakang Luna ada yang narik merebut roti yang dipegangnya. Walah hancurlah momen indah yang kita rasakan, kita jadi ngakak dan kesal.

Ini dia pelakunya



Ekspresi luna yang menjadi korban pencurian

Monyet-monyet ternyata berbondong-bondong datang ikut ke puncak, ternyata itu sudah biasa kata warga setempat. Mbak Jero dari ujung tiba tiba teriak, howalaah doi ternyata takut monyet hahaha.
     06.40 kami putuskan untuk turun karena
Tiba-tiba matahari mendadak terik diikuti dari kejauhan kabut yang mulai tebal. Diluar perkiraan kita melewati jalur dengan medan yang berbeda alias berpasir cuy, licinnya kalo kata Luna berasa surfing di sanur hahaa. Tapi lagi-lagi ini yang bikin geleng-geleng. Baru ngeh kalo ternyata Luna itu mendaki pake sepatu converse. Lha wong saya sama Catharina pake sepatu yang mendekati sepatu gunung aja masih terasa licinnya. Sudah gak terhitung kita bertiga terpleset, dari yang masih berdiri sampai jatuh duduk. Hahaha benar-benar perjuangan. Disela-sela perjuangan tak henti-hentinya kita berhenti menikmati pemandangan Danau Batur dengan segala keindahannya membentang luas dari kedua mata kita. Cukup menghibur lelah kita semua :)












     07.50 kita akhirnya sampai di titik dimana driver kita Pak Ketut Rudi menjemput. Kita sudah kelelahan di mobil sembari cekikian karena masih belum percaya apa yang kita sudah lakukan barusan hahahaa. Pak Ketut Rudi menyampaikan bahwa jarang beliau lihat turis domestik datang kesitu untuk mendaki paling-paling ya wisatawan lokal dari bali. Dia baru lihat saya , sendiri dan datang jauh-jauh dari Jakarta. (Hemm bapak perez nih).

Sampai jumpa Gunung Batur 

Perpisahan terjadi saat saya harus turun di homestay tempat saya menginap. Yang paling saya kangenin dari mereka adalah sikap positif dan semangat ala abg milenial jaman now. Bangga bisa kenal kalian. See you when i see you guys :)

Saya sangat bersyukur masih bisa diberi kesempatan menikmati tanda kebesaranMu. Di atas puncak saya adalah makhluk paling lemah dan sebagai manusia tidak sepatutnya kita menyombongkan diri karena hal yang duniawi. Ego, keluh kesah yang saya bawa teriris sedikit demi sedikit. Puncak gunung batur dan bias cahaya matahari itu seolah menuntun saya perlahan dalam perjalanan menuju manusia yang lebih baik lagi.




Berlanjut di Bagian ke 2

.....


Comments