Sebuah Perjalanan - Bagian 2
Solo Trip to Bali (2-8 Desember 2018)
Bagian 2 : 5-8 Desember 2018
(Kuta, Ubud, Karangasem, Kintamani)
(Kuta, Ubud, Karangasem, Kintamani)
"Keindahan Gianyar dalam Diam".
Rabu, 5 Desember 2018
Rabu, 5 Desember 2018
09.00 saya kembali memulai hari rabu ini dengan harapan cuaca cerah. Mengendarai motor matic honda vario yang saya sewa 3 hari kedepan. Motor diantar ke penginapan sekitar pukul 8.40, setelah sarapan saya bergegas tancap gas.
09.35 setelah isi bensin, akhirnya sampai juga di tujuan pertama, Pura Goa Gajah. Tampak dari atas tidak ada yang berbeda dengan Pura lain yang pernah saya lihat.
Tapi setelah saya tanya beberapa pemandu sekitar ternyata pura ini punya sejarah panjang. Dalam satu kompleks Pura terdapat dua pusat tempat suci keagamaan yaitu Hindu dan Budha. Agama Hindu terletak di bagian utara (atas) dan agama Budha di bagian selatan (bawah) dekat dengan aliran sungai.
![]() |
| Goa gajah |
Gajah berasal dari Dewa Ganesha merujuk pada agama Hindu warisan ajaran Siwa. Seraut wajah menyeramkan dengan mata yang melotot ke arah kanan yang menggambarkan Kala nampak jelas dibagian atas mulut goa. Dinding goa yang berhiaskan relief dedaunan dengan makhluk-makhluk yang bersembunyi diantaranya menggambarkan kesucian dan ketenangan kehidupan gunung dan hutan. Sebuah makna filosofis dari pahatan relief agar manusia hidup selaras dengan alam. Pada bagian depan goa terdapat situs pemandian yang di temukan oleh belanda kurang lebih tahun 1954. Sedangkan di bagian bawah, ada arca patung Budha yang sudah tidak utuh lagi, berupa reruntuhan yang diakibatkan gempa sekitar abad ke 10.
Waktu saya turun untuk mengabadikan reruntuhan dari balik batu-batu patung Budha, muncul seorang bapak-bapak yang sudah berumur sedang membersihkan aliran di pinggir. Melihat saya, beliau tersenyum dan melanjutkan lagi. Saya mendekat dan mencoba bertanya tentang sejarah tentang tumpukan batu-batu yang tidak saya pahami ini dan tiba tiba saya langsung diajak untuk mengikuti beliau. Waduh saya agak gimana gitu pada saat itu. Berhubung bapaknya ngeh kecanggungan saya, sontak langsung di pegang tangan saya untuk diajak menelusuri batu-batuan melewati aliran air yang jernih itu. Entah saya dalam hati yang awalnya ragu, kok langsung nurut aja. Waktu saya ulangi pertanyaan yang saya tanyakan, bapak ini hanya menjawab "nanti saya ceritakan" begitu ujarnya.
Akhirnya Sampai di salah satu sudut yang mirip goa dan beliau mengajak saya naik dan masuk ke dalamnya lalu mulai bercerita. Pak Gusti namanya dengan umurnya yang sudah 89 tahun beliau masih ingat semua cerita dan semangat menjawab pertanyaan yang saya tanyakan tadi. Disaat saya ingin bertanya lagi pak Gusti mengarahkan saya untuk bersikap yoga dan memejamkan mata. Berhubung saya berpikir ini akan buang buang waktu, saya hendak pamit undur diri tetapi ada sesuatu dalam hati yang menuntun saya untuk tetap tinggal sejenak disitu. Walhasil melihat sikap sempurna Bapak Gusti, saya pun mengambil sikap yoga juga dengan terpaksa.
Sesaat memejamkan mata saya masih kesal karena saya di bayang-bayangi perasaan akan buang waktu disini. 3 menit pertama ada yang aneh dalam batin yang hanya merasakan kesunyian, 5 menit kemudian suara-suara di kepala yang mengajak saya segera beranjak tiba-tiba hilang. Deras nya suara air terjun memenuhi telinga saya, batin saya seperti disiram dengannya dan mendadak terasa dingin dan sejuk, di pelupuk mata saya seperti menahan air mata yang hendak keluar, saya merasakan angin yang bertiup dari bongkahan batu merasuk di dalam kulit. Entah apa yang saya rasakan semakin lama semakin tentram. Karena tidak sanggup dengan perasaan itu saya langsung membuka mata, saya melihat jam sudah hampir 20 menit saya menutup mata disana. Pak Gusti yang sadar saya sudah membuka mata beliau melihat saya dan berkata, "Dek, semua pikiran kesal yang adek bawa dari perjalanan jauh itu harus dihilangkan". Saya paham apa maksudnya, mendadak kehabisan kata-kata. Saya memutuskan pamit dan tidak ingin berlarut-larut. Kemudian Bapak Gusti yang mengabadikan momen sesaat sebelum saya pamit.
Saya lanjut menelusuri bawah sungai, tapi tidak menemukan apa-apa jadi saya putuskan pamit untuk yang terkahir kalinya ke Bapak Gusti yang tiba - tiba muncul melambaikan tangan dari kejauhan celah reruntuhan batu. Terima kasih bapak Gusti, kembali saya merasakan beban yang terkikis sendirinya dengan perjalanan ini.
Di tempat ini tercermin bagaimana sebuah kerukunan dan toleransi umat beragama (Hindu dan Budha). Terlepas dari apa yang saya rasakan bersama Bapak Gusti, saya cukup belajar bahwa bagaimana kita sebagai manusia dapat mengelola segala macam bentuk perbedaan karena sejatinya setiap dari kita pasti akan kembali padaNya.
11.19 sampai di Pura Gunung Kawi dan disambut gerimis. Saya keluarkan payung dan sarung yang sudah saya bawa dari rumah untuk menjelajah Pura. Perjalanan turun mencapai Pura tidaklah jauh cukup berjalan kaki menuruni 315 anak tangga. Beruntung hujan gerimis reda saat saya sampai di situs. Berhubung kaki lumayan pegal sehabis mendaki kemarin saya jadi ingat ini apa kabar nanti saat balik ya hahaha.
Pura Gunung Kawi adalah peninggalan purbakala yang di bangun oleh Raja Udayana pada abad ke 11 berbentuk candi dari bebatuan yang dipahat. Situs candi terbagi menjadi dua wilayah, dari arah masuk gerbang terdapat 4 pahatan candi di bagian kiri dan 5 pahatan candi di bagian kanan di pisahkan oleh sungai Pakerisan. Setelah Sang Raja wafat Pura ini digunakan untuk memuliakan roh suci Raja Udayana. Saya terkesima dengan candi ini bagaimana nenek moyang kita memahat candi dari tebing dinding batu padas dengan memikirkan betul-betul setiap lengkung yang dibuat untuk menghindari erosi tanpa mengesampingkan estetikanya. Keunikan lain yang membuat saya kagum adalah candi ini berbeda dengan candi yang sering saya lihat pada umumnya dimana biasanya terbuat dari struktur bata merah atau batu gunung yang disusun tapi candi ini di pahat dipinggir sungai. Sungguh menakjubkan, rasanya kembali saya ingin berterimakasih pada nenek moyang yang sudah membuat saya tidak berhenti kagum.
12.20 dalam perjalanan menuju tegalalang saya sempatkan mampir untuk makan di sebuah warung di depan persis sebuah SMP. Saya di tawari ayam suir calon namanya dan ayam tom kata ibu penjualnya. Semacam sate lilit bali daging ayam beserta tulang muda di cacah berikut parutan kelapa, tapi di kepal bulat seperti bakso dengan kuah bumbu rempah. Rasanya wenaaaak pol hahaha. Perut kenyang hati senang tapi kaki masih berasa pegal hahahahaahahaha.
13.10 cuaca sangat cerah di Tegalalang padahal waktu perjalanan tadi awan mendung membayang-bayangi. Pas lah karena untuk menikmati Tegalalang butuh cuaca yang cerah. Jujur saya kurang informasi akan bagaimana sejarah terbentuknya atau dibentuknya kawasan terasering ini. Karena ada beberapa orang yang mengatakan bahwa sawah ini hanyalah buatan untuk wisata bukan untuk bercocok padi secara alami, waktu saya menjelajah dari ujung ke ujung saya masih menemukan beberapa petak yang penuh gabah dan ada beberapa petak padi yang menguning ada juga beberapa petak lagi yang terlihat kosong dan baru ditanam, tapi apapun itu saya cukup menikmati keindahan sawah dan pemandangan nya karena tidak ada di kota-kota besar sawah dengan terasering seindah ini.
14.00 sampai di tujuan terakhir untuk hari ini. Sacred Monkey Forest Sanctuary atau yang biasa disebut Monkey Forest. Adalah hunian tempat tinggal ratusan kera yang di kelola oleh swasta. Cukup menarik dengan konsep "Tri Hita Karana" yang di tawarkan. Sangat menggelitik walaupun kera nya bukan tujuan saya. Dalam komplek Monkey Forest terdapat 3 pura yang sudah ada sejak abad ke 14, yaitu Pura Dalem Agung, Pura Beji dan Pura Prajapati.
15.23 hujan turun dengan derasnya. Payung andalan menyelamatkan lagi. Tapi tidak cukup membantu. Karena saking derasnya, walhasil saya mencari tempat berteduh di salah satu bangunan di dalam komplek Monkey Forest. Pura Beji adalah salah satu pura yang membuat saya penasaran karena pura ini salah satu Pura yang digunakan untuk melukat, yaitu pembersihan lahir dan batin secara spiritual berikut juga jembatan menuju ke Pura Beji dengan ukiran naga yang seakan dihujani akar pohon beringin yang amat besar semakin menambah mistis tempat tersebut. Seketika pengunjung berlarian karena hujan tapi karena buat saya Hujan bukan berarti alasan, dengan pede nya saya tetap jalan dikala hujan deras petir menyambar-nyambar. Setelah beberapa waktu lamanya baru sadar bahwa saya seorang diri berjalan di sekeliling kompleks. Mengetahui hal tersebut agak serem juga ya hujan deras, petir, pohon-pohon besar yang tinggi menjulang. Akhirnya saya urungkan niat untuk eksplorasi lebih jauh lagi. Walaupun saya akhirnya foto fotoin juga tuh monyet-monyet haha karena yang awalnya tidak tertarik, malah jadi ketawa ketiwi sendiri lihat ulah mereka.
![]() |
| Sesudah hujan reda |
Hujan deras berlangsung lama, jam menunjukkan pukul 17.00 saatnya harus pamit undir diri. Mengakhiri hari ini dengan berhujan-hujan, pulang pun kedinginan walaupun sudah pakai jas hujan dan payung baju tetap saja basah.
"Debur Ombak Blue Lagoon".
Kamis, 6 Desember 2018
9.37 akhirnya sampai di lokasi yang bayak orang sebut sebagai Hidden Canyon Beji Guwang di Kabupaten Gianyar. Sekitar 30 menit dari tempat saya menginap. Agak kaget waktu baru sampai, ini kok sepi sekali apa mungkin memang lagi sepi. Ternyata tempat wisata ini sedang tutup dikarenakan air yang sedang tinggi. Ok tidak masalah berarti belum rezeki. Berhubung saya penasaran berapa tiket masuknya ya jadi saya tetap masuk walaupun bapak yang di depan manggil manggil kalo sedang tutup hahaaa.
![]() |
| Price list package Hidden Canyon Beji Guwang |
Di loket memang kosong tapi waktu saya mendekat ada yang menghampiri dan akhirnya memberikan informasi yang cukup buat saya. Ok saatnya lanjut ke tempat berikutnya.
11.05 saya sampai di Blue Lagoon Beach, jarak tempuh dari Hidden Canyon sesuai peta aplikasi 45 menit dengan motor tapi kalau dari Blue Lagoon kembali ke penginapan butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan motor, berhubung saya sempat berhenti cari makan dan isi bensin serta nyempetin foto karena pemandangan jalanannya bagus walhasil waktu tempuhnya agak lama. Jujur di motor saya berasa nyetir cuman 30 menit haha saking menikmati alamnya. Cukup membayar Rp 5.000 rupiah untuk parkir dan saya langsung bisa menikmati Blue Lagoon Beach.
Jernihnya air dari bibir pantai pun dengan kacamata selam yang saya bawa dari rumah cukup terlihat ikan-ikan berwarna dan beberapa biota laut lain yang sedang makan di sekeliling terumbu karang. Saking senangnya saya sempat teriak di dalam air hahahahah. Sungguh Indahnya pemandangan yang saya lihat dengan mata saya. Dekat bibir pantai, karang yang saya injak sebagai pijakan di dalam air pun bukan karang tajam dan berbahaya seperti yang biasanya muncul di pantai melainkan karang yang halus seperti lantai marmer dan beberapa ditumbuhi biota laut. Justru yang membuat saya sedih malah ada beberapa sampah yang mengotori dan melayang-layang saat saya snorkling walaupun tidak banyak, sampah tetaplah sampah. Kalau biasanya saya update untuk melihat keindahan dan gemerlap fashion di mall-mall ibukota dan megahnya runway di berbagai pagelaran sekarang saatnya saya menyadarkan diri bahwa tak selamanya yang membawa kemewahan itu selalu membuat hati bahagia.
Selamat snorkling :)
"Berjalan Menelusuri Ubud".
Jumat, 7 Desember 2018
13.30 setelah makan siang di dekat penginapan, saya menyandarkan motor di pinggir Jalan Raya Ubud. Hari ini adalah hari dimana saya cuman ingin jalan-jalan santai menikmati Ubud. Begitu juga di jadwal yang sudah saya buat sebelumnya hehe. Jadi dengan alasan apapun tidak ada alasan tiba-tiba sok ide kemana atau ngapain. Karena dalam hati sudah ingin santai tapi kalau lapar mata yo tidak ada habisnya.
13.44 cukup jalan kaki beberapa meter saya sampai di Ubud Palace, di perjalanan menuju ke Ubud palace saya sebenernya agak kaget melihat banyaknya turis dari berbagai macam belahan dunia datang ke sini, sangat ramai dan berbeda jauh dari daerah tempat saya menginap. Hampir sama persis dengan di daerah kuta, mulai dari cafe, butik dan kios dengan segala macam pernak-pernik nya menghiasi jalanan pusat Ubud ini.
Hingar-bingar nya lagi-lagi Tidak ada yang menarik buat saya oleh karena itu saya meletakkannya di daftar akhir perjalanan hehehe. Disini mata saya seperti tidak lepas dari keindahan arsitektur dari Ubud Palace yang berseni tinggi dan sangat klasik. Seperti ada semacam pakem dalam setiap detailnya. Sampai saya lupa mengabadikannya. Tjokorda Gde Agung Sukawati (1910-1978) adalah Raja Ubud yang berperan besar dalam memajukan pariwisata di Ubud. Entah apa yang ada di dalam benaknya, pemikirannya sangat revolusioner pada kala itu. Beliau tidak kaku dengan sesuatu yang bersifat baru. Nanti akan saya jelas kan lebih detail di tujuan selanjutnya.
![]() |
| Ubud Palace |
13.49 beberapa menit berjalan pun sampai sudah di Pura Taman Saraswati. Pengennya sih ketemu Dewi Saraswati hahaha berhubung beliaunya di khayangan sana jadi daku mau salam salam aja #halu. Tempat ini adalah tempat pemujaan masyarakat setempat terhadap Dewi Saraswati, Dewi ilmu pengetahuan. Bangunan dengan segala ukirannya tak kalah apik dan klasik. Ada kolam lotus yang di pisahkan sebuah jembatan menuju ke arah tengah Pura.
![]() |
| Pura Taman Saraswati |
14.00 saya sampai di tujuan berikutnya Museum Puri Lukisan. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 85.000 yang sudah include dengan welcome drink nya, saya disuguhkan hijaunya taman di bagian tengah kompleks Museum, terdapat 4 bangunan dengan 4 koleksi yang berbeda di dalamnya.
![]() |
| Tjokorda Gde Agung Sukawati (ditengah) |
![]() |
Museum ini tak hanya menyimpan lukisan tapi juga beberapa seni pahat milik seniman lokal bali. Sebelum museum ini didirikan, awalnya di bentuk lah sebuah perkumpulan gabungan dari beberapa seniman seperti
Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis asal Jerman, 1895-1942), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda, 1895-1978). Perkumpulan seniman ini disebut Pitamaha yang berdiri di tahun 1936. Kemudian pada tahun 1953, dibentuk Yayasan Ratna Wartha yang pada akhirnya mencetuskan gagasan mendirikan museum.
Raja Ubud yang saya ceritakan diawal adalah tonggak bagaimana rangkaian dari semua ini. Saya lanjutkan ceritanya, beliau saling berbagi dengan seniman terkenal dunia seperti, Wallter Spiece, Bonnet, Arie Smit dan Antonio Blanco. Dengan keterbukaan ini membuat banyak seniman lokal semakin berkembang tapi bukan berarti malah meninggalkan akarnya. Pada beberapa foto yang saya lihat di museum, beliau adalah salah satu Raja yang memberi kesempatan beberapa dari wisatawan untuk berkunjung dan bahkan menginap di Puri Ubud. Foto-foto beliau dengan para tamunya, segala kesederhanaan dan mau berbaginya seakan memberi aura positif bagi yang melihatnya. Nambah deh daftar idola saya.
15.55 menginjakkan kaki di sebuah turunan sungai yang kata seorang juru parkir ini adalah jalur menuju bukit Tjampuhan. Bukit Tjampuhan adalah tempat yang saya pikir hanyalah pilihan saja, berhubung ternyata waktunya pas menjelang sore jadi saya sempatkan cukup jalan kaki hanya 800 m dari Museum Puri Lukisan. Motor saya tinggalkan biar dapat feelnya jalan jalan di ubud padahal kalo ada tanjakan naik kaki ini masih berasa pegalnya.
Waktu saya lihat jalurnya ternyata melewati pinggir sungai, menyebrangi jembatan lalu akan naik anak tangga, wah melihatnya saya sudah merasa pesimis dikarenakan pegalnya kaki peninggalan mendaki kemarin. Walhasil saya naik lagi ke arah balik. Tapi dalam hati kok nanggung ya jadilah akhirnya tanya lagi sama orang. Eh saya kebablasan alias kelewatan cuy. Saya sudah melewatinya dari tadi ternyata hahaha. Jadilah saya kesana, perjalanannya sebenarnya santai, tapi kalau sampai ujung jarak yang di tempuh kurang lebih 2 kilometer.
Saya separuh aja cukup lalu balik lagi haha. Pemandangannya cukup membayar lelah kok tenang saja. ada yang bikin saya ngacir, sekumpulan remaja lokal yang semacam mau wawancara turis asing sembari bawa buku LKS menghampiriku sambil bilang "excusme". Hmm ketipu lah mereka hahaha. Langsung diriku ngacir sambil dada-dada. Hahaha maaf kan ya adek-adek. Bulemu ini agak sombong hahaha. Seolah sinyal untuk pulang, jadi sembari ngacir saya langsung balik saja lah. Masa mereka gak sadar sih saya ini WNI hahaha. Jadi sepanjang perjalanan pulang saya cekikian sendiri.
"Hari Terakhir"
Sabtu, 8 Desember 2018
13.40 saya diantar Pak Made menuju Perama Tour Ubud untuk transportasi menuju ke Bandara. Saya pilih karena lebih hemat, cukup Rp 60.000 untuk sekali jalan dan mendapat potongan 10 % jika menunjukkan tiket yang lama. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, helm lukisan karya Pak Made. Pak Made ternyata juga melukis tapi hanya disaat waktu senggang saja. Dilihat dari garisnya pun, ada ciri khas sang ayah dengan detailnya yang menjadi keunikan tersendiri. Saya baru sadar dan langsung bertanya saat dibonceng menuju Perama tour.
15.40 baru sampai Bandara. Disambut terbenamnya matahari, saya duduk menikmati.
Didalam perjalanan pulang saya menyempatkan bercerita tentang tempat saya menginap.
Didalam perjalanan pulang saya menyempatkan bercerita tentang tempat saya menginap.
Saya menginap di sebuah Homestay milik seorang pelukis terkenal di Ubud. Beliau adalah Ketut Madra. Di tahun 1974 karya beliau sudah melalangbuana hingga ke Fogg Art Museum di Harvard University dan di beberapa negara seperti Australia, Jepang, UK dan USA. Tidak hanya melukis beliau juga bermain rebab dan menari topeng. Semua sejarahnya tercatat di ketutmadra.com . Sayangnya dengan umur sekarang yang menginjak 85 tahun beliau sudah banyak lupa, sudah tidak melukis lagi. Kata Istri Pak Made pun kalau melukis sudah tidak sedetail dulu, waktu saya ajak ngobrol pun beliau paling hanya menjawab dengan tersenyum. Walaupun mungkin pemikiran beliau sudah termakan usia tapi tidak untuk fisiknya beliau masih tampak sehat dan selalu menyapa tamu-tamunya setiap pagi dan sore hari.
Pagi hari setelah sarapan, saya main di galeri seni nya bersama pak Made , anak dari Bapak Madra. Pertama mata saya melihat beberapa lukisannya, sudah jelas ciri khas beliau. Pak Madra adalah seorang pelukis tradisional wayang klasik. Mengacu sejarah panjangnya yang saya baca di buku biografi yang di tulis David Irons, beliau adalah pelukis wayang terakhir di daerah ubud. Hampir tidak ada yang menyamai segala pengetahuan tentang cerita pewayangan dan bagaimana beliau mentransfernya dalam bentuk lukisan dengan garis yang simpel namun seolah bercerita. Tidak mudah juga untuk detail, gradasi warna, bahkan kostum masing-masing karakter dan tokoh wayang itu tidak sama satu dengan yang lain, semua ada pakemnya begitu juga cerita yang disampaikan pun berdasar cerita dalam kitab-kitab tersohor seperti Mahabharata, Ramayana dan lainnya.
21.00 saya baru beli tiket bus damri di shelter bus Bandara dengan tujuan lebak bulus karena sekeluar dari kedatangan di Bandara Soekarno Hatta saya langsung cari makan dulu, lapernya gak ketulungan cuy.
22.00 dari lebak bulus saya naik taksi dan akhirnya sampai rumah.
....
Perjalanan sendiri ini seolah menjadi perjalanan yang yang paling menegangkan, mendebarkan, menyenangkan dan perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, tidak bisa diungkapkan walaupun entah kenapa di hari terakhir saya lha kok agak melow hahahaa. Refleksi diri tercermin di hari terkahir saat perjalanan akan berakhir, refleksi akan apa yang harus dirubah dan apa yang tidak dari pribadi ini. Segala pengalaman yang datang di luar ekspektasi saya dengan segala pernak-perniknya membayang di dalam sanubari dan tak akan terganti dengan apapun dan disini saya mencoba merekamnya ulang. Jadi kembali ingat waktu seminggu di homestay, saya seolah berada di tengah keluarga mereka dan saya banyak belajar dari perjalanan kali ini. Pembelajaran dari banyak hal baru yang saya temui. Sebuah perjalanan yang terkadang bukan melulu bagus tidak tempatnya di foto, atau untuk sekedar mempercantik media sosial saja. Sejatinya Itu semua adalah bonus. Ada kalanya disaat kita selesai melakukan perjalanan kita ambil pembelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Melakukan perjalanan sendiri saya kali ini bukan tanpa ekspektasi, awalnya saya mengajak beberapa teman tapi karena satu dan lain hal akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya sendiri karena saya kemudian ingin sendiri. Semua hal yang saya lakukan dari mulai tempat menginap, transportasi dan tujuan dari hari ke hari adalah dengan melakukan semacam research kecil jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak ada yang spontan begitu saja, semua terperinci dan terjadwal karena saya lebih nyaman begitu. Tempat-tempat destinasi wisata pun itu saya pilih yang saya banget haha & sesuai budget pastinya. Jangan lupakan tripod (berhubung saya lebih nyaman pakai tripod) untuk mengabadikan momen dan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan guide, orang sekitar untuk meminta difotokan. Saya berbagi semua yang saya alami tidak kurang tidak lebih untuk memberikan informasi, jika ada yang mau pergi dengan itenarary yang sama dengan yang saya buat pun monggo. Cukup senang mengetahui yang saya rasakan dapat teman-teman rasakan juga. Keluarlah dari zona nyamanmu untuk lebih mengenal dirimu, peduli sekelilingmu dan yang paling penting selalu bersyukur dengan semua pemberianMu.
Sebagai bonus ini rekaman video yang sudah saya edit :
kalau tidak sibuk, boleh lho mampir di Ardyan S Pratama
selamat menikmati :)
Sekian.



















































































Comments
Post a Comment